gapentingbanget dot com
Tengah Malam
Author: siapa“Hepi birthday ya…” katamu waktu itu.
Bukan kata itu saja yang ku ingat sampai sekarang. Tapi kecup iklas mu waktu itu yang masih terasa hangat menyelimutiku.
-titik-
read comments (4)Maaf, Aku Terlambat
Author: tigabelasJakarta, 12 Desember 2008
Maaf,
saat itu aku datang terlambat.
Dan lagi-lagi maaf,
surat ini pun mungkin datang terlambat.
Oops,
maaf.
Lagi-lagi aku telat menanyakan kabarmu. Dulu, kau selalu menggerutu kalau hal seperti ini aku lakukan. Katamu, cobalah untuk bersikap manis dengan menanyakan kabar. Katamu itu sederhana tetapi romantis. Dan setidaknya, terasa seperti kangen yang rilis.
Tapi, dulu aku gagu. Kikuk untuk bertanya tentang kabarmu dalam susunan kata yang berbeda setiap harinya. Entah, kenapa dulu aku begitu bodoh dan gampang jengah.
Aku ingat. Hari itu pertengkaran pertama setelah kita memutuskan untuk bersama. Mendung turun menjelang sore. Ponselku berdering. Aku gugup, jantungku berdegup kencang. Namamu ada di situ. Apakah kau tahu, saat itu, sebenarnya yang ingin kukatakan, ‘Hai! Ke mana aja? Kok baru telepon?’, tetapi, justru yang kutanyakan, ‘Hai! Kenapa?’
Kau marah. Kaubilang, caraku bertanya seperti orang yang terganggu. Bukan seperti seorang kekasih yang menunggu. Sejak saat itu aku menjadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ‘kenapa’ diartikan ‘terganggu’. Padahal dalam kamusku, ‘kenapa’ seperti sebuah sapaan apa kabar yang paling dasar.
Kita berdebat. Kaubilang aku hanya ingin berkelit. Mengapa memilih ‘kenapa’ dan bukannya sekadar berkata ‘hai’. ‘Tak masuk akal,’ katamu.
Andai kau tahu. Aku hanya berharap, satu kata tanya ‘kenapa’, bisa membuatmu bercerita tentang banyak hal daripada sekadar kata ‘Hai, Sayang’ di awal percakapan kita hari itu.
Dugaanku keliru. Tak ada percakapan seru hari itu.
Tapi, entahlah. Setelah itu, aku memilih menghindari kata kenapa. Satu ketika, perdebatan tentang kata ini semakin meruncing. Pada hari Rabu yang kelabu itu, kau bertanya padaku, ‘Eh, tahu nggak?’. Aku menggeleng lalu menjawab, ‘Nggak!’. Lagi, kau marah. Kaubilang, aku terkesan tak tertarik dengan ceritamu. Mampus! Bukan itu maksudku. Sungguh, saat itu aku hanya ingin berkelakar.
‘Nggak lucu,’ kau menjawab sengit. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab, katamu. Kadang, kalimat tanya dibutuhkan untuk memberi ruang bagi kita membuat pembicaraan menjadi lebih panjang.
Maaf,
dulu, sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.
Maaf,
untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat, barangkali.
Kalau mengingat itu semua, memang, harusnya surat ini aku awali dengan pertanyaan, ‘Apa kabar? Lagi sibuk apa?’. Kau pasti tak percaya, aku sempat menuliskannya. Lalu, merasa geli sendiri sehingga memutuskan untuk menghapusnya. Terlalu klise. Tepatnya, terlalu dibuat-buat.
Aku tahu pasti kabar terbarumu. Kau boleh tak percaya. Tanpa kau tahu, aku sering membuka Friendster-mu. Diam-diam mampir ke blogmu. Cemas karena berharap kau sedang online lalu sengaja meninggalkan pesan di YM-ku. Secara rutin, aku melihat kumpulan album fotomu ketika sedang surfing di internet. Bahkan, aku sering mencuri tahu kabar terbarumu dari beberapa orang teman yang tak pernah tahu kalau kita pernah begitu dekat.
Aku tahu kau membenciku. Setelah rasa cinta yang bergelora, aku menghilang dari kehidupanmu begitu saja. Tanpa kecupan di pipi dan ucapan selamat tinggal yang bisa kau kenang.
Malam itu, setelah satu tahun upayamu menghubungiku, kuputuskan untuk bertemu denganmu. Pada kafe yang temaram, duduk di kursi bar, dua gelas whiskey telah kauhabiskan.
‘Apa kabarmu?’ Kau yang memulai percakapan itu tanpa memandangku. Aku duduk di sampingmu.
‘Baik.’ Aku menjawab singkat. Untuk meminta maaf karena terlambat dari waktu yang dijanjikan pun tak bisa keluar dari mulutku.
Kau tersenyum. ‘Semakin kurus,’ sambungmu. Aku hanya balas tersenyum. ‘Dan masih tak bisa basa-basi,’ lanjutmu lagi.
Sungguh, andai saat itu kau tahu apa yang berkecamuk dalam diriku. Aku tahu, perasaan itu masih ada. Dan getarnya masih terasa. Saat itu, aku ingin menyapamu hangat seperti dulu. Tapi nyatanya, lidahku kelu. Aku kembali gagap seperti pertama kali ketika menjalin hubungan denganmu.
‘Mengapa setelah setahun ada di kota ini, kau tak menghubungiku?’ tanyamu. Aku tak menjawabmu. ‘Mengapa tiba-tiba menghilang?’ kejarmu. Ketika kau bertemu diam, kau pun bergumam, ‘Tak ada yang bisa mengubahmu. Bahkan aku tetap tak bisa menebakmu.’
Sungguh, itu malam yang berat untukku. Membiarkanmu berlalu.
Maaf, tepatnya, membuatmu merasa seolah aku tidak menginginkanmu.
Aku tahu, ini surat yang sangat terlambat.
Maaf.
Tapi, seperti surat ini, aku seolah selalu ditakdirkan datang terlambat dalam hidupmu. Apakah kau ingat, aku mengiyakan hubungan yang kautawarkan dua minggu sebelum pernikahanmu. Padahal, tawaran itu sudah setahun yang lalu kaulontarkan.
Saat itu kau tertawa. Aku menduga kau akan bilang, ‘Terlambat.’ Tapi, aku terkaget-kaget ketika kaubilang, ‘Mahal sekali harga hubungan ini. Tapi, terlambat tidak berarti buruk.’ Hanya dua minggu waktu yang kita punya. Dan kita tetap ingin menjajal. Menganggap ini seperti sebuah permainan seru sebelum kau terikat seumur hidup.
Kita tak pernah menduga kalau akhirnya kita bisa benar-benar saling jatuh cinta. Atau mungkin, justru aku yang tak pernah menduga, kalau aku bisa jatuh cinta kepadamu sebegitunya.
Dua minggu ternyata tak cukup. Kita terus berjalan. Sampai tiba hari di mana perempuan itu meradang. Dan aku menjadi bimbang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu. Aku bahkan tak memiliki hak apa pun atas dirimu. Bukankah awalnya bagi kita, semua ini hanya permainan? Harusnya, tak perlu ada yang sakit hati dalam sebuah permainan. Harusnya semua merasa puas, bukannya menjadi buas. Berdua memang masih terasa menyenangkan. Namun, tidakkah bertiga terasa terlalu sesak? Harus ada yang menyingkir. Dan kesempatan bukan milik orang yang terlambat.
Kuputuskan saat itu meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Menghilang tanpa meninggalkan sesuatu yang manis untuk kau kenang. Ini lebih memudahkan untuk kita berdua.
Entah, mengapa semua yang terjadi di antara kita serba terlambat. Kata orang, cinta tidak pernah salah. O, yeah. I agreed. Tapi, tolong, tambahkan, sayangnya, ia bisa datang terlambat.
Maaf,
aku datang terlambat,
dan pergi tanpa pamit.
Maaf:
untuk semua yang terlambat.
*) tulisan ini dimuat di buku ‘Kepada Cinta’ terbitan GagasMedia bersama 9 penulis lainnya dan 25 pemenang sayembara menulis GagasMedia
read comments (2)cinta.
Author: tigabelascinta.
hanya itu kata yang ingin aku bilang kepadamu,
hari ini.
read comments (4)Raditya Dika dan Pertanyaan Trivia Quiz-nya
Author: tigabelasSORE itu, Raditya Dika, si penulis komedi, datang sambil tersenyum malu-malu kucing ke kubikel saya.
Tata, salah satu anak Bukune yang ada di depan saya sudah menahan senyum sejak tadi. Sebelum Radith menghampiri kubikel saya, Tata sudah lebih dulu keluar dari ruangan Bukune dengan ekspresi menahan tawa. Tata menceritakan apa yang barusan terjadi di dalam.
Belum selesai saya mencerna cerita Tata, tawa membahana teman-teman Bukune dan tawa sumbang Radith terdengar. Lalu tak berapa lama, ia keluar dari ruangannya untuk menghampiri saya.
‘Mbak W, aku baru tahu loh yang soal si A dan si R,’ konfirmasinya. Cerita tentang si A dan si R ini ada di tulisan Note saya terdahulu yang berjudul ‘IS: Semua Mata tertuju Kepadamu’.
Saya mendelik. ‘Heh? Emang nggak pernah tahu?’ Kepercayaan diri saya mulai naik. Ternyata ada yang lebih kuper dari saya nih.
‘Nggak. Terus begonya lagi, aku tanya “Siapa si R itu” sama R-nya sendiri,’ terang Radith. Tawa Tata dan saya meledak berbarengan.
Radith garuk-garuk pantat.
***
Begitulah Radith.
Pembaca menganggap dia lucu. Saya dan teman-teman di Gagas-Bukune mungkin sudah tidak bisa lagi tertawa membaca tulisan Radith. Bukan karena tulisannya tidak lucu. Bukan. Tapi karena, in the real life, banyak hal tentang Radith yang lebih bisa kami tertawakan, meskipun saat itu jaaauuuh dari lucu. Dan Radith-nya pun tak bermaksud melucu.
Kalau saya ingat-ingat, ada banyak kejadian dengan Radith yang membuat perut saya sakit karena menahan tawa. Satu ketika, kami pernah melakukan perjalanan dengan mobil menuju Purwokerto untuk talkshow. Di dalam mobil, ada beberapa orang lainnya seperti Mas Fuad, Pak Tan, Pak Hikmat, Mbak Maurin, dan Pak Yayan
Ceritanya, kami harus bedol Montong 57 (markas besar kami) untuk mengisi acara di sebuah pameran buku yang diadakan Buka Buku. Di dalam perjalanan itulah terungkap kalau Radith sama sekali tak pernah tahu seperti apa rupa pohon salak. Kontan satu mobil tak percaya.
Namun, ekspresi bego Radith akhirnya membuat kami menerima kenyataan pahit itu. Radith tidak tahu pohon salak. Dan ia juga tak pernah tahu seperti apa pohon nanas.
‘Aku selalu berpikir nanas itu menggantung di pohon seperti mangga,’ tegasnya. Sampai sekarang, setiap kali ditanya tentang flora, dan dia tidak tahu rupanya, Radith selalu menjawab, ‘Lagian apa pentingnya coba tahu pohonnya kayak apa?’
Uji pengetahuan ini ternyata masih terus berlanjut. Hari terakhir di Purwokerto terungkap pula sebuah fakta. Selama ini Radith mengira, Purwakarta itu Purwokerto. Layaknya orang Jawa, a itu dibaca o. ‘Iya, kan, Mba W?’ Ia berupaya mencari dukungan. Pastinya saya nggak hanya tertawa, tapi juga menggeleng dengan tegas.
Tapi nasi sudah jadi bubur. Ia mengucapkan itu di atas panggung ketika talkshow. Kontan saja semua penggemar asal daerah Bayumas dan sekitarnya yang datang—jumlahnya ratusan—teriak protes. ‘Purwokerrrrtooooo!’
Radith terdiam. ‘Loh, bukannya sama?’ tanyanya kepada audiens.
‘Beeeeeedaaaaaa!’
Lagi, dia garuk-garuk pantat di atas panggung.
Selesai acara, Radith segera menarik saya dan Mbak Maurin menyingkir ke sebuah kafe. Dia masih terus mempertanyakan soal Purwokerto dan Purwakarta. Saya pikir di panggung dia sedang melucu. Ternyata dia serius.
Dan lagi, saya harus menerima kenyataan pahit itu. Pengetahuan geografi Radith cekak.
‘Mbak, emang beneran beda?’
‘Purwokerto di Jawa Tengah, Purwakarta masuk Jawa Barat,’ terang saya. ‘Ada lagi Purworejo.’
‘Heh ada lagi yang lain?’ Matanya mendelik.
‘Itu di Jawa Tengah, Dith. Deket Yogya. Sekitar 2 Jam kalau pakai mobil.’
Mukanya tetap nggak terima. ‘Kenapa sih kasih nama aneh-aneh. Aneh ya?’
Kali ini saya memilih nggak menjawab selain menahan kentut.
***
Saya bukan hendak mengumbar kebodohan-kebodohan yang dilakukan Radith. Radith itu pintar. Dan serius. Serta sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan ‘absurd’. Tapi karena serius itu saya dan teman-teman di Gagas-Bukune kerap tertawa.
Pernah, di sebuah kafe, masih di Purwekerto, saya, Radith, dan Mbak Maurin sedang makan sambil menikmati nyanyian sepasang penyanyi kafe.
Penyanyi yang cowok, berperawakan kurus. Kepalanya ditutupi dengan topi ala rasta. Kepalanya digerak-gerakan ke depan-belakang. Untuk ukuran tubuhnya yang kurus, topi yang ia kenakan membuat kepala terlihat jauh lebih besar dan tidak proposional.
Kami semua diam. Tidak ada yang bercakap. Konsentrasi penuh menikmati hiburan yang ada di depan kami.
‘Kok kepalanya kayak deodorant ya?’ celetuk Radith tiba-tiba. Radith melihat ke arah penyanyi dengan mimik serius. Lalu ia menirukan gerakan kepala penyanyi itu sambil mengangkat sebelah ketiaknya. Memberi gambaran seperti apa kepala deodorant itu kalau dipakaikan di ketiak. *)
Saya dan Mbak Maurin tertawa terbahak-bahak.
Pertanyaan-pertanyaan dalam hidup Radith terus berlanjut. Seperti Dora, The Explorer, Radith juga terus melakukan eksplorasi untuk pengetahuan yang baru saja ditemukannya.
Misalnya, ternyata telur asin itu terbuat dari telur bebek.
Hari itu, tak biasanya ia datang awal. Saya yang lagi serius dengan laptop saya tiba-tiba dikagetkan dengan kepala Radith yang muncul dari sisi atas kubikel.
‘Mba W, aku baru tahu satu hal loh.’ Senyumnya lebar terkembang.
‘Apaan?’ tanya saya melirik curiga. ‘Udah tahu bentuk pohon nanas?’
‘Belum,’ jawabnya kalem. ‘Tapi, aku baru tahu kalau telur asin itu dari telur bebek.’
Tawa kencang justru bukan keluar dari mulut saya. Tapi dari kubikel di belakang saya. Pak Luluk, si Pemimpin Redaksi AgroMedia, penerbit yang fokus banget soal agrikultur, termasuk peternakan. ‘Serius lo baru tahu?’ tanyanya sambil terus tertawa.
‘Iya,’ Radith menjawab sambil masuk ke kubikel saya lalu duduk di atas meja. Ia menatap Pak Luluk dengan serius. ‘Padahal aku suka loh makan telur asin.’
Entah kenapa, saya sudah tidak bisa terkejut lagi. Saya sudah sering bikin trivia quiz buat Radith. Dan rata-rata dia tidak bisa menjawabnya, kecuali ternyata dia tahu seperti apa rupa pohon tebu.
‘Emang kenapa sih harus telur bebek, Pak Luluk?’ Radith memasang mimik serius.
‘Karena untuk telur asin, telur bebek lebih enak.’
‘Nggak bisa pake telur ayam aja?’ Halllahhh, kali ini saya yang takjub.
‘Bisa, tapi rasanya nggak seenak telur bebek,’ jelas Pak Luluk sabar.
Radith manggut-manggut, tentunya kali ini tanpa menggaruk pantat.
***
‘The unexamined life is not worth living,’ kata Socrates. Hidup yang tidak boleh dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.
Tentu saja, Radith punya cara dia sendiri mempertanyakan kehidupan yang dijalankannya agar berharga. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan trivia quiz ala Radith sukses membuat saya dan teman-teman di Gagas-Bukune bisa tertawa di antara jadwal deadline. (Well, oke, sebenarnya kami tertawa sepanjang hari untuk semua hal, kok!)
Omong-omong, apakah Radith tahu buah gandaria seperti apa?
*) Bayangan tentang ‘Kepala Deodorant’ di ketiak ini bisa dilihat di komik Kambing Jantan karya Raditya Dika dan Dio Rudiman.
**) Tulisan ini diposting seiizin Radith
read comments (2)22: The Story Turns Into History*)
Author: tigabelasApakah kalian pernah melewati satu fase di mana kalian memulai sesuatu tanpa merencanakan akhirnya?
Atau merancang sebuah cerita tanpa pernah tahu seperti apa penutupnya?
Aku pernah.
Dan sayangnya, aku terlalu menikmati jalan ceritanya. Aku lupa, semua cerita harus memiliki muara. Seperti air sungai yang berkumpul di samudera.
Jangan anggap ini sebagai sebuah nasihat atau cerita bijak. Percayalah tidak ada yang bisa diambil dari cerita ini. It’s just a story of mine. And one of my stories is over now.
The story of my blue horizon turns into history.
***
Kau boleh percaya. Kalaupun tidak, juga tak apa. Ketika aku menuliskan ini, mendadak hujan turun. Bahkan tanpa rintik di awal. Gelegar petir menyambar, membuat kaca di Black Canyon sedikit bergetar.
Aku masih di sana, di tepi jendela. Getaran kaca menyadarkan aku kepada sesuatu. Refleks aku menoleh ke luar. Langit di atas sana tak lagi biru. Ia telah berubah kelabu.
Aku hanya ingin kau tahu. Hatiku tidak berubah menjadi abu. Pesan yang kau tinggalkan di salah satu account jaringan sosialku memang cukup membuat termangu. Setelah lama tak bertukar kabar, mendapati namamu ada di dalam inbox cukup membuatku berdebar.
To be honest, I already predicted what it was.
This was about the ending of our story.
Percayalah, aku tidak terkejut.
Oh, sedikit kehilangan. Tentu saja.
Dan ini yang justru lebih mengejutkan aku. Merasa kehilangan.
***
22 Januari 2009, pesan itu masuk ke inbox Friendsterku.
Dari namanya saja aku sudah tahu. Engkaulah biru itu. Entah apa yang mendorongku untuk menunda membuka pesanmu.
Ini berbeda dari biasanya. Dulu, setiap kali mendapati namamu di inbox e-mail atau Friendster, aku selalu bergegas membukanya. Seharian, aku bisa tersenyum. Padahal, itu hanya e-mail singkat yang terkadang sekadar penanda kalau kita masih saling mengingat.
Entah mengapa hari ini aku tak ingin tergesa. Judul pesanmu pun sebenarnya tampak netral. Tak mengindikasikan apa pun. Hanya saja, sebuah suara yang berbisik halus di balik telinga, membuatku menunda membukanya. Ini terdengar tidak logis untuk orang yang realistis. Tapi, satu ketika kamu harus memercayai intuisi.
Ia memberitahumu sesuatu yang segera akan kauhadapi.
Dan dugaanku benar. Intuisi tidak pernah bisa diabaikan. Berteman baiklah. Sebab kenyataan akan menyusup diam-diam, menjelma firasat yang memberikan tanda untukmu dari balik sebuah kenyataan.
Apa yang disisakannya untukmu?
Kenangan.
Itu tak akan bisa kauhilangkan dari ingatan, sekalipun kau ingin menguburnya. Serapat apa pun.
Aku ingin mengingatnya sebagai sebuah cerita yang layak kita bayangkan, bisa sambil tersenyum, bisa juga sambil menghela napas. Bahkan mungkin suata saat, kita akan tergelak mengingat kebodohan-kebodohan yang kita lakukan.
Tak ada yang salah. Dan seperti yang kautuliskan. Sebagian dari kenangan itu sebaiknya memang tetap tersembunyi. Menjadi obrolan imajiner kita di meja makan.
…
…. I’m gonna let this story remain hidden deep inside. And remembering what happened on the night before you leave, inside the maroon red ***** skylark. Some memories are best kept hidden.
Tidak ada yang perlu berubah, selain mengingat semuanya sebagai sebuah cerita yang harus kita kenang dalam diam.
***
Angka 22 tak pernah istimewa buatku. Dan tiba-tiba dua angka kembar ini menjadi penanda yang cukup menarik untuk sebuah ucapan selamat menciptakan cerita baru.
Instead of goodbye sign, this number turns into a sign to say ‘Welcome to the new story of our life.’
Tak ada ucapan selamat tinggal yang perlu diucapkan. Karena tak ada yang benar-benar kita tinggalkan. Kau dan aku hanya berpindah ke cerita lain.
Dan ini yang mungkin membuat aku merasa kehilangan. Cerita kita sudah tak lagi berjalan pada plot yang sama.
Aku dan kau tak lagi berada dalam satu cerita.
***
Kata orang, ada terlalu banyak kebetulan dalam hidup. Tapi menurutku, ini bukan kebetulan. Segala sesuatunya sudah terencana. Ini pertanda. Alam memberi isyarat, dan kita membacanya. Hanya terkadang, kita tak pandai memberi makna.
Hujan berhenti ketika tulisan ini selesai.
Perlahan langit kembali biru.
Yep, some memories are best kept hidden.
I agree with you.
22 Maret 2009, aku mengirimkan pesan balasan untukmu tanpa berharap akan menerima balasan. (13)
Black Canyon, 22 Maret 2009
Dan hujan pun reda di luar sana.
*) Ini cerita terakhir saya tentang ‘Biru’. Seharusnya diposting tanggal 22 April 2009 lalu, namun saya mengurungkannya.
read comments (2)Makanan Indonesia Tidak Sehat
Author: tigabelasSaya sebenarnya doyan makan.
Hanya saja, saya tidak memakan segala hal sebagaimana kebanyakan orang di sekitar saya yang omnivora. Saya pengonsumsi sayur dan buah saja. Ya kategori herbivora deh! Sebutan kerennya sih vegetarian dan frutarian. Tapi, saya lebih suka menyebut diri saya pesco vegetarian, karena sesekali saya mengonsumsi ikan. Jam makan dan porsi makan saya berbeda dengan sebagian besar orang. Makan sekali sehari cukup buat saya. Tapi kalau soal minum, saya memang bocor. Karena kebiasaan yang seperti inilah, saya dilabeli sebagai manusia yang nggak doyan makan.
***
Omong-omong, kali ini, saya nggak mau ngomongin di mana tempat makan yang enak kok. Kalau pun saya tiba-tiba merekomendasikan tempat makan, pasti keburu semua meragukan. Bukan meragukan rasa makanannya, tapi mereka sangsi kalau apa yang saya makan, bisa mereka makan. Sama seperti bagaimana teman-teman saya tidak akan pernah menyerahkan urusan konsumsi kepada saya. Kata mereka, bisa mati kelaparan kalau saya yang mengurus konsumsinya. Saya maklum dan sadar diri, kok. Pengetahuan kuliner saya dangkal. Indera pengecap saya tidak menjelajah sebanyak yang lain. Saya cuma tahu rumah makan yang sayurannya enak. Di luar itu, NOL besar.
Nah, kalau saya yang dianggap nggak doyan makan ini tiba-tiba mau membicarakan makanan, saya rasa nggak bakal banyak yang percaya tulisan ini. Hm, semua ini dipicu oleh tulisan di sebuah majalah yang memuat wawancara dengan seorang—konon, katanya—chef perempuan. Chef ini punya acara masak-masak kok di sebuah stasiun televisi swasta. Belakangan, sepertinya dia lagi naik daun.
Tulisan itu sifatnya tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan buat saya sih cukup oke. Tapi beberapa jawaban si chef bikin saya mikir dan bertanya-tanya apa memang begitu. Sekadar informasi, tema majalah itu secara keseluruhan adalah makanan lokal. Ceritanya, mereka mau membahas makanan asli Indonesia.
Menurut apa yang ditulis, si chef ini sekolah di Amerika dan belajar masak juga di Amerika. Tapi sebagai orang Indonesia, dia mengaku sangat cinta makanan Indonesia. Sampai pada pertanyaan yang meminta pendapat dia tentang makanan Indonesia. Kalimat tepatnya saya lupa. Tapi di situ dia bilang dia sangat suka makanan Indonesia meskipun makanan Indonesia itu tidak sehat.
Nah, kalimat inilah yang membuat saya tergerak buat menulis soal makanan. Di situ nggak dijelaskan mengapa chef ini bilang kalau makanan orang Indonesia itu nggak sehat. Well, jadi saya mereka-reka saja maksudnya. Bisa jadi saya salah tangkap kan?
Sebenarnya, saya kurang sepakat dengan pernyataan yang tak diberi penjelasan itu. Bagaimana mungkin dia bilang makanan Indonesia tidak sehat? Makanan dan cara masak itu berbeda, buat saya.
Kalau ngomong makanan Indonesia, menurut saya makanan kita justru sehat. Karena hampir semua dari bahan alami. Kalau bicara makanan tradisional kita, nenek moyang kita mengolahnya dari alam. Mana ada yang diolah dari bahan kalengan atau bahan yang diawetkan. Bahkan, mereka telah mengenal teknik pengawetan makanan secara alami tanpa perlu menggunakan bahan-bahan kimia.
Di mana kita bisa menemukan makanan yang segar begini kalau bukan di negara-negara Asia? Indonesia salah satunya. Rempah-rempah kita sangat beragam dan kaya rasa. Supaya kari berwarna kuning, kita bisa pakai kunyit. Supaya rasa pedasnya mantap, kita tinggal masukan cabe rawit. Supaya tenggorok hangat, keprok saja jahe, campurkan dengan teh. Supaya awet, sayur dan buah dijadikan asinan, daging-dagingan dijadikan dendeng.
Coba, mana yang tak sehat? Bandingkan dengan cara makan orang Amerika—well, saya termasuk orang yang percaya cara berpikir sebuah bangsa itu bisa dilihat dari cara makannya. Semua serba instan dan olahan. Kalau kamu pergi makan seafood di restoran Amerika, kamu nggak bakal melihat suasana kayak restoran atau warung seafood kita. Semua bahan telah dibekukan. Mereka tinggal goreng. Nggak perlu ulek-ulek bumbu. Sudah banyak bumbu botolan atau kalengan yang siap pakai.
Makanan dari bahan segar hanya akan ditemukan di restoran asia atau eropa. Yang asli Amerika? Ugh! Enjoy your fast food. Saya pernah diajak makan di restoran seafood di Bryson City, NC. Teman Amerika saya dengan bangganya ingin mengajak saya makan seafood. Lama nggak pernah makan yang beginian, semangatlah saya mendengar tawarannya. Dia bilang itu restoran seafood paling besar dan terkenal di kota ini.
Yang paling besar dan paling terkenal memang belum tentu paling enak. Saya menemukan restoran yang dingin dan rapi. Pengunjungnya memang banyak bukan main. Semua meja penuh. Untuk dapat tempat disarankan buat reservasi dulu. Makanan saya datang dalam hitungan 15 menit. Saya pesan ikan dan hush puppies (sampai sekarang saya nggak pernah tahu kenapa namanya hush puppies dan terbuat dari apa makanan ini). Di piring saya ada fillet ikan goreng tepung dan semangkuk kecil mayonnaise. Sambal atau cabe? Ah, itu hanya mimpi. Mereka memberi saya tabasco. Itu saja. Dan semua itu bukan dari bahan alami. Ugh. Saya hanya menghabiskan separuh.
Jadi, saya heran ketika chef ini bilang makanan Indonesia nggak sehat. Obesitas justru terjadi di Amerika karena pola konsumsi makanannya dan apa yang dikonsumsinya.
Jadi mana yang tidak sehat sih?
***
Chef perempuan ini juga bilang kalau dia sengaja belajar kuliner di Amerika soalnya waktu itu kuliner di Indonesia belum berkembang. Hm, mungkin saya memang terkesan nyinyir untuk ukuran orang yang nggak tahu kuliner. Tapi, sungguh, adakah yang bisa menerangkan ke saya, kapan sih sebenarnya era kebangkitan kuliner Indonesia?
Saya khawatir, ini sudah lama, cuma kitanya aja yang nggak sadar.
Saya pernah kerja sambilan di sebuah hotel. Kebetulan, kebanyakan teman saya kerja di restoran hotel itu. Itu terjadi sekitar tahun 2003-2004. Nama hotel tempat saya bekerja adalah Holiday Inn. Restorannya sangat terkenal di kota Cherokee, namanya Chesnut Tree Restaurant. Menjelang brunch dan dinner, ramainya minta ampun. Antrean reservasinya bisa sangat panjang. Kalau sudah begini, pelajar-pelajar internasional yang kerja sambilan bisa panen uang karena overtime. Salah satu teman akrab saya di sana bercita-cita jadi chef. Dia memang sekolah perhotelan. Jadi kerja di dapur sebagai cook—kalau di dapur kasta cook di bawah chef—buat dia adalah pengalaman yang berharga.
Chef kami sekolahnya di New York. Teman saya dan chef ini suka sekali ngobrol segala hal. Dari teman saya inilah kemudian saya jadi tahu kalau dunia di balik dapur itu seru. Kata chef—saya sudah lupa namanya—kalau mau belajar masak jangan di Amerika. Amerika sebenarnya nggak kenal budaya dan seni masak itu. Kalau ingin jadi chef andal, sebaiknya belajar dari Asia atau Eropa. Seni masak yang sesungguhnya berkembang di dua benua ini. Soalnya bangsa-bangsa ini menciptakan resep dari bumbu-bumbu alami.
Selain di Chesnut Tree, kami juga punya teman yang menjadi chef di Best Western Restaurant—saya kenal dia juga dari teman saya. Yang ini chef asli dari Italia. Tiramisu dan Cheesecake-nya luar biasa enak! Saya bisa menghabiskan sepotong besar tiramisu ataupun cheesecake-nya. Dia membuatnya sendiri. Dia juga dikenal sebagai chef yang jago banget untuk makanan eropa, mengingat memang dari situ dia berasal. Setelah restoran tutup di malam hari, ia biasanya bertandang ke tempat tinggal saya yang memang banyak sekali pelajar asing berkumpul. Kami menyambutnya dengan hangat. Selain memang orangnya menyenangkan dan gaul, dia juga suka sekali membawa tumis buncis atau jamur yang dimasaknya dengan bumbu segar (glek, mendadak saya jadi lapar).
Dari dia, saya dan teman-teman jadi tahu bahwa seseorang disebut chef karena dia menciptakan masakan, bukan sekadar memasak. Dia juga bilang hal yang sama dengan chef di Holiday Inn, jangan belajar masak dari orang Amerika. Mereka tidak pernah benar-benar tahu seni memasak itu. Dia bilang, beruntung kalian orang Indonesia, punya banyak resep yang original. Sama seperti dia merasa beruntung dilahirkan di Italia dan belajar kuliner justru di Italia, sebelum akhirnya dipercaya menjadi chef di Best Western Restaurant. Menurut dia, ini yang membuat makanan di Best Western Restaurant berbeda dengan yang lainnya. He cooks with passion.
Kalau mengingat itu semua, wajarkan saya bertanya, memangnya kapan kuliner kita tepatnya mulai bangkit? Jangan-jangan kita saja yang ndak sadar kalau bangsa lain sudah lama sekali berguru pada kita.
***
Lain cerita kalau yang dimaksudkan si chef perempuan itu adalah cara memasak. Tapi, kita juga nggak bisa bilang kalau cara memasak orang kita tidak sehat. Buat saya, cara memasak nggak ditentukan oleh bangsanya kok. Itu sih tergantung tukang masaknya saja. Dan buat memasak dengan cara masak yang sehat, kita bisa belajar di mana saja.
Kalau mau sehat dan bersih, siapa saja pasti bisa selama dia disiplin. Iya kan?
read comments (0)Freedom is Not For Free, Mr. Ex-President!
Author: tigabelasSAAT itu menjelang musim dingin di tahun 2003 ketika saya bertandang ke F.D. Roosevelt Park.
Udara malam yang menggigit ditambah embusan angin musim dingin membuat permukaan telapak tangan saya terasa sakit dan nyeri. Padahal sepasang sarung tangan wol telah membungkusnya. Sesungguhnya saat itu, saya hampir menyerah karena kaki pun mulai terasa seperti ditusuk.
Angin menampar wajah saya yang terasa kaku. Bahkan, ketika saya berdiri di depan patung Roosevelt, saya bisa merasakan ia juga membeku. Permukaan patung itu terasa dingin. Namun, tembok-tembok yang mencatat cetusan gagasan-gagasan persamaan hak asasi manusia Roosevelt memberikan rasa hangat tersendiri.
Saya sempat bergetar kita melihat tulisan besar ‘I Hate War’ di tembok taman itu. Antara terharu dan pilu. Bagaimana tidak, invasi ke Irak oleh Amerika Serikat baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Sementara, di taman ini, saya justru sedang termangu-mangu membaca ide-ide perdamaian yang digagas oleh salah satu presiden AS, negara yang malah saat itu tengah mengobarkan perang.
Membaca ‘Tentara Bayaran AS di Perang Irak’, selain membuat saya teringat dengan tulisan besar yang saya temukan di F.D. Roosevelt Park malam itu, juga membuat saya melek tentang praktik bisnis yang dilakukan AS dengan memanfaatkan perang. Bagi AS, perang bukanlah sebuah tragedi kemanusiaan, tetapi sebuah lahan bisnis yang memerlukan ‘sedikit’ pengorbanan. Di balik semua kehancuran yang mereka ciptakan, dengan mengatasnamakan rekonstruksi Irak, AS bahkan tetap bisa memanfaatkannya sebagai sumber ekonomi yang menguntungkan mereka.
***
LALU, apa gunanya F.D Roosevelt Park ini dibangun? Dia bahkan tak mampu mengingatkan AS bahwa akhir dari satu perang adalah awal dari perang-perang yang lain. Semua ide perdamaian itu, hanya jadi hiasan taman yang layak dikagumi oleh warga AS—bahkan setiap orang yang datang ke sana, namun bukan untuk dipahami dan dilakoni.
Saya sempat berbisik kepada teman Amerika saya. ‘I guess, Roosevelt must have had enough time for doing conversation with God, right now.’ Teman saya mengerutkan kening. ‘About what?’ dia balik bertanya.
‘About his concept. His concept is not accepted on his land. Freedom and peaceful is only valid in heaven. So, he only could talk about it to God!’ saya menjelaskan. Dia tertawa. Lalu kami berkelakar, Roosevelt mungkin saat ini sedang curhat kepada Tuhan, bahwa di dunia, ide-idenya tentang kemerdekaan dan perdamaian hanya jadi cerita sejarah yang menghiasi taman. Ironisnya, yang melakukan adalah negara yang pernah ia pimpin.
Tapi, Roosevelt bisa bilang apa. Dia bahkan tak bisa pula protes kepada George. W. Bush yang saat itu menjadi Presiden AS. Perang Irak adalah bukti bahwa tak sepenuhnya AS paham apa itu freedom yang kerap mereka agung-agungkan. And, unfortunately, freedom is not for free, Mr. Ex-President!
‘Have Bush ever visited this park?’ tanya saya lagi kepada teman saya. dia mengangkat alisnya tinggi lalu mengidikkan bahu. ‘I’ve no idea. But, he should have.’
Saya mengangguk. Iya, Bush harus mengambil waktu pribadinya untuk jalan-jalan di taman ini seorang diri sambil membaca ulang tulisan-tulisan yang terukir di tembok taman tentang konsep perdamaian dan hak asasi manusia para pemimpin pendahulunya. Bahwa sebenarnya, tidak ada perdamaian yang bisa kita raih di bawah kokangan pelatuk senjata. Bahwa pengakuan bangsa lain tak bisa didapat dengan menodongkan laras senapan. Tapi, atas dasar motif ekonomi, apa pun dilabelkan halal oleh AS.
***
‘HEY, let’s go home. It’s so cold now!’ teman Amerika saya menyikut lengan tangan saya. Ia membuyarkan lamunan saya. Seraya menggosok-gosokan kedua lengan dengan menggunakan telapak tangan bersarung, saya mengangguk menyetujui ajakannya untuk pulang.
Teman saya tersenyum. Dia merangkulkan lengannya ke pundak saya. ‘Do you know a song “Sleeping Child”?’ Saya mengangguk. Lalu teman saya bernyanyi dengan suara bergetar karena dingin.
‘If all the people around the world
They had a mind like yours
We’d have no fighting and no wars
There would be lasting peace on earth.’
Di sela-sela gigil, kami masih bisa tertawa bersama dalam nyanyian yang terdengar sumbang. ‘I’ll cover you, sleeping chiiiiild…!’
Jakarta, Mei 2009
*) Tulisan ini dibuat sebagai Pragagas untuk buku berjudul ‘Tentara Bayaran AS di Irak’ karya Wirawan Sukarwo.
read comments (0)Pernah
Author: tigabelasdi satu kala
pernah ada aku di waktumu
read comments (0)Hate-able
Author: tigabelasIt’s very easy for people around me to hate me. I do mean it. If you see me, know me, and been around me for some times, I bet, you will understand why you hate me easily. And for sure, I do understand why people hate me.
I make a list why people get easy to hate me. Oh, feel free for you guys to add this list. Everybody is invited.
1. Fierce.
2. Cynical yet sarcasm in words.
3. Stubborn.
4. I am typical of ‘on your face’ person.
5. Cold, or should i type ‘heartless’?—perhaps, because people loves drama queen, and I am not.
6. Strict.
7. Straight to the point.
8. I know what I have to do (and you know that I am damn right).
9. I know what I want and how to get it.
10. I have bravery to admit my mistakes (deep on your heart, you expect that I am tricky and snobby or even a loser. Sadly, I am not).
11. You cannot avoid or ignore me because you know well, you want to be like me.
12. You like me—and yeah, there is a thin line between like and dislike, rite?
13. …
Look, I am not trying for being a nice person, or even a humble person here, especially in this blog. Big NO. In this blog, you guys will see the real me. I am telling you who and what kind of person I am. I will not ask apologize because being me.
But yeah, I will try to be a better person. If you still do not like me, well… I won’t feel sorry for that.
read comments (0)Add New Movies Page
Author: siapaThose video are just beautiful
read comments (0)