Kisah Piaraan Gue
Posted on November 27th, 2007 at 11:00 am by tigabelas

Udah lama banget gue nggak pernah miara apa pun. Kisah gue dan piaraan gue selalu berakhir tragis dan sedikit mengerikan. Well, seenggaknya buat gue.

Waktu gue masih SD, gue pernah miara burung. Gue kasih nama Molek. Molek adalah seekor burung biasa, yang kalo lo jual juga nggak ada harganya. Gue mengadopsi Molek setelah sebuah kecelakaan menimpanya. Kayaknya, dia lagi belajar terbang, terus agak oglek, dan menabrak kaca jendela rumah gue.

Didorong oleh rasa iba, gue memungut Molek. Di mata gue, gue kayak ngeliat ada bintang berkeliling di kepala Molek. Dia pusing, bo! Akhirnya, dengan perasaan iba, gue memungut Molek. Menidurkannya di kotak kecil yang udah gue kasih kapas—colongan dari kapas rias nyokap gue—dan selimut hangat—dari sisa kain buat baju tidur gue.

Molek akhirnya sehat. Tiap hari dia belajar terbang, dan melulu berakhir dengan jatuh. Rupanya, dia belum biasa terbang tinggi dan jauh. Gue nggak pernah lupa kasih dia makan dan minum. Mandiin juga. Sampai akhirnya, Molek tumbuh jadi burung yang jinak banget. Dia gue biarin terbang, nggak pernah gue masukin kandang. Habis terbang tinggi dan bertengger di pohon, kalo gue panggil, “Molekkk!!!” dia pasti langsung nyamperin gue. So sweet.

Saking cintanya gue sama Molek, liburan panjang ke Palembang pun Molek gue bawa. Gue taruh dia di sebuah kandang kecil. Sehingga selama pejalanan—kita berhenti di Semarang dan Jakarta—Molek pun nggak bikin kotor mobil. Gue nggak pernah menyangka, perjalanan liburan panjang itu akan berakhir tragis buat Molek. Kisah hidup Molek berakhir di mulut kucing nenek gue yang di Palembang. Sejak saat itu, gue benci kucing.

Kali kedua, gue miara tupai. Tupai gue bernama Koko. Tupai cowok yang ganteng dan lucu. Lincah banget. Ke mana gue pergi, dia pasti ngikut. Bahkan ketika gue sekolah. Dia bakal tidur bergelung di saku gue. Suka banget manjatin badan gue, terutama leher. Terus suka mengerat kuping gue. Gue jarang banget naruh dia di kandang. Gue biarin bebas berkeliaran di rumah. Kalo dipanggil, “Koko!” dia pasti datang nyamperin. He is so adorable.

Suatu hari, bokap ngebeliin kandang baru. Bentuknya lingkaran. Kalo Koko lari, kandang itu bakal berputar. Tapi, kayaknya, Koko nggak suka dengan kandang barunya. Dia cemberut. Nggak mau gerak. Nggak lincah lagi. Diam aja sambil melungker. Gue sedih liat dia begitu. Akhirnya, gue keluarin dia dari kandang. Koko senang bukan kepalang. Dia langsung meloncat ke tangan gue. Naik ke leher gue. Terus lari-lari naik ke gorden jendela. Senang liat Koko lincah lagi.

Gue duduk di sofa sambil ngeliatin Koko. Tiba-tiba Koko ilang. Gue panik. Teriak manggil Koko. Tapi Koko nggak nongol juga. Akhirnya, gue bangkit dari sofa. Pas gue berdiri, tiba-tiba ada bunyi, “krek”. Kaki gue menginjak sesuatu. Gue melihat ke bawah, dan mendapati kenyataan, kalo Koko penyet karena gue injak.

Gue telepon dokter hewan. Minta dia memeriksa Koko. Sampai di rumah, si dokter bertanya, “Mana kucingnya?”
“Kucing? Tupai, Dokter!” teriak gue sambil nangis.
“Tadi di telepon kamu bilang kucing.” Si Dokter tetap ngeyel.
“Saya bilang bajing! Bukan kucing!” kata gue sambil menyurungkan Koko yang tergeletak di keranjang.

Dokter manggut-manggut. Memeriksa Koko dengan muka nggak antusias dan heran. Gue nangis sesegukan. Berharap ada keajaiban yang bikin Koko kembali bergerak lincah. Dokter bilang, dia cuma bisa kasih penawar sakit. Sepanjang malam gue nangis dan tidur di sebelah Koko. Besoknya, Koko meninggal. Dia mati karena kaki gue. Gue kubur dia di halaman depan. Sekitar dua bulan lebih, setiap pagi, ketika gue menyapu halaman, gue selalu ke kuburan Koko. Nyekar dan berdoa. Sejak saat itu, gue nggak pernah mau piara hewan apa pun.

Cerita piaraan gue ternyata belum berhenti sampai di situ. Bokap gue sedih liat gue sedih. Dia beliin gue langsung dua ekor tupai. Namanya Koko dan Kiki. Tapi mereka nggak sama kayak Koko. Nggak jinak dan bandel banget. Suka menggigit lagi. Gue nggak suka mereka. Gue nggak peduli sama mereka. Sampai suatu hari, salah satu dari mereka menghilang entah ke mana. Tinggallah entah Koko atau Kiki sendirian. Suatu hari gue mendapati kandang tupai kosong. Gue cuman mendengar decitan yang nyaring. Kayaknya Koko atau Kiki nangis. Gue cari asalnya suara. Pukul delapan malam, baru gue sadar, kalau suara itu dari sumur di belakang rumah gue. Gue ambil senter. Benar dugaan gue, entah Koko atau Kiki jatuh ke dalam sumur dan nyangkut di mesin penarik air.

Dibantu tetangga gue, kita menjulurkan galah agar dipanjat ama Koko/Kiki. Untung tuh tupai pinter. Dia paham dan manjat tuh galah. Kita berhasil mengeluarkannya dari sumur. Tapi tubuhnya menggigil. Tiba-tiba gue takut kehilangan lagi. Gue bungkus tubuh kecilnya lalu taruh di dekat kompor yang lagi menyala. Sejak saat itu, gue coba peduli lagi dengan hewan. Namun, beberapa hari kemudian, tupai yang gue belum jelas namanya itu menghilang. Dia pergi. Gue pun memutuskan, sebaiknya nggak usah terlalu sayang kepada sesuatu. Supaya nggak terlalu sakit ketika mereka pergi.

Zero Comments »

No comments yet.

Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>