Merah itu (bukan) cinta
Posted on September 25th, 2007 at 12:06 pm by tigabelas

Aku benci menstruasi karena membuat aku teringat kalau aku perempuan.

Jangan salah, aku tak pernah membenci kelaminku yang perempuan. Tidak. Namun, kalau boleh memilih, aku ingin lahir sebagai manusia saja. Tanpa kelamin. Androgini. Aseksual.

Jangan tanya kenapa. Aku sedang tak ingin membahasnya. Selalu ada malam panjang untuk perdebatan yang muncul akibat pernyataan itu.

Sebentar saja, jangan masukkan kodrat dalam percakapan kita. Aku sedang tak bicara tentang kodrat. Cukup, sediakan waktu dan kuping saja untukku. Begitu selesai, buang cerita ini dari memori otakmu. Bukan sesuatu yang harus diingat. Ini hanya gerundelan di masa datang bulan. Cerita sampah yang tak usah diteruskan.

Saat ini, aku sedang ingin berbicara tentang darah. Darah yang mengalir dari vaginaku setiap bulan. Itu kalau lagi teratur. Setahun sekali, kalau ia lagi kumat tak ingin teratur. Tapi, aku nyaris tak pernah peduli kapan ia akan datang. Teratur atau tidak. Masa bodoh. Lebih bagus kalau ia tak datang. Tak perlu merasa sakit hingga berguling-guling.

Aku membenci menstruasi.

Membenci rasa sakit pada perut. Rasa perih di bibir vagina. Dan rasa miris melihat merahnya yang mengalir di antara selangkangan. Darahnya mengingatkan aku pada merah yang perih. Merah yang menyayat. Merah yang (bukan) cinta. Merah yang penuh luka.

Penuh luka. Penuh dendam. Luka dan dendam milik perempuan. Perempuan itu menangis di sudut kamarku. Meratapi perih di kelamin dan perutnya. Dia tidak sedang datang bulan. Namun ia meringis memegang perut. Perempuan itu baru saja menggugurkan kandungannya. Ia pendarahan. Ia memerah.

Aku meringis. Lantai kamarku yang putih kini dinodai merah. Dari sela kakinya, darah merembes. Mengalir turun ke paha, betis, mata kaki hingga memerciki lantai kamar. Aku bergidik. Menahan napas. Menahan sakit yang juga mendera perutku.

Ia menangis. Aku meringis. Digigitnya bibir bawah hingga berdarah. Luka. Luka yang tak sebanding dengan perih di hatinya. Aku beringsut. Mengambil tissue di meja kamar. Mengelap lantai di bawah kakinya. Aku pun perih. Seperti pembalut, tissue itu menyerap merah.

Perempuan itu tergugu. Aku terpaku. Bicara sepertinya tak akan cukup membuat perasaannya membaik. Bisu adalah pilihanku. Dan kami membatu sambil menatap merah. Merah itu darah.

Ke mana lelaki itu? Ke mana cinta itu? Merah sepertinya (bukan) cinta.

Aku mendendam. Mendendam kepada merah.

Aku membenci menstruasi.

Ia mengingatkanku pada merah. Merah yang sakit.

Rasa sakit di perut rahim terus berteriak. Menendang-nendang selaput rahim agar darahnya menggelontor. Aku meringis, menahan perih. Sakit. Lalu, rasa hangat tiba-tiba terasa di selangkangan. Sesuatu mengalir. Darah kotor itu ke luar, tertampung di roti jepang yang menempel pada celana dalam. Aku memejamkan mata. Menahan sensasi yang turun dari perut menuju titik di bawah sana. Dan setelah itu, apakah aku dianggap bersih?

Aku benci menstruasi.

Darahnya mengingatkanku kepada kelaminku. Kenapa darah begitu dekat dengan perempuan?

Aku benci menstruasi.

Sebab ia melarang perempuan bercinta.

2 Comments »

honey, i pity u.

makan cokelat aja ma gue, biar g sakit… hehehehe.

Comment by ino nan loecoe — September 26, 2007 @ 4:23 am


“Cukup, sediakan waktu dan kuping saja untukku. Begitu selesai, buang cerita ini dari memori otakmu. Bukan sesuatu yang harus diingat.”
Gue itu orangnya kan penurut ya, (sesuai kutipan di atas yang ada pada tulisan ini)jadi sorry, gue nggak bisa comment apa2 neh. Maaf ya, maaf ya. Tadi pas selesai baca, gue langsung lupa ceritanya, hehehe :)
Tp btw, sumpah deh, orang/tulisan ini gila. udah tahu dia cewek tapi nggak mau nerima keadaan. padahal, yang gue tahu kan menstruasi bagi cewek itu bagus untuk sirkulasi darah. bener ga sih? :)
udahlah, sebaiknya lu syukuri aja apa yang ada sekarang. masih mending cuma menstruasi, ngeluarin darah kotor untuk diganti darah segar. bagaimana itu yang aborsi? kok tega2nya sih dia ngeluarin sekumpulan darah yang ga berdosa?
sumpah, deh, gue ga terima ini. kalo lu tetep ngeyel, ayo, berdarah-darah ama gue!
—–
Tulisan ini mengingatkan gue sama cewek tomboy yang “freak”. Dialah si pemberi teori “kehidupan dengan lingkaran kecil”. Good job!

Comment by denot — September 27, 2007 @ 6:47 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>