Dua Mudikers Gila Antri Kereta (based on true story)
Posted on September 28th, 2007 at 3:57 pm by navy

“Gimane rasanya antre dan menjadi pemudik?” godaku pada Windy yang sudah berdiri di antrean puluhan pemudik yang siap membeli tiket kereta api di Stasiun Gambir di pagi 18 September kemarin. Lampu stasiun telah dimatikan dan digantikan terangnya sinar mentari. “Wow keren, rasanya gimana gitu..,” jawab dia asal-asalan sambil memamerkan deretan giginya. Dara tinggi kurus berkulit gelap yang tidak doyan nasi itu menyangklong tas baru dengan tulisan I’m not a plastick bag yang jadi kebanggaannya, ia mulai berdiri, setalah berjam-jam duduk di lantai stasiun. Tawa kami berdua membahana. Tawa kecut, setelah hampir dua jam duduk di depan loket yang masih saja belum buka. Kami berdua merasa berbeda dengan pengantre yang panjangnya sudah 3 meteran di tiga loket yang masih belum buka itu. Beberapa pengantre lain tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, ada juga yang ngobrol dengan teman atau pengantre lain. Wajah-wajah kuyu juga tampak di deretan panjang pengantre. Kami tidak.
Windy dan aku, pagi itu, banyak bercanda dan tertawa. Mengambil gambar dengan kamera Casio Exilim 7 mega pixel yang baru Windy beli beberapa minggu lalu. Tak sekedar foto manis yang sudah diatur dengan senyuman lebar di muka kami, tapi juga foto saat wajah tidak siap untuk terjangan flash. Backround pengantre menjadi obyek utama pagi itu, tapi tetap wajahku atau Windy yang menjadi fokus, hahahaha. Teteup.Tidak berniat narsis, hanya sekedar ingin mengabadikan momen yang jarang-jarang ini. Apalagi aku, ini kali pertama aku mudik setelah setahun jadi urbanis di ibukota negara Republik Indonesia yang tak ramah ini. Sejak bekerja di sebuah tabloid hiburan milik korporat MNC yang 20 persennya adalah berita gosip (baca:genie), aku belum pernah secara khusus menyempatkan waktu untuk pulang. Lebaran tahun lalu aku menemani kakakku yang mudik ke mertuanya di Bogor. Cukup naik KRL sekali, lalu dijemput di stasiun, beres.
Terang saja ini kesempatan yang tak boleh terlewatkan. Dokumentasi harus ada. Selain buku, kamera menjadi bekal wajib untuk berjuang mendapat tiket balik dari Malang ke Jakarta. Saat berangkat dari rumah Windy di Cilandak sekitar pukul setengah empat pagi, benda kotak berwarna perak yang dibekali zoom itu menjadi most wanted thing yang harus ada di tas Windy. Ditambah lagi saat antre pertama di Ahad, hari kelimabelas di bulan September ini. Perjuangan untuk mendapatkan tiket tambahan Kereta Api Gajayana bagi aku dan Okta, adik Windy cukup fenomenal. Setelah observasi di hari Sabtu. Kami putuskan untuk berangkat ke Stasiun Gambir pagi buta jam 3. Itupun setelah melalui revisi rencana. Rencana awal kami akan berangkat jam 12 malam, tapi dengan pertimbangan kami butuh tidur, rencana diubah. Kami berdua sehabis sahur dengan dua potong roti keju Breadtalk langsung berangkat. Aku juga sudah menyiapkan sebotol lotion anti nyamuk dari kos yang telah tersimpan rapi di jaket hitamku.
Aku baru beberapa kali sahur bersama Windy dan Okta, diantaranya adalah sahur yang tidak lumrah. Saat aku dan Okta sahur dengan roti Breadtalk itu, Windy sahur dengan makan (atau minum ya?tolong jawab pin) es kelapa muda yang tersimpan di kulkas. Ukuran es kelapa muda itu lumayan jumbo sih, banyak daging dan airnya. Tapi coba bayangkan, sahur dengan es kelapa muda doang! Aneh bukan? Smile! Puasa tahun lalu, di suatu hari kami bertiga bangun dengan semangat hanya untuk sahur dengan kue kering dan air putih saja. Alasannya: kita bertiga malas keluar untuk beli makan.
Kembali ke antrean tiket kereta. Aku dan Okta sampai di Gambir pukul empat kurang. Di ruangan yang didominasi warna hijau muda itu ada beberapa loket yang masih tertutup. Namun ada dua loket yang menarik perhatian. Karena di depan dua loket itu telah berjajar orang yang duduk atau tiduran. Sepertinya sebagian besar mereka menghabisakan malam di tempat itu. Panjang antrean itu kira-kira sudah mencapai 10 meter. Lembaran koran paling banyak dipakai sebagai alas duduk dan tidur. Di loket paling kiri, kamipun mengambil tempat. Kami tidak membawa koran sehingga langsung saja duduk di atas lantai tanpa alas apapun. Gak dingin kok. Kamipun menunggu dengan membaca buku. Okta baca panduan Mac dan aku bukunya Raditya Dika. Okta juga bilang, “Navy, kenpa kita tidak membawa kamera ya?”
Kyaa. Gak kepikiran, padahal momennya dapet banget tuh. Antrean panjang dan kita termasuk di dalamnya. Stasiun televisi aja menerjunkan bebrapa reporter dan kameramen, masa kita gak ada dokumentasi sama sekali? Bener-bener deh.Detik terus berdetak , kemudian ada seorang petugas yang menempelkan sebuah lembar pengumuman di kaca loket. Isinya ternyata adalah jadwal kereta tambahan yang keberangkatannya semua di pagi hari. Aku membatalkan niatku untuk pulang dengan kereta. Okta tetap antre, meskipun tiba-tiba ia telah di deretan depan. Akhirnya dia mendapatkan tiket Gajayana tanggal 10 Oktober yang berangkat jam 06.50 WIB. Fiuh… akhirnya.
Pukul empat pagi, ini aku dan Windy. Sampai di Stasiun gambir melalui pintu selatan bagian belakang, dari situ langsung dapat melihat antrean yang terpampang di depan. Tidak separah hari Minggu, suasana Selasa dini hari itu tergolong ‘sepi’. Di depan loket yang paling kanan hanya ada tiga orang yang menggelar koran, loket sebelahnya lebih ramai. Ada sekitar sepuluh orang yang antre di situ. “Cihui!Sepi, pasti dapat tiket Win,” kataku dengan PD-nya. Kami berduapun mengambil tempat di belakang antrian loket paling kanan, dan langsung bergabung menjadi anak nongkrong Gambir, bukan Anak Nongkrong MTV. Jadi punya alternatif slogan baru, “Gambir, Nongkrong bangeeettt!!” Duduk manis di depan loket tanpa beraslakan apapun, dan bersandarkan pembatas antrean dari besi stainless steel sepanjang dua meteran. Oh, ya photo session juga dimulai, aku yang lebih banyak motret . Buku tetap menjadi teman setia. Duduk manis, bersandar dan mulai memasukkan kata-kata dalam teks ke otak, dan berkali-kali, jepret-jepret!
Tep! Tep! Tep!, selain baca buku Windy punya kegiatan lain menepuki nyamuk Gambir yang coba menyerangnya. Maklum, dia hari itu pake celana selutut. Banyaklah wilayah yang bisa diserang agar nyamuk bisa meneruskan keturunan. Nyamuknya sih satu, sodara-nya yang banyak. Aku keluarkan lotion anti nyamuk yang berhari-hari ngendon di saku jaket hitamku. Windypun mengoleskan lotion putih itu. Lalu ia menawari oarang yang antre di depannya. “Mau pakai pak? nyamuknya banyak,” sambil memamerkan lotion itu, kayak SPG di mall-mall. Bapak itu menjawab dengan tertawa, “Terima kasih. Gak usah, kami di sini mulai jam tiga, jadi sudah kebal,” kata dia. Kami berdua menyambut dengan tertawa lepas. Boleh taruhan, pasti bapak itu sudah bentol-bentol.
Waktupun terus beranjak, deretan orang dibelakang kami semakin banyak. Dengan bangga aku bilang pada Windy, “Liat tuh pin yang belakang tambah banyak.” Deretan depan bo. Kami berdua juga membahas kenapa penjaulan tiket kereta api kok masih pakai cara ‘primitif’ seperti ini, pembeli tiket harus antri dan membeli secara manual. Kan, di negeri ini internet sudah menjadi hal lumrah, kenapa tidak ada penjualan dan pemesanan on-line. Tinggal pesan di internet, bayar lewat kartu kredit atau kartu debet, beres dah.
Pukul enam lebih, orang yang anri semakin banyak dan mulai gelisah. Antrean yang santai berubah, pengantre berdiri semua. Apalagi loket ketiga juga sudah dipadati pengantre. Aktivitas membaca sudah diakhiri. Berbincang, guyon, dan photo session menjadi aktivitas kami berdua menunggu datangnya pukul tujuh. Langit sudah muai terang, cahaya mathari sudah menerobos ke dalam gedung hijau itu. Panjang antrean juga sudah mencapai tiga-empat meteran.
07.00 WIB, loket masih belum buka juga, tapi tampak dari sela-sela tirai para penjaga loket sudah bersiap-siap. Wajah mereka tampak segar, rambut rapi, balutan kosetik juga terlihat di wajah mereka, beda dengan pengantri yang rata-rata belum mandi (patokannya adalah kami, saudara-saudara). Pengantri semakin gelisah, “Kapan nih bukanya?” celetuk seseorang. O7.05 loket paling kanan sudah dibuka, loket depan kami belum. Beberapa saat loket itupun terbuka. Pengantri nomor satu ternyat masih belum bisa dilayani. Apalagi ada himbauan dari bagian pengaman Gambir loket yang paling kanan hanya untuk kereta jurusan Jawa Tengah. Sontak saja banyak pengantre marah-marah, “Gak begini dong caranya, seharusnya sejak dari tadi, kami sudah lama antre nih. Berjam-jam.” Tapi antrean tetap tidak berubah. Pengantre nomor satu itu yang rambutnya agak-agak botak itu bercerita kalau tiket Gajayana belum online alias tersambung. Semenit, dua menit, tiga menit, waktu terus berjalan. Belum online juga. Yang dilayani hanya pembelian kereta ke Jawa Tengah. Ngiri juga sih, liat orang yang telah memegang tiket.
Dalam masa penantian, ada orang dari antrean sebelah yang keluar dengan nada kecewa. “Tiket Gajayana sudah habis, Bangunkarta juga,” keluhnya. Aku tahu pasti dia antre lebih lama dari kami. Kecewa berat? Absolutely yes. Kami coba menenangkan diri, mengunggu kepastian dari penjaga loket. Masih berpikiran positif. Sekitar duapuluh menit kemudian, kabar yang ditunggu akhirnya datang, Gajayana sudah online. Lalu mbak-mbak penjaganya berkata dengan kalimat manis: “Gajayana udah online, tapi saya heran kok tiketnya sudah habis. Ini jumlah kursinya nol semua, maaf ya.” Gubrak. Tuing-tuing.
Tiket yang bisa dipesan maksimal 30 hari sebelum keberangkatan ternyata lenyap dalam sekejap. Entah karena permainan calo atau kami kalah start dari stasiun lain. “Udah jelaskan, habis,” ujar Windy tersenyum sambil keluar dari antrean. Tapi sumpah, senyumnya jueleek banget. Dongkol pastinya. Tiga jam for nothing. Pikiran positif tetap saja ada. Sambil berjalan lunglai ke tempat parkir, “Kita coba minta tolong Tompel, kali-kali aja bisa mendapatkan tiket,” ujarku. Ronnie Endra, sobat kami di Malang yang lebih terkenal dengan panggilan Tompel itu menjadi our next hope. Tompel yang masih tidur di pagi itu kami bangunkan. Dengan suara yang belum sadar sepenuhnya, ia kami tugasi untuk mencari tiket “Harus dapat ya pel,” ancam Windy menutup perbincangan lewat telpon itu. Kasihan Tompel. Lebih kasihan lagi kami.

3 Comments »

kosetik?

ini mana poto2 nya ya… ?

Comment by siapa — September 29, 2007 @ 3:03 am


Please deh Navy cerita panjang lebar foto yang dinanti tak kunjung tiba! Trus kamu temenan ama Windy berapa abad seh masa Sampe sekarang gak tau pola pencernaan dia hehe

Comment by Ophelia — October 1, 2007 @ 6:52 am


Hello

Tell please where it is possible to find articles or news on the given theme.

Bye

Comment by dredddd — December 3, 2007 @ 9:42 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>