gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!
December 2008
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Latest on Mon, 11:05

Ophelia: yugie mia masih susah nelan dan demam lagi :( bawain corn cream soup pizza hut yah :D

Fahd: Aku udah link di ruangtengah.co.nr mbak. thanks udah nge-link blogku juga. :) Di-link di blog gagasmedia juga donk... :-p

Fahd Djibran: Thanks udah ke www.ruangtengah.co.nr tukeran link yuk... hehehe

tukangseduh: ga penting? ah, suka boong, penting kok, hehehe

tigabelas: hellow everybody..... enjoying your current life, huh?

» Reply



 
 

Pulang

Author: tigabelas
10.11.2007

It’s hard to make a comeback when you haven’t been anywhere…

Tulisan yang ada di plakat untuk nomor mobil terbaca jelas setiap kali saya memasuki kamar ketika pulang ke rumah. Ia tergantung di dinding kamar saya, yang ada di rumah orang tua saya.

Saya membeli plakat nomor mobil itu ketika berada puluhan ribu mil jauhnya dari rumah. Saya temukan di sebuah toko kecil, di sebuah kota di kaki gunung yang kerap diselimuti kabut. Konon, karena kondisi alamnya begitulah, maka tempat itu dinamakan the great smokey mountain .

Tahun ini, saya pulang ke rumah. Setelah dua tahun tak pernah pulang dan tak pula berlebaran bersama keluarga di rumah. SMS singkat dari ayah saya, cukup membuat saya memutuskan pergi ke stasiun Gambir pukul 03.00 hanya untuk mendapatkan selembar tiket kereta api Gajayana, jurusan Jakarta-Malang. Ayah saya bilang, “Saya cukup bahagia kalau kamu pulang”. Simpel, tetapi bikin saya yang ogah-ogahan ikut arus mudik, memutuskan ikut arus tahun ini.

Saya pulang sehari sebelum lebaran. Ketika sampai di rumah, hari sudah pukul 09.00. Rumah itu sepi. Tak ada orang. Saya hanya menemukan kunci diletakkan di tempat biasanya sehingga saya bisa masuk rumah. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang saya lakukan ada menghambur ke kamar. Ketika pintu kamar saya dorong, saya menemukan tulisan di plakat itu memenuhi luas pandang mata saya.

Seketika, perasaan rindu menyeruak. Saya sadar, saya baru saja pulang. Pulang pada sesuatu yang sangat saya kenal. Pulang pada sesuatu yang membuat kita merasa nyaman dan dirindukan. Seketika, saya paham, kenapa ratusan—atau ribuan—orang rela antre membeli tiket yang harganya lebih mahal hanya untuk pulang ketika lebaran.

Pulang membuat mereka merasa penuh. Pulang membuat mereka merasa tenang dan nyaman. Ketika yang telah lama pergi kembali pulang, ruang kosong itu kembali terisi dan menjadi lengkap.

Saya memburu kasur, mencium aroma yang sangat saya kenal. Letak barang yang membuat saya nyaman. Benda-benda kecil yang menyimpan banyak cerita. Dan saya terlelap dalam tenang hingga telepon berdering.

“Kamu sudah pulang?” Suara ayah saya terdengar di seberang.
“Hmm….” Saya menjawab sambil mengucek mata. Tak ada pembicaraan lain, tetapi saya bisa merasakan, dia senang karena tahu saya sudah pulang dan berada di rumah. Dia bisa menemukan saya berada di kamar, dan biasa tertidur dengan tumpukan buku di sebelah bantal.

Ketika bangkit dari kasur, tulisan itu kembali memenuhi mata saya. Saya tahu kenapa dulu saya membelinya. Tulisan itu selalu menjadi pengingat saya pulang. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah. Lebih dari itu, sebagaimana Idul fitri membuat kita kembali menjadi bersih, maka ‘pulang’ untuk saya adalah kembali pada diri kita sendiri. Setelah semua perjalanan memaknai hidup, maka pulang seperti sebuah kontemplasi untuk melihat, seberapa jujur kita menyikapi hidup. Atau seberapa sadar kita menjalani hidup. (tigabelas)

*) antidote dari tulisan navy tentang mudikers gila


Leave a Reply