Posted on January 8th, 2008 at 10:31 am by Ophelia
“Selamat datang di Medan Oma,” kata seorang anak berusia 10-12 tahun kepada neneknya di dalam bus bandara yang mengangkut kami dari pesawat Merpati menuju ke terminal kedatangan Polonia. Kalimat tersebut agak aneh mengingat orang Medan tidak mengenal kata Oma tapi Ompung. Grace, Desman – calon iparku – dan aku saling pandang dan melirik ke luar mencoba mengenali tanda-tanda siapa tahu kami tiba di bandara yang salah. Kemudian aku melihatnya, ucapan ‘Selamat Datang di Kota Medan’ di pintu terminal. Okay aku memang tiba di Polonia tapi siapa orang-orang aneh ini yang menyebutkan kata oma, apakah mereka keluarga yang menyebut neneknya dengan sebutan Oma yang sedang tren agar terlihat keren. Atau mungkin juga mereka memang orang Manado yang menetap di Medan. Ah entahlah yang penting aku pulang. Horas Medan!
Lalu saat menunggu bagasi Grace hampir saja memuntahkan Hoka-Hoka Bento, makan malam yang ‘disediakan’ Merpati karena penerbangan kami telah ditunda dua kali - tentunya agar para penumpang tidak mengamuk, karena ruangan tersebut pengap dan dipenuhi asap rokok. Inilah Medan. Sulit melihat peraturan dipatuhi di sini. Aku juga tidak begitu heran ketika mendengar Polonia terbakar, kondisi bandara ini sangat menyedihkan. Kotor. Semrawut. Belum lagi troli-troli barang yang ‘dikuasai’ portir bertampang galak. Selentingan kabar juga berkata beberapa perusahaan besar telah mengkapling tanah bandara ini walau bandara baru masih berupa onggokan tanah. Rasanya tak sabar menunggu Bandar Udara Kuala Namo beroperasi.
Namun Polonia ternyata belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan para pengendara kendaraan bermotor di Medan. Lampu lalu lintas lebih seperti hiasan jalan karena hampir tidak ada kendaraan yang lewat berhenti saat lampu berwarna merah. Yang pasti orang Medan ternyata sangat tidak sabaran. Biasanya kalo bukan sepeda motor, becak mesin atau angkot yang akan menyerobot lampu merah. Medan seperti negara sihir yang masing-masing penduduknya memiliki sembilan nyawa jadi tidak sedikitpun khawatir tindakannya bisa menyebabkan dirinya atau orang lain tewas. Sekilas terlintas dalam benak apa mungkin ini pengaruh konsumsi BPK secara berlebihan yang membuat tekanan darah naik sehingga setiap orang sama-sama tidak mau mengalah dalam hal apapun.
Medan memang unik dan hampir mendekati tingkat aneh seperti Jakarta. Orang Medan biasanya gampang ditebak, namun kadang juga mengejutkan. Saat naik angkot menemani Emak tercinta ke pajak – pasar edisi Sumut – di tengah-tengah perjalanan si supir meminggirkan angkotnya. Tentu saja beberapa penumpang merasa heran dan khawatir angkot tersebut akan ngetem lama mencari penumpang. Ternyata si abang supir angkot turun sambil berkata dengan logat Batak Toba yang kental, “Panas kali kan ito, dibuka saja jendelanya biar ada angin!” Mungkin dia takut udara panas bisa menewaskan para penumpangnya. Sayangnya para penumpang angkot tersebut, termasuk emakku, memang sengaja menutup kaca jendela karena tidak mau terkena angin. Apa mau dikata, mengingat si abang supir dengan susah payah membukakan setiap jendela walau rambut jadi berantakan tidak seorangpun berusaha menutup jendela itu kembali. Inilah Medan bung! *oph*
Next Story: Catatan Perjalanan Mudik II - Pesta Adat dan Susahnya Jadi Anak Boru
bah..nampaknya teman aku ini ceritanya banyak kali. sepertinya kau dapat mengumpulkan cerita kau itu dapat sebuah buku. aku akan mendukung sekali mia. siapalah yang tak bangga jika temannya jadi penulis. lalu, mengenai tanah leluhurmu dan budaya masyarakatnya yang itu yang luar biasa itu, anggap saja kau sedang mengikui sebuah reality show penguji nyali. adrenalin kau pasti meningkat gila-gilaan bukan? horas medan
ps. gw pernah disangka orang batak di kantornya pindy. lucu kali itu temennya pindy
Comment by navy — January 9, 2008 @ 8:52 am