This entry was posted on Tuesday, November 27th, 2007 at 12:16 pm and is filed under MyCit. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
gapentingbanget dot com
This Blog is Mobile READY!
Fuschia, magenta, whatever… what I know is : This is not black
Author: tigabelas27.11.2007
Orang sekantor juga tahu, kalau gue suka banget warna item. Semua barang gue item. Dan, mereka terbiasa liat gue dengan pakaian item—kecuali kaus kaki dan sepatu.
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah idup gue, gue pake warna bukan item. Ada yang bilang warna kaus gue fuschia, ada yang bilang pink—but believe me, it’s not pink, buds!, ada yang bilang magenta. Buat gue, cuman satu, ini bukan warna item. So whateva!
Dari turun mobil, tim sekuriti udah bengong. Masuk lobi, mo ngabsen, Eko juga bengong. Nyampe tangga mo naek, pak joko juga bengong. Ketemu pak lardi di lorong, dia juga bengong sambil senyum nggak jelas. Begitu sampai di lantai dua, masuk ruang gagas, semua pada tereak. Well, you know, kalo alit ama Christian menggabungkan suara, yeah gelegarnya sampai gerbang depan.
Gue nggak tahu ada apa dengan warna bukan item. Semua orang ngeliat gue dengan membelalakan mata dan senyum dikulum. Sekretaris redaksi, ima dan dewi, malah bertanya, “stok baju itemnya abis ya, mba?” Sial. Nggak gitu kali.
Nisa, si desainer, loncat-loncat bahagia nggak jelas, liat gue ama baju bukan item gue. Jeffri, baru mo buka mulut ketika Nisa bilang, “Nggak usah didengerin kalo dia komentar. Bagus, kok!”. Ow, oke. I take her opinion as a compliment. Parah lagi, para penghuni hall tengah, pada tereak…, “Yuhuuuu, baju baru, ya???”
Dan begitulah hari gue berjalan. Dengan pakaian yang bukan item. Cukup menyenangkan rasanya ketika ada sesuatu yang nggak kayak biasanya. Pukul sebelas, seorang reporter dari sebuah majalah datang. Dia ada janji wawancara gue soal gagas.
Kita ngobrol soal gagas. sampai pada sebuah pertanyaan, yang sebenarnya udah sering banget gue terima. Nggak secara langsung, kadang melalui ekspresi. Si reporter nanya, “Udah berapa lama kerja di gagas?”
“Tiga tahun,” jawab gue.
“Wah, masih muda, kerja baru sebentar kok udah bisa jadi pemimpin redaksi?”
Gue bingung mo jawab apa. Tapi akhirnya gue memilih menjawab,”Di kantor gue, orang dinilai karena kemampuannya. Bukan tua-mudanya. Bukan senior atau junior.”
Pertanyaan si wartawan bikin gue inget kejadian kemarin. Ini yang mendasari kenapa baju gue bukan item hari ini. Kejadian ini gue alamin waktu menghadiri sebuah seminar bersama penerbit lainnya. Seorang general manajer pihak pengundang menghampiri gue dan jeffri. Mengajak jeffri berbicara, dan menatap gue dengan pandangan ini siapa. Jeffri memperkenalkan gue. Begitu tahu gue dari gagas dan posisi apa yang gue pegang, sikap tuh orang cukup berbalik 180 derajat. Kaget nggak jelas gitu. Ooh, nggak usah terlalu kentara lah. Gue coba nyabarin diri.
“Hebat, masih muda sudah memimpin ya?” katanya. Entah itu sindiran atau pujian.
“Iya, tukang bikin kacau, Pak,” jawab gue.
“Justru yang ngaco-ngaco itu kan yang dicari. Kalo udah tua kayak saya ini, biasanya nggak berani bersikap ngaco.”
“Hehehehe.” Dan dia pamit pergi karena harus menyambut yang lain.
Another season of hal kayak gini. Malamnya, gue menghadiri pertemuan para direktur penerbitan yang jadi kolega pihak pengundang. Well, ini hari apes gue. Direktur gue yang sesungguhnya lagi pergi naek haji. Gue yang disuruh ngewakilin. Jadilah gue menghadiri acara yang sangat tidak ingin gue hadiri.
Pake baju item formal dengan sepatu hak tinggi. Gue tampil cukup ‘serius’. Tapi, rupanya, gue kalah tua, bo. Semua yang hadir bapak-bapak dan ibu-ibu. Posisi mereka direktur ke atas semua. Gue duduk di round table nomor 19. Awalnya sendirian. Lalu datang beberapa undangan lain. Semua saling menyapa. But, no one ngajak gue ngomong. Bahkan, si ibu-ibu ngelirik gue dengan tatapan, “Salah tempat nih anak.”
Gue tahu, yang duduk di sebelah gue adalah seorang direktur. Lelaki berumur. Dari tadi dia ditemani oleh seseorang yang ditugasi menemani dia oleh pihak pengundang. Di tengah percakapan mereka, si bapak di sebelah gue bertanya, “Dari media mana, Mba?”
“GagasMedia,” jawab gue singkat. Gue nggak pernah nyangka, jawaban sesingkat itu menimbulkan reaksi yang berbeda jauh. Seketika orang di meja gue pada ngajakin ngomong. Si bapak yang bertugas menemani bapak di sebelah gue ngomong, langsung bersikap ramah ama gue. Melibatkan gue dalam percakapan mereka yang semula terkesan untuk kalangan terbatas. Shit.
But, everything was OK for me. Gue udah terlalu sering terima tatapan dan komentar seperti itu. What I know is : that is not black. Memang lebih gampang jadi orang picik. But, I prefer, mengambil hal yang rumit.
Gue terbiasa dengan hitam. Hari ini, boleh dong gue nggak pake yang serba item. Agar gue nggak terbiasa aja. Sebenarnya, inilah semua alasan kenapa hari ini, gue nggak pake warna item. Hehehehe. Gue nggak mau menilai dan melakukan sesuatu seperti biasanya orang menilai dan melakukan.
Kalau kita mulai terbiasa, nggak ada salahnya segera ke luar. Well, gue udah mulai memikirkan akan pakai baju warna apa lagi ya besok? [tigabelas]
December 2nd, 2007 at 6:40 am
Kepada, Mbak Wendy
Hai, Mbak. Seru juga ya, baca cerita Mbak. Hehehehe… saya juga ngirimin naskah novel loh ke Gagas Media. Judulnya “marshmallow”. Harapannya siy, pengen BANGET diterbitin sama GagasMedia. Hehehehe… Kasih-kasih kabar ya, Mbak…
December 4th, 2007 at 6:44 am
hallo candra!
ditunggu dengan sabar yha… tentang naskahnya. kalo di gagas kan minimla 3 bulan baru ada pemberitahuan.
ma kasih udah mampir ke blog yang gapenting ini. keep writing.
December 13th, 2007 at 11:11 am
whateva cinta I still love you in any colour you wear xoxo
January 14th, 2008 at 12:42 am
aku juga suka kemapanan. tapi kalo sekali tempo tampil beda boleh dong… buat refreshing aja. biasa rambut rapi, belah samping, tapi sekali tempo tampil cepak ala army, boleh aja kan? dan ternyata banyak komen yang mampir ditelinga
Yg paling akstrim, aku pernah kelua rumah nyeker (tanpa sandal) n baju & celana yg super lusuh karena emang belum disetrika! apa komentar tetangga? “..pulang dulu, gua setrikain…!! malu-maluin aja sebage temen..!’”
BTW, aku baru tau blog ini, seru juga… aku pengin blajar nulis, tapi aku di bali…
January 15th, 2008 at 4:12 am
hallo yanto!!!
yuk kita belajar nulis bareng! o, ya kalau kamu udah punya naskah, coba aja kirim bab satunya ke blog gagas. alamatnya: kandangagas.blogspot.com. kirim emailnya ke blog.gagas@yahoo.com. bab satu kamu bakal dipublish di situ dan kita komentarin rame-rame.
ditunggu….
April 9th, 2008 at 2:57 am
ouch…aq suka hitam putihx.
seru baca critax, mbak. setuju banget tuh, sekali-sekali kita emang perlu melakukan sesuatu ‘yang tidak biasa’. dengan begitu kita bakal ngrasain ’sensasi’ yang berbeda.
merdeka!!!
(blogx aku link y. tx)