gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!
January 2009
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Latest on Thu, 06:37

ophelia: sepiiiiii ... navy cek the spirits main kapan yah ;)

Ophelia: yugie mia masih susah nelan dan demam lagi :( bawain corn cream soup pizza hut yah :D

Fahd: Aku udah link di ruangtengah.co.nr mbak. thanks udah nge-link blogku juga. :) Di-link di blog gagasmedia juga donk... :-p

Fahd Djibran: Thanks udah ke www.ruangtengah.co.nr tukeran link yuk... hehehe

tukangseduh: ga penting? ah, suka boong, penting kok, hehehe

» Reply



 
 
01.01.2009
Jakarta.om

Jakarta.com

Internet jadi ajang peraup dolar yang efektif. Ditambah lagi investasi yang bukan konvensional berkembang sangat pesat. Emas dan saham pun ikut berlomba agar tidak menjadi investasi yang ketinggalan zaman.

Seperti investasi dengan membeli domain-domain kelas atas atau yang sering dicari orang. Salah satu alternatif yang lumayan mendatangkan keuntungan, hanya dengan modal dari $1 per bulan bisa mendapatkan ribuan bahkan jutaan dolar.

Ya, saya sebut domain-domain (jamak) karena banyak domain yang dibeli hanya dibuat parking-domain seperti domain jakarta.com. Mereka hanya membeli sebagai investasi ke depan, siapa tahu ada yang membutuhkan domain tersebut dan membeli ke mereka dengan harga puluhan kali lipat. Mereka tidak repot mengisi konten di domain tersebut untuk menaikan rating/nilai domain karena domain-domain tersebut pasti dicari orang dan otomatis mereka berani menjual dengan harga tinggi.

=-=-=-=
Visit AboutUs.org for more information about jakarta.com
<a href=”http://www.aboutus.org/jakarta.com”>AboutUs: jakarta.com</a>

Registration Service Provided By: Reflex Publishing Inc.
Contact:

Domain name: jakarta.com

Administrative Contact:
Reflex Publishing Inc.
Internet Admin (not for sale) ()
+1.8133544500
Fax: +1.8133544500
301 W. Platt Street #510
Tampa, FL 33606
US

Technical Contact:
Reflex Publishing Inc.
Internet Admin (not for sale) ()
+1.8133544500
Fax: +1.8133544500
301 W. Platt Street #510
Tampa, FL 33606
US

Registrant Contact:
Reflex Publishing Inc.
Internet Admin (not for sale) ()

Fax:
301 W. Platt Street #510
Tampa, FL 33606
US

Status: Locked

Name Servers:
dns1.name-services.com
dns2.name-services.com
dns3.name-services.com
dns4.name-services.com
dns5.name-services.com

Creation date: 07 Oct 1997 04:00:00
Expiration date: 06 Oct 2017 04:00:00

Get Noticed on the Internet! Increase visibility for this domain name by listing it at www.whoisbusinesslistings.com
=-=-=-=
The data in this whois database is provided to you for information
purposes only, that is, to assist you in obtaining information about or
related to a domain name registration record. We make this information
available “as is,” and do not guarantee its accuracy. By submitting a
whois query, you agree that you will use this data only for lawful
purposes and that, under no circumstances will you use this data to: (1)
enable high volume, automated, electronic processes that stress or load
this whois database system providing you this information; or (2) allow,
enable, or otherwise support the transmission of mass unsolicited,
commercial advertising or solicitations via direct mail, electronic
mail, or by telephone. The compilation, repackaging, dissemination or
other use of this data is expressly prohibited without prior written
consent from us.

We reserve the right to modify these terms at any time. By submitting
this query, you agree to abide by these terms.
Version 6.3 4/3/2002

iseng ngeliat IP atau port apa aja yang kebuka waktu koneksi ke web. Setelah buka detik.com di command prompt:

C:\Documents and Settings\*>netstat -a

dan akan muncul port dan IP apa aja yang terhubung dengan komputer. Dan Jreng…jreng… muncul:

TCP    *:1071      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1072      202.158.66.164:http    TIME_WAIT
TCP    *:1075      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1076      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1077      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1078      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1079      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1080      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1081      203.190.241.166:http   ESTABLISHED
TCP    *:1085      202.158.66.190:http    ESTABLISHED
TCP    *:1086      202.158.66.20:http     ESTABLISHED
TCP    *:1087      202.158.66.20:http     ESTABLISHED
TCP    *:1088      202.158.66.86:http     ESTABLISHED
TCP    *:1089      203.190.241.166:http   ESTABLISHED

Wow… ada apa ya ini?

Apa ini yang menyebabkan detik.com lebih cepat terbuka di komputer dibandingkan dengan kompas?

Atau tambah tidak efektif secara lebih banyak IP yang harus dihubungkan hanya untuk membuka 1 halaman saja?

90 persen terbukti

Author: siapa
10.12.2008

Menarik dan mungkin sangat logis, pada saat membaca buku Menguak Rahasia Tulisan Tangan & Tanda Tangan isinya yang ringkas mampu menjelaskan dasar-dasar grafologi sampai ke praktiknya. Pertama kali mencoba langsung deg-degan karena hampir semua bener seperti karakter tulisan tangan yang dibaca.

Cantik

Author: tigabelas
27.10.2008

INILAH siklus kehidupan.

Yang tua akan digantikan yang muda. Begitulah, satu-satu, daun yang berrguguran akan digantikan pucuk-pucuk daun muda. Termasuk dalam urusan tampil menarik.

Entahlah. Semakin uzur seseorang, ia semakin tak punya hak untuk tampil menarik. Saya tegaskan. Ini bukan teori mutakir abad 21, Kawan. Bukan. Ini teori yang bergerak mengikuti siklus hidup manusia atas nama kepantasan dan kelaziman. Dan sayangnya, kepantasan dan kelaziman untuk tampil cantik dan atau menarik hanya milik kaum muda. Semakin lama kita hidup maka semakin berkurang hak kita untuk tampil menarik.

Kadang, bukan kita yang sengaja meletakkan hak untuk tampil menarik seiring dengan usia. Namun, pilihan yang diberikan untuk mereka yang semakin tua tak lagi banyak. Bukan kita yang tanpa sadar menguranginya, namun pilihannya memang tak lagi variatif.

Apa memang harus begitu. Atau, kita saja yang selalu mengidentikan cantik dan menarik hanya untuk mereka yang masih muda. Mereka yang sudah tua? No way, silakan minggir! Toh, Anda sudah menikmati hidup lebih lama! 

***

‘ANAK saya bilang, “Mami sudah uzur. Kenapa juga masih ke salon?”.’

Perempuan itu memegang rambut bagian sampingnya yang sudah di-blow ulang. Mematut bayangan dirinya. Rambutnya di-blow tinggi, menutupi kulit kepalanya yang terlihat karena rambut yang semakin jarang. Untuk usianya yang sudah 70 tahun, harusnya rambut miliknya berwarna putih. Namun, berkat penemuan pewarna rambut dan hasil perawatan salon langganannya ini, ia tetap memiliki warna hitam rambutnya.

Pegawai salon tertawa. ‘Lalu, Tante bilang apa?’

‘Saya bilang, kita perempuan ini serba salah. Kalau kita tidak merawat diri, kita jadi kurang menarik. Kalo kita tidak menarik, orang bilang kita tidak pandai mengurus diri. Tapi, kalau kita sudah tua, dan tetap ingin merawat diri, orang bertanya, buat apa dan terkesan ada-ada saja.’

Ia menatap lurus ke arah cermin. Di kaca cermin itu, ia seperti bicara kepada dirinya sendiri. Menyadari bahwa hidup terus berjalan, dan usianya terus bertambah. Garis-garis di wajahnya semakin banyak. Bedak setebal apa pun tak akan bisa menutupi keriput itu. Lipstik semerah apa pun tak akan bisa mengembalikan warna asli pada bibir yang semakin pias. Bahkan, perawatan rambut yang kerap dilakukannya seminggu sekali tak akan mampu menambah ketebalan dan mengembalikan warna asli rambutnya secara alami. Waktu memang tak akan pernah bisa berbohong. Dan ia sadar, ia juga tak akan bisa mengelabui sang waktu. 

***

SAYA tercenung mendengar pembicaraan yang terjadi di belakang punggung saya. Lewat cermin di depan, saya bisa melihat apa yang terjadi di belakang punggung. Nyonya si pemiliki salon yang tengah memotong rambut saya sepertinya sadar kalau saya menyimak penuh percakapan yang terjadi.

‘Tante itu, walau sudah tua tetap rajin ke salon,’ terangnya. Saya pun manggut-manggut. Rutinitas ke salon perempuan itu sudah saya curi dengar ketika baru akan melangkah duduk di kursi saya.

‘Tante akan merayakan ulang tahun perkawinannya di mana?’ Pegawai salon kembali bertanya kepada perempuan itu.

 ‘Anak saya akan menjemput saya. Saya tidak tahu ke mana mereka akan membawa saya dan suami. Mereka hanya meminta saya untuk siap-siap. Saya hanya ingin tampil cantik di hari ulang tahun perkawinan saya.’

Tante Pemilik Salon memandang saya dari kaca. ‘Dia suka lupa apa yang dia bicarakan. Tadi dia menceritakan hal yang sama ketika saya memotong rambutnya,’ kata Tante Pemilik Salon dengan nada suara yang rendah. Mungkin, ia khawatir ucapannya didengar si perempuan itu. ‘Dia suka bercerita apa saja kepada semua pegawai di sini. Tapi, dia sering lupa kepada siapa dia bercerita dan apa yang diceritakan.’

Saya tersenyum. Itu bukan hal yang konyol untuk saya. Kadang, seseorang butuh menceritakan suatu kisah berkali-kali kepada orang yang sama untuk meyakinkan, tak ada yang terlewatkan. Bisa jadi karena ia senang mengingat hal yang terjadi ketika menceritakannya. O, ya, tentu saja itu terkadang terdengar membosankan dan melelahkan untuk orang yang diberi cerita.

‘Tidak ada yang salah kan kalau perempuan tua seperti saya rajin ke salon?’ Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pegawai salon, Tante Pemilik Salon, dan saya yang mencuri dengar terdiam.

‘Entahlah, saya merasa, orang selalu merasa kalau perempuan tua ke salon itu aneh. Padahal, saya hanya ingin menyenangkan diri saya, juga suami saya,’ lanjutnya tanpa menunggu  jawaban dari siapa pun.

Diam-diam saya mengamini ucapannya. Dia benar. Entah, mungkin tak banyak yang sadar, kadang, ketika kita bertemu perempuan tua yang berdandan, kita melabelkannya nenek genit. Menganggap tak pantas lagi orang yang sudah berumur berdandan neko-neko. 

Saya teringat kejadian sebelum saya masuk ke salon. Mobil saya harus menunggu untuk parkir karena ada mobil  lain yang melintang di area parkir. Saya penasaran. Lama sekali pemilik mobil ini keluar. Perlahan, pintu mobil terbuka. Saya menduga yang bakal keluar adalah ibu-ibu pejabat atau seorang perempuan muda yang lelet dan manja habis. Oh, oke, beginilah sinisnya saya menanggapi ibu-ibu bersasak tinggi dan perempuan-perempuan muda yang tak bisa bergerak cepat karena kemayu. Dan salon, sayangnya, sering dipenuhi perempuan seperti ini.

Satu menit berlalu. Saya mulai tak sabar. Penumpang mobil belum juga keluar. Dari pintu satunya keluarlah perempuan muda dengan pakaian suster. Saya semakin malas, oh, oke, pasti ini ibu-ibu muda yang tidak pengen anaknya merecoki jadwal salonnya sehingga perlu bawa suster. Lalu, suster itu bergerak ke bagasi mobil mengeluarkan tongkat kaki empat. Suster muda itu meletakkan tongkat di depan pintu yang telah terbuka. Ia menjulurkan badannya ke dalam, menarik seseorang keluar dari mobil.

Dan saat itulah saya melihat, rupa perempuan yang sedari tadi saya tebak-tebak. Seorang perempuan tua dengan kepala nyaris botak dan badan ringkih yang kurus. Untuk berjalan dengan tongkat berkaki empat pun, ia masih harus dipapah oleh satu orang lagi.

‘Mau ngapain nih nenek ke salon?’  Saya sempat berpikir demikian. Refleksi, mungkin, jawab otak saya segera. Setelah memarkir mobil, saya berjalan mendahului si nenek masuk ke salon.

Hari ini, tebakan saya melulu meleset. Nenek bertongkat kaki empat itu tidak refleksi. Ia duduk tak jauh dari saya. Tadi, ketika rambut saya dicuci, rambutnya pun dicuci. Ketika rambut saya dipotong, ia justru sedang memejamkan mata menikmati pijitan lembut di kepalanya yang sedang di-cream bath. 

***

PERTANYAAN perempuan tua yang hendak merayakan ulang tahun perkawinannya menampar saya.

Jujur. Kadang saya masih suka mencebil sinis ketika melihat perempuan berumur tampil dengan dandanan lengkap. Sering tak habis mengerti mengapa mereka melakukan hal itu. Saya lupa. Harusnya, saya bertindak adil sejak dalam pikiran.

Iya. Apa yang salah dengan perempuan berumur yang pergi ke salon? Berdandan habis-habisan dengan make up lengkap dan baju berpotongan modern? Bukankah memang sifat dasar manusia selalu ingin tampil menarik? Dan, tak ada hukum yang melarang hal itu bukan?

 Tampil menarik hak semua orang. Tak peduli tua-muda. Yang menganggap itu lucu, konyol, dan tidak pantas, justru kita yang masih muda. Menganggap semua keistimewaan itu hanya milik kaum muda saja.  Dan ini pun didukung oleh industri kapitalis dunia fashion dan kecantikan. Industri kecantikan dan fashion hanya dibuat untuk mereka yang masih muda. Lihatlah iklan dan model yang dipakai. Bahkan, entah kenapa, saya merasa manekin yang ada di toko-toko pakaian pun adalah representasi dari kemudaan.

Kalau pun ada kosmetik bagi perempuan yang usianya semakin matang, pasti berkaitan dengan upaya pencegahan penuaan dini. Bagaimana menyamarkan kerut di mata dan leher. Bagaimana mengencangkan kulit paha dan perut agar selulit tak ada.  Atau bagaimana agar bokong dan payudara tak kendur.

Tak banyak juga produk fashion dirancang untuk mereka yang sudah tua. Kalau kita berjalan-jalan ke mal, seluruh gerai toko memajang desain pakaian untuk mereka yang muda. Untuk yang tua, kita harus jeli menyibak satu per satu jejeran pakaian yang ada. Ujung-ujungnya, mereka memamerkan desain konservatif yang mengarah ke religiusitas : baju kurung dengan kerudung.

Saya bergidik. Menjadi tua itu menakutkan. Pilihan mendadak terasa homogen. Tak heran kalau ada yang bilang, dunia anak muda adalah dunia penuh warna. Pilihan hidup mereka variatif. Sementara, dunia orang tua, dunia yang kelabu. Yang tertinggal hanya hitam-putih. Seperti piramida, semakin tua seseorang, lingkungannya semakin menyempit, dan pilihannya pun semakin sedikit. Yang gawat, kita kadang menganggap ini waktu yang tepat buat tobat! 

***

‘SAYA hanya ingin merawat diri saya. Walaupun dibilang sudah uzur oleh anakn saya, saya tetap ingin terlihat menarik,’ kata perempuan tua tadi.

Kali ini, ia berdiri dari kursinya. Sempurna. Rambutnya telah dicuci, dipotong, dan di-blow. Wajahnya sudah dirias. Ia mengenakan blus broken white polos dengan celana denim berwarna krem. Tangannya menenteng tas jinjing berwarna putih bersih dengan aksen emas. Samar, saya mencium bau parfum-nya ketika ia bergerak, melintasi punggung saya, lalu menghampiri Nenek Bertongkat Kaki Empat.

‘Tadi ke gereja pagi?’ tanyanya. Ah, rupanya mereka saling kenal. Nenek Bertongkat Kaki Empat mengangguk. Mereka kemudian bercakap dalam bahasa Belanda.

‘Iya, perempuan tua seperti kita ini serba salah. Mau menata rambut saja bingung. Rambutnya sudah habis. Kalau pergi ke salon, orang selalu bertanya, mau apa, buat apa.’ Perempuan tua itu kembali mengulangi pembicaraannya.

Nenek Bertongkat Empat membenarkan. ‘Padahal kita hanya ingin merawat diri. Menikmatinya.’

‘Kalau kita berantakan, tidak terawat, yang malu juga kan suami kita, anak kita,’ Perempuan tua melanjutkan. ‘Ya sudah, ik mau pulang. Keburu anak-anak saya datang menjemput.’ Ia menepuk pundak Nenek Bertongkat Kaki Empat dan melambaikan tangan kepada Tante Pemilik Salon.

‘Iya, Tante. Hati-hati. Selamat ulang tahun perkawinan!’ seru Tante Pemilik Salon. Perempuan tua itu tersenyum sumringah lalu melangkah pelan ke pintu keluar dengan muka berseri.

Entahlah, kali ini saya merasa,

ia perempuan paling cantik yang pernah saya lihat keluar dari salon hari ini.

Saya tahu, ini bukan karena perawatan yang baru saja ia lakukan. Namun karena rasa bahagia terpancar dari wajahnya. Ada harapan di situ. Ada yang ia tahu pasti menunggunya: anak-anak dan suami.

Kali ini, waktu tak lebih tamu yang mereka undang untuk merayakan dan menikmati kebersamaan yang tumbuh tua bersama mereka.

***

GROWING older is for sure. 

Sesuatu yang pasti. But then, I think, I would like to put: ‘… and a very sexy thing’ to continue those words.

Mungkin, ketika beranjak tua, saya tetap akan menjalankan rutinitas saya : sebulan sekali cream bath, tiga bulan sekali potong rambut, well boleh lah ditambah dengan luluran. Lalu, ketika saya berdiri telanjang di depan cermin, saya akan menghitung kerut yang muncul di sekitar mata saya, gelambir di leher saya, dan selulit di paha saya.

Hm, mungkin juga,

saya masih akan mengenakan celana jeans Levi’s koleksi saya yang sudah buluk dan robek-robek. Termasuk koleksi kaus hitam-putih saya. Semoga saja, sampai saya tua, ukurannya masih cukup.

Kalau ada yang bertanya mengapa saya melakukan hal tersebut—mungkin anak saya, mungkin tetangga saya, mungkin partner hidup saya—saya sudah menyiapkan jawabannya dari sekarang.

Untuk diri saya sendiri.

Saya hanya ingin tumbuh tua bersama waktu, tanpa menyesali apa pun. Tanpa perlu melawannya.

Jakarta, 26 Oktober 2008

Bisnis Telepon Murah

Author: siapa
26.10.2008

Menghadapi krisis yang sedang melanda, semua orang menginginkan pengeluaran tetap tetapi menghasilkan pendapatan yang suangat besar. Untuk urusan komunikasi hari gini semua operator perang tarif hanya e*** yang berani bagi-bagi duit (ah iklan banget, basi deh). Namun, jika dilihat skema tarif yang banyak beredar , para operator hanya mampu menghabisi tarif antaroperator saja. Mereka dengan piciknya memaksa semua orang harus sama. Dari tarif Rp0 (nol rupiah) sampai nanti mungkin saja orang akan dibayar kalo pake operatornya.

Sebagai orang yang tidak mau rugi sebaiknya para IT-ers turut memanfaatkan “tren sesat” ini untuk dapat membuat inovasi ikut memangkas biaya komunikasi ke operator lain. Murah, cepat, dan transparan (jadi inget paris van java yo vy…). Kalo seperti VoIP yang mau gratis  tapi dijegal terus, mending kita bikin yang murah banget tapi tetep bisa buat memberikan pemasukan bagi masing-masing operator.

please CMIIW

sedikit ilustrasi kejadian yang sering dialami di sono.

Si Dul menggunakan Operator A menghubungi Si Bunga menggunakan Operator B kena tarif 5x lipat oleh Operator A… Dalam satu minggu Si Dul tidak bisa telp Si Bunga lagi karena tidak mampu beli pulsa. Si Bunga dipaksa Si Dul untuk ganti ke Operator A tidak mau karena nomornya sudah terkenal di mana-mana.

Berikut skema yang mungkin bisa diterapkan oleh ahli-ahli IT di Indonesia.

OP A –> OP B tarif 5x lipat

OP A –> OP A <dihubungkan oleh alat/hub ke> OP B –> OP B tarif antaroperator kena 2x dan ditambah biaya sewa alat/hub.

misal tarif antar-OP A hanya Rp1 dan tarif antar-OP B juga Rp1ditambah dengan sewa alat juga Rp1 maka kita hanya perlu mengeluarkan biaya Rp3, lebih kecil kan dibandingkan dengan tarif OP A ke OP B yang membutuhkan biaya Rp5.

Bersambung ah…

Sebuah gaya hidup “Anywhere, anytime always connect to the internet” menjadi sebuah kewajiban bagi sebagian orang, Khususnya bagi mereka yang kerjanya setengah gak ada dikantor dan memungkinkan gak ada di kantor. Masalahnya bukan karena gaya-gayaan,..tapi emang beberapa profesi memerlukan itu. sebut saja web designer, penulis, programmer, dokter juga gak ya ??? hehehe..:D.

Letak ketergantunganya dimana sich ?? ini beda-beda tiap orang. Ada yang tergantung baget sama paman google–tau sendiri sekarang perpustakaan ganti disitu, gak jaman ke perpustakaan konvensional dulu baru nulis. Keburu moodnya ilang kaleee. Ada juga yang nyari gambar-gambar buat bahan designnya, tapi macem2 lah, tergantung profesinya apa. Read the rest of this entry »

Tulang Rusuk

Author: siapa
17.09.2008

Kenapa Adam waktu diambil tulang rusuknya oleh Dia nda marah2 ya?

Percakapan yang sempat disadap oleh KPK (Kelompok Pecinta Ketuhanan) waktu di sebuah pojok ruangan surga:

Adam (A): Eh God, gw bosen neh maen ama malaikat2 di sini… 

God (G): Ya elah kenape seh pake bosen2 segala… kan enak tuh semua malaikat mau diajak maen apa aja…

A: Bener seh G. Tapinye itu malaikat yang elu suruh lempar bola ke gw dari minggu kmrn ampe sekarang masih aja lemparin bola tuh… Ampe sekarang gw kagak bisa tidur… Capek gw nangkepin bolanye mulu.

G:????

 

Bersambung…

Udah Cantik

Author: siapa
13.09.2008

Setelah mencoba beberapa kali mengakses situs ini lewat henpon dengan tampilan yang mengecewakan,  akhirnya dicoba dengan menginstall plugin wordpress untuk mobile untuk memperbaikinya. Dan tampaknya berhasil dengan mengetes tampilannya lewat situs ini di bagian View using our mobile phone simulator, secara belom sempat mencoba lewat henpon sendiri.

mobile ready

tampilan website ini di N70 kira-kira seperti di atas

03.09.2008

 

It is fair enough to admit that I was quite ashamed to be able to read it only recently. It hit me, just like that. I am not Javanese by blood, not that I want to be one, however similar to Endrasena -though in his case the Islamic belief- I was enchanted by its culture and beliefs. If Greek mythology was fascinating, Centhini was just simply astounding.

Read the rest of this entry »

27.08.2008

Manfaat Floppy Disk Bekas

Long time ago,

Pada saat masih jadi buruh (sampai sekarang juga) pernah ada obrolan tentang tumpukan floppy disk yang teronggok di gudang sebuah sekolah di batu. Entah ratusan atau puluhan floppy itu seperti berkata, “Save Us… Save Us…” (boong seh), akhirnya semua ide dan ahbab dikeluarkan tanpa henti. Mulai dari buat ganjel pintu sampai buat yang salah-salah ngomong, pokoknya dimanfaatkan semaksimal mungkin ceritanya. Pada saat penulisan ini paman google pun tak mampu menawarkan pemecahannya.

Ah… akhirnya mungkin hanya tukang loak yang berhasil memanfaatkannya untuk mendapatkan tambahan membeli gas 3 Kilo dan berasnya.