Bela Sungkawa dari Radikal
Posted on January 30th, 2008 at 6:47 pm by navy

Saat menulis ini aku rasanya enggan, takut dicap mengikuti tren. Halah, tren pembahasan polemik Soeharto yang belum ada ujung pangkalnya di semua media, televisi, radio, koran, majalah, internet atau apalah, meskipun ia telah meninggal. Eneg. Sumpah. Tapi ini masalah kisah nyata. Sebuah kisah yang baru kuingat saat Soeharto berpulang. Kami, sebagian anak-anak DIANNS, telah mengirimkan belasungkawa untuk Soeharto sepuluh tahun yang lalu.

Ini terjadi sekitar bulan Maret 1998, saat Sidang Umum MPR digelar. Kami, beberapa anak-anak DIANNS, sebuah lembaga pers mahasiswa tingkat fakultas, ingin menyambut terpilihnya Soeharto sebagi Presiden RI ke-tujuh kalinya. Akhirnya disepakiti dengan membuat iklan layanan masyarakat yang ditempel di majalah dinding Radikal, yang terletak di depan ruang lima kampus FIA (Fakultas Ilmu Administrasi) Universitas Brawijaya Malang.

Kami membuatnya dengan rasa cinta. Detailnya aku lupa, tapi yang paling aku ingat ini: Kami turut berduka cita atas terpilihnya Soeharto sebagai Presiden RI ke-tujuh kalinya. Foto Soeharto dilingkari bunga-bunga, persis kayak iklan kematian di koran. Lalu paling bawah ada ucapan iklan layanan ini untuk menyambut terpilihnya Soeharto lagi sebagai presiden Indonesia. Itupun hanya kami tulis di selembar kertas folio monokrom, tidak ada warna lain selain hitam dan putih. Kami tak berniat menggulingkan kekuasaan, hanya untuk mengeluarkan uneg-uneg saja. Tujuh kali bo! Tak beres pula! Radikal gitu loh, majalah dinding yang pembacanya hanya anak FIA atau orang yang melewati selasar ruang lima. Okelah, pikir kami. Setelah menempelkan artikel-artikel di Radikal yang lebarnya hanya sekitar satu setengah meter kamipun pulang.

Hari minggu siang lalu oke saja menikmati berpulangnya Soeharto. Kata anak sekarang yang tidak mengikuti EYD: “Secara dia tokoh kontroversial (maaf bagi para loyalisnya)..”. Bisa dimaklumi kali ya. Minggu sore masih sedikit okelah, tentang proses dia kembali ke rumahnya di jalan Cendana. Kata Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun masih sempat kuucapkan. Malam masih ada beberapa tayangan televisi yang masih masuk akal karena angle-nya bagus, seperti wawancara personal dengan dokter kepresidenan yang merawat Soeharto kala kritis. Apalagi saat menyimak dokter paling kocak di tim dokter kepresidenan, dr Christian Johanes tiap kali temannya menjawab pertanyaan.” Boleh saya tambahkan bla..bla bla..” kata dia. Lucu sekali orang itu. Whery dan aku yang gagal berenang terbahak-bahak melihat tingkah dokter berkumis itu. Yoga sudah terlena di ujung kasur.

Paling males kalau berita yang diulang untuk kesekian kalinya. Mungkin stasiun televisi menganggap penonton Indonesia sudah pikun sehingga harus sering diingatkan. Capek deeeh. Senin pagi nafsu mengikuti kabar Soeharto mulai berkurang. Semua televisi nasional menayangkan prosesi pemakaman dari Cendana sampai Giribangun. Atau saat kereta jenazahnya dikerubuti masyarakat. Detik perdetik, tak ada yang terlewat. Bosan mulai tumbuh. Apalagi saat reporter atau Anchor berita memanggil dengan sebutan Pak Harto atau Haji Muhammad Soeharto. Aku berpikir, kok gak sekalian menyebut almarhum Bapak Purnawirawan Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto. Biar mantap. Lalu yang semakin membuat sebal adalah backsound lagu gugur bunga saat biografi singkatnya ditayangkan. Terlalu berlebihan.

Selasa, enggaklah. Bagiku sudah cukup. Masalahnya, yang diangkat hanya sisi baiknya saja. Pameo mikul dhuwur pendem jero, sepertinya diterapkan oleh banyak media. Bolehlah itu, tapi harus obyektif dong. Bapak pembangunan, penumpas PKI, pemimpin serangan umum sebelas Maret atau apalah. Tak pernah dibahas tentang pembunuhan besar-besaran di tahun 1965, perlakuan terhadap mendiang Bung Karno saat ajalnya datang, ketua DPR atu MPR yang sowan kerumahnya, kasus Kedungombo, presiden yang lama sekali menjabat, atau bisnis anak-anak Soeharto. Suharto boleh pergi tapi tuntutan negara harus tetap dilanjutkan.

Saat semua orang menunjukkan ucapan belasungkawa dan simpati kepada Soeharto sekarang. Aku pikir anak-anak DIANNS telah melakukannya sepuluh tahun yang lalu, meskipun tersirat. Selembar ucapan duka cita itu ternyata ditanggapi serius oleh ABRI yang saat itu Soeharto abeees. Satu mobil tentara malam hari dengan diantar satpam mengangkut radikal. Tak hanya selembar kertas ucapan itu tapi seluruh papan kayu juga diberesi. Ucapan yang Indonesia banget saat pagi menjelang: untung, anak-anak DIANNS gak ada yang nginep malam itu. Kalau enggak, paling kami disuruh menemani papan itu sampai kantor pasukan berbaju loreng ijo itu. Pastinya juga, kami akan disuruh menginap di sana.

Paginya heboh. Tak menyerah, kamipun melawan melalui surat pernyatan yang dikirimkan ke beberapa teman yang peduli. Radikalpun namanya kami tegaskan lagi, Radikal, Ora Wedi Dicekal. (Jw: Tidak takut Dicekal). Aku sedikit lupa apa yang terjadi selanjutnya, segala sesuatunya berjalan dengan biasa kembali. Kami masih bisa menginap di kantor DIANNS dan bermain gitar sampai pagi. Peristiwa berlalu begitu saja. Mungkin karena itu temen-teman yang mengkonsep iklan layanan itu seperti Wandi atau Bukhin sedikit lupa pas aku ingatkan tentang ucapan belasungkawa itu mereka balik bertanya. “Nav, kamu ingat kata-kata di ucapan duka cita itu itu?”

1 Comment »

eling bro,.yoo opo kabare iki,..arek2,..insyaallah aku resign dari gawe balik neng indo,…maret akhir,..,kerjo neng endi saiki ente.

Comment by andik asmoro — February 28, 2008 @ 7:57 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>