Sesederhana itu kebahagiaan
Posted on September 25th, 2007 at 10:20 am by tigabelas

Selalu ada pagi di mana aku terbangun dengan kepala yang luar biasa pening.

Pening dan penat. Tapi, rutinitas hidup membuat tubuhku harus bangun dari kasur tipis dan beringsut ke kamar mandi. Mengguyur tubuh.

Begitulah. Selalu begitu.

Semua berjalan dalam hafalan. Sesuatu yang otomatis dilakukan tanpa harus membuat otak berpikir dulu, apa yang pertama kali dikerjakan.

Tapi, aku rasa, aku cukup berbahagia dengan semua itu. Iya, cukup. Mana berani aku mengaku sangat berbahagia. Aku khawatir, akan ada yang datang bertanya, ‘Apa itu kebahagiaan?’

Sementara aku, aku tidak tahu jawabannya. Tepatnya, aku belum menemukannya jawabannya. Lagian, aku juga tak ingin berada dalam posisi orang-orang yang kerap kali aku tanyakan apa itu kebahagiaan dan tak bisa menjawabnya.

Ugh. Tak bisa menjawab pertanyaan itu tak menyenangkan. Tak membahagiakan (?).

Aku tak tahu apa itu bahagia.

Kalau ada yang pernah mendengar aku berkata, ‘Aku bahagia’. Tolong, abaikan. Mungkin, saat itu aku sedang membuat kebohongan yang besar.

Saat itu. Bukan saat ini.

Aku lupa tepatnya kapan. Tapi, sejak beberapa hari lalu, aku berhenti bertanya apa itu bahagia. Dan, kalau ada orang yang datang kepadaku lalu bertanya, ‘Apa itu bahagia?’, maka tanpa ragu, aku akan menjawabnya. ‘Sepiring nasi hangat dengan tempe yang dipenyet pakai sambal bawang’ adalah penggambaran kebahagiaan untukku.

Aku rasa, aku menemukan kebahagiaan lewat makanan itu.

Aku tidak bisa makan nasi. Tapi, aku memaksakan diri makan nasi hanya demi untuk menikmati sambal bawang tempe penyet di kantin kantor. Mengabaikan semua rasa sakit selama beberapa hari ke depan. Aku tahu, itu menyiksa. Sungguh-sungguh menyiksa. Perut akan terasa melilit dan perih luar biasa. Lalu, hingga esok hari, bisa dipastikan, rute paling sering aku tempuh adalah menuju WC.

Saat memakannya, aku merasa senang bukan kepalang. Semua seperti mengabur dalam pikiran. Tak ada yang menjadi pertimbangan dalam bersikap. Tak ada kekhawatiran dalam rasa. Tak ada keraguan untuk memutuskan. Tidak. Aku hanya ingin makan. I take all risks.

Memakan dengan lahap, tersenyum sumringah, dan mengipas-ngipaskan tangan ke muka karena merasa kepedasan. Ketika sambal bawang tempe penyet dengan nasi panas mengepul masuk ke mulutku, saat itu aku merasa ‘pulang’. Tiba-tiba, aku merasa penuh. Merasa bersemangat. Merasa kenyang. Bukan, bukan kenyang karena terisi kabohidrat yang tak biasa aku santap. Bukan. Bukan perut atau mulutku yang makan. Tapi jiwa. Aku rindu sesuatu. Rindu untuk ‘pulang’. Semua itu membuat aku mengabaikan apa pun ‘penderitaan pencernaan’ yang akan terjadi setelah itu.

Apakah ‘pulang’ menjadi unsur rasa bahagia? Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak masuk ke benak di antara suapan nasi ke mulut. Rindu ‘pulang’ kepada apa? Ini bukan rasa rindu yang mendedah. Bukan juga rasa rindu yang membuat hati merekah. Geraknya terasa tenang menyela masuk ke hati dan tidak membuat mabuk kepayang. Tenang dan nyaman saja. Mungkin, aku hanya ingin terkenang kepada sesuatu yang disebut ‘pulang’.

Aku suka perasaan itu.

Selesai makan, aku berteriak senang, ‘Bahagia banget!’

Aku memutuskan, aku bahagia saat itu.

Is it worth a try?’ tanya seorang kawan saat selesai makan melihat aku meringis sambil berlalu menuju WC.

Yes, it’s worth!’ jawabku tersenyum lebar. Lebar sekali di antara rasa sakit yang menusuk perut.

Tak ada yang bisa menjelaskan bahagia selain kata bahagia sendiri itu. Maka, bagiku, perasaan saat menyantap sepiring nasi hangat dengan tempe penyet sambel bawang cukup mewakili rasa bahagia milikku.

Sesederhana itu kebahagiaan.

1 Comment »

Kadang orang bisa karena biasa. Jadi biasa makan apa aja ya bisa makan apa aja.

Comment by siapa — September 25, 2007 @ 10:23 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>