Gapentingbanget ala Sutiyoso
Posted on June 13th, 2007 at 3:39 am by navy
Ada pemandangan baru saat melintasi jalan Sultan Agung Jakarta Pusat. Pada pinggir jalan yang terletak persisi di tepian banjir kanal barat yang dilintasi Kali Ciliwung itu, tampak tulisan Dermaga Halimun. Letaknya sekitar 200 meter dari halte busway Halimun. Tampak ada dua perahu putih yang bersandar di dermaga mini yang baru dibuat beberapa waktu lalu. Tongkrongan perahu itu terlihat lumayan gagah, berwarna putih ditengah butek-nya air kali ciliwung. Katanya sih perahu itu akan digunakan sebagai moda transportasi air di Jakarta. Ceilee…mau kayak Venesia atau London kali ye..
Rabu pagi (6/6) Sutiyoso meresmikan dua perahu itu sebagai transportasi air yang menghubungkan Dermaga Halimun hingga Dermaga Karet, Jakarta Selatan. Tapi coba bayangkan, apakah ini adalah hal yang efektif, jika jarak yang dilewati perahu itu cuma 1,7 kilometer. Okelah, untuk mengurangi kemacetan Jakarta jarak segitu lumayan, tapi syaratnya jika Ciliwung persis berjajar dengan Sudirman atau HR Rasuna Said yang macet tiap saat. Tapi perahu ini melewati, jalan RM Margono Djoyohadikoesoemo, Galunggung, Sultan Agung yang terhitung ‘sepi’. Kebayang gak?
Padahal tahu enggak, total panjang Kali Ciliwung itu kira-kira 119 Km, jadi 1,7 Km itu jika dibandingkan 119 km? Seiprit banget! Hal yang membuat tidak mungkin lagi, jarak antara air dan jembatan yang ada di ibukota ini rata-rata pendek. Jadi tidak mungkin dilewati sebuah perahu fiber lumayan tinggi yang yang digunakan sebagai angkutan massal. Kalau perahu karet bolehlah..
Bukan hanya itu, karena baru, jadwal perahu itu hanya tersedia di hari Sabtu dan Minggu. Hari Minggu lalu deretan orang mengantri di Dermaga Halimun untuk naik ke perahu. Yang jelas mereka bukan commuter yang naik perahu untuk pulang dan pergi bekerja, sebab banyak, orang tua yang membawa anaknya. Kelihatannya sih mereka ingin merasakan menaiki perahu di tengah kota Jakarta , berwisata. Tak beda saat busway pertama kali dioperasikan 2004 lalu. Sekali sih sepertinya boleh, tapi saat melintasi di jalan Sultan Agung yang mempunyai ketinggian dua meteran dari air kali, bau busuk air sudah tercium. Nah lo, saat di perahu baunya enggak kebayang seperti apa.
Belum lagi air Kali Ciliwung yang keruh dengan sebaran sampah yang melaju di atas air. Aneka plastik dan sampah lain berenang-renang. Mungkin juga kita kan menmui si Kuning yang berlayar. What a nice view! Kalau untuk pemandangan tepi Kali sih untuk jalur sepanjang dari Karet ke Halimun masih bisa dilihat, tidak ada rumah padat sama sekali, yang ada cuma tembok tinggi pemabatas bantaran kali dan taman yang dirawat dan dijaga oleh Tramtib. Tapi coba jika, dari Dermaga Karet, perahu dilajukan beberapa meter ke arah Tanah Abang. Gubug-gubug liar pasti terlihat di bawah jembatan.
Jika dibuat sebuah perjalanan untuk membuat solusi persoalan sosial di daerah aliran sungai Ciliwung, perjalanan dengan perahu fiber itu mungkin bisa memotret sebagian persoalan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sebuah perjalan wisata di tengah busuknya bau kali, air yang butek dan sampah dimana-mana dan jarak yang pendek, apa enaknya?
Sebetulnya upaya yang menarik sih saat Pemerintah Jakarta ingin menjadikan sungai di Jakarta sebagi jalur transportasi. Mencontoh yang terjadi di Zaman kerajaan Sunda Kelapa, atau kapal besar yang masuk ke Ciliwung di jaman Belanda. Lalu jika yang dibuat ternyata adalah sebuah kebijakan yang nanggung, yang setengah-tengah apa yang didapatkan? Wisata bukan, transportasi bukan. Buang-buang duit saja, bagus lagi jika duit yang ada itu buat benerin transportasi massal yang sudah ada, masalah busway aja belum lancar. Aduh bener deh Bang Yos, gak penting banget! –navy-
Please dah bang Navy, elu juga ikutan ngantri kan? Satu pertanyaan? Apakah ada artis yang naik makanya elu ada di situ? Hehe
Comment by Ophelia — June 13, 2007 @ 3:46 am