Perlawanan Bejo
Posted on January 30th, 2008 at 6:42 pm by navy

Bejo, teman kami itu juga salah satu orang yang bertanggung jawab atas pembuatan ucapan belasungkawa kepada Soeharto sepuluh tahun lalu. Badan dia kecil dan kurus, tingginya kira-kira 160 cm-an, kulitnya berwarna coklat kekuningan, lebih terang dibanding kulitku. Dulu ia suka memakai gelang. Tipikalnya arek Malang sekali. Bicaranya ceplas-ceplos, kata-kata cuk atau jancuk selalu terselip, suka bercanda dan tersenyum, cepat naik darah juga cepat turunnya. Cerita yang tetap kuingat sampai hari ini adalah saat ia SMA, Bejo yang punya nama lengkap Budi Raharjo bersama bersama seorang kakaknya mendatangi segerombolan anak STM yang sempat menggoda pacar Bejo. Mereka berdua membawa sebatang obeng besar yang siap dihujamkan. Kakak Bejo fisiknya juga mirip dengan Bejo, kecil dan kurus, Wawan namanya. Kalah mental, anak-anak STM itu lari terbirit-birit. Nekad dan berani itu memang tipis batasnya.

Bisa jadi anak-anak STM itu takut karena Bejo dan kakaknya berasal dari Mergan yang jaraknya dari STM itu sekitar 200 meter. Mergan, sebuah kampung yang terletak di Malang dikenal mempunyai banyak stok preman. Seperti kampung-kampung yang tersebar di Malang, rata-rata penduduknya bekerja non informal dan pendidikannya sebatas SMA, tak beda dengan kampungku Kidul Pasar. Selepas SMA meraka akan meneruskan tradisi, bekerja di sektor informal. Bejo beda, saat SMA ia masuk ke salah satu sekolah favorit di Malang. Ia juga kuliah, lain dengan tiga kakaknya. Tapi kelakuan nakal juga tetap ada pada dia, salah satunya: sekali-kali mabuk.

Ia cerdas, kami menyebutnya kompor nomor satu. Cara bicaranya sangat meyakinkan ditambah tatapannya yang tajam. Bejo dan Bukhin yang teman sekelas itu juga sering mendapat nilai buruk karena mendebat dosen di ruang kelas. Tak sekedar agitasi dan propaganda, kata-katanya juga kerap menaklukkan hati banyak wanita. Termasuk anak SMA. Bahkan ia sempat diperebutkan oleh dua mahasiswi baru. “Cucuke lunyu (jw: paruhnya licin),” istilah itu juga kami tempelkan kepadanya. Di angkatan kami, Bejo, Bukhin dan Aku, menjadi trio cowok yang bertahan di DIANNS. Lainnya perempuan semua. Kami bertiga pula yang sering menginap di kantor redaksi bersama Gibran, Joey dan Wandi, teman-teman yang angkatannya di atas kami.

Banyak hal yang kami lakukan di malam hari saat di DIANNS, mengobrol, bernyanyi dan bermain gitar menjadi menu utama. Bejo sangat suka lagu-lagu Iwan Fals. Matanya kerap terpejam saat membawaan lagu Iwan Fals. “Karena ia kritis,” jawab dia saat kutanya alasan kenapa ia suka Iwan Fals. Mengangkut bunga beserta dan potnya dari kantor Rektorat ke kantor DIANNS juga menjadi salah satu kegiatan kami di malam hari. Kami berprinsip barang itu tetap milik kampus, cuma tempatnya saja dipindahin. Tak hanya pot, tapi juga beberapa barang yang lain, tong sampah, bangku taman yang terbuat dari beton dan beratnya naudzubillah itu.

Saat mading Radikal yang berisi ucapan belasungkawa kepada Soeharto karena terpilih lagi menjadi presiden diberesi serdadu, Bejo juga salah satu orang yang tiarap. Ia jadi tidak bisa menginap di kantor redaksi, ia pulang ke Mergan. Beberapa bulan kemudian, anak-anak DIANNS harus rapat kerja di sebuah villa di Batu. Untuk sampai ke villa itu kami harus melewati kantor Kodim atau apalah, pokoknya kantor ABRI. Radikal kami diangkut oleh tentara Malang, aku yakin kantor ABRI Batu ini tidak tahu apa-apa. Melihat ada seorang tentara yang sedang mencuci motor. Bejo protes. Sambil melewatinya ia bicara keras sambil melihati tentara itu. Bejo bilang begini: “Lik balekno Radikalku, lik..” (jw: Om kembalikan Radikalku, om).

Tentara celingak-celinguk tidak tahu maksud Bejo..

Zero Comments »

No comments yet.

Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>