Jangan Sampai Bangsa Tempe Ini Kehilangan Tempenya!
Posted on January 16th, 2008 at 3:05 pm by navy

Judul berita di website itu membuatku tersentak. Sangat mengena. Tak sampai sedetik, aku mengembangkan senyum tapi aku juga merasa tertampar di saat yang sama. Bangsa Tempe kok kehilangan tempe. Ironi berkecamuk di otakku. Selama ini istilah bangsa tempe digunakan untuk menghina kita. Makanan dari kedele berwarna putih kekuningan itu dianggap menjadi makanan kelas dua, kalah dengan ayam, daging, pun ikan. Padahal sebutan itu salah kaprah, gizi tempe tak kalah dengan protein hewan, malah lebih sehat karena bisa menurunkan kolesterol. Kata-kata bangsa tempe menempatkan menjadi bangsa kelas dua, bangsa kuli, bangsa yang bisanya makan tempe bukan fried chicken atau steak. Tempe yang murah identik dengan sesuatu yang tak berharga.

Tapi detik ini cara pandang kita dibalik, karena harga kedelai impor yang naik gila-gilaan, tempe bersama teman sejawatnya, tahu dan susu kedelai, jadi mahal. Dengan harga yang sama, ukuran tempe mengecil dari sebelumnya. Seperti seseorang yang menderita anoreksia. Ramping dan habis. Pembuat tempe yang tak mau terus-terusan membuat tempe anoreksia mulai protes. Senin lalu ribuan dari mereka berdemo dan mogok produksi. Sekarang tempe jadi barang langka. Tadi pagi, aku sempat ke warung tegal yang tak jauh dari rumah, aku lirik etalase. Tumpukan tempe goreng yang biasanya ada, menghilang. Kompas juga menulis dari sekian banyak presiden yang menjabat baru kali ini orek tempe absen di warteg Jakarta. Duh tempe..

Judul berita di koran itu menyentakkanku. Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang mengeluarkan kalimat itu ada benarnya. Tempe yang murah dan bergizi itu adalah makanan orang banyak. Jika uang di kantong menipis, tempe adalah pilihan utama untuk mendapatkan asupan protein. Tak cuma itu, semakin banyak orang kehilangan pekerjaan saat tempe lenyap, karena produsen tempe mulai gulung tikar. Makanan yang sering dipandang sebelah mata itu ternyata menentukan nasib orang banyak. Bangsa ini benar-benar kehilangan tempe. Sangar enggak ya kalau kita teriakkan bersama-sama: “Kembalikan Tempe ke Kami!”


Catatan:

Aku jadi ingat Tempe. Saat aku di Bali beberapa tahun lalu aku berkenalan dengan seseorang yang dipanggil Tempe. Orangnya berpenampilan rocker, memakai gelang logam, berkulit coklat, berambut gondrong sebahu dan ia fans sangat berat Almarhumah Nike Ardilla. Seluruh dinding kamar kosnya ia tempeli dengan poster Nike Ardilla. Pernah ke Ciamis, namun di tengah perjalanan ia kembali. “Hatinya enggak kuat melihat kuburan Nike Ardilla,” cerita seorang teman. Nah sosok ini enggak bisa makan kalau tidak ada tempe di tumpukan nasinya, pangilan Tempe berasal dari kebiasaannya itu. Lalu, apakah ia juga ikut kurus seperti tempe karena ia tidak bisa menemukan tempe hari ini?

Jadi ingat juga tentang temanku, Ical, saat aku bercerita tentang si Tempe, ia protes. “Kenapa aku tidak dipanggil kecap ya?” keluh dia. Anak Kediri ini sangat suka kecap. Bayangin aja kuah Rawon yang sudah hitam legam itu masih ia kecapin juga.

3 Comments »

cerita sedikit soal kedelai.
dulu waktu masih lucu-lucunya, aku pernah membaca sebuah berita yang berisi tentang kedelai yang ternyata lebih dari 50% adalah kedelai impor. ternyata selama ini yang kita makan selama ini adalah kedelai impor dari argentina dan amerika sana. miris juga abis baca itu.
tanpa pikir panjang, aku memilih jurusan pertanian IPB. ingin menjadi petani ceritanya, biar kita nda usah impor kedelai lagi. namun karena segala keterbatasanku akhirnya aku masuk ke lingkungan yang jauh dari angan-angan.

Comment by siapa — January 17, 2008 @ 11:16 am


mulia sekali niatmu nak…luar biasa…mungkin dunia perkedelaian indonesia akan berubah seandainya kau jadi sarjana pertanian.

Comment by navy — January 17, 2008 @ 1:37 pm


Hehe salah jurusan ya, tapi kalo gak gitu Yugie gak ketemu ama kita-kita kan ;)) Bersyukurlah bertemu dengan teman-temanmu nan manis, baik hati, rajin belajar dan menabung ini!

Comment by ophelia — January 21, 2008 @ 3:11 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>