Komentator Indonesia Versi Terbaru
Posted on March 4th, 2008 at 3:40 am by Ophelia

Sebagai pecinta bola, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada nonton tim kesayangan di layar kaca ditemani para komentator seru yang mengerti betul apa yang mereka bicarakan. Sayangnya hal semacam ini kok rasanya menjadi barang mahal di televisi Indonesia mengingat para komentator kita itu ya cenderung berlebihan dan malah terkadang jadinya sok tahu banget.

Saat mau nonton pertandingan, biasanya aku memilih menyalakan TV atau mengganti siaran sekitar 2 atau 3 menit sebelum pertandingan dimulai. Tentunya agar tidak perlu mendengarkan segala macam bentuk kesok-tahuan atau ocehan mereka. Memang tidak semua sih komentator bola kita begitu, tapi bisa dibilang sebagian besar iya. Contohnya nih dahulu sekali sewaktu SCTV dengan gagah berani menayangkan Serie A yang saat itu hak siarnya paling mahal (sekarang juga masih mahal walau sudah kalah dari EPL), aku ingat banget itu pertandingan Lazio versus Fiorentina. Eh tanpa dinyana sang komentator malah berceloteh panjang lebar soal Juventus, koleksi gelar juara yang telah mereka menangkan tanpa saingan berarti selain AC Milan, serta tentunya jumlah kekayaannya. Di lain waktu, komentator lain yang cukup netral malah ditantang oleh pembawa acaranya yang bilang, “Tim favorit Anda Lazio kan?” What the hell! Helloooooo …. let’s go back to the game please!!

Saat ANTV mengumumkan kalau mereka menayangkan FA Cup, aku merasa cukup senang karena sebagai kompetisi piala tertua di dunia kompetisi ini pantang untuk dilewatkan. Tapi ternyata para komentatornya masih saja suka bikin geregetan, terutama untuk acara bincang-bincang olah raga World Kick-Off atau apalah itu nama programnya aku lupa. Sumpah tuh acara gak banget. Selain infonya telat, Madrid kalah dari Getafe itu kejadian minggu lalu pak!, dua pembawa acara perempuannya kok sepertinya dipaksakan keberadaanya. Bukannya gak suka, tapi kalau dipersiapkan dengan lebih matang pasti lebih oke walau aku agak pesimis juga sih mengingat konsep acaranya memang sudah kacau dari awal.

Paling parah adalah kejadian-kejadian di mana para komentator salah menyebutkan pemain! Sumpah aku aja yang matanya minus bisa membedakan yang mana Alonso yang mana Mascherano dari gaya larinya tanpa harus melihat nomor punggung. Untungnya sih para komentator dari RCTI tidak parah-parah banget. Bayangin aja kalau semua stasiun TV salah milih komentator! Tapi tetap saja, aku lumayan terganggu ketika semua komentator ini melebih-lebihkan sebuah pertandingan dan melabelnya sebagai aksi balas dendam, aksi penyelamatan diri dari pemecatan … bla bla bla. Maksud aku, sepertinya pertandingan-pertandingan tersebut tidak segenting pecahnya Perang Dunia IV atau masalah Global Warming deh jadi biasa ajalah!

Tapi ternyata bukan hanya komentator Indonesia yang jago sok tahu, para komentator asing juga begitu. Ada beberapa nama komentator yang cukup rese, tapi ada satu yang luar biasa snob! Pernah nih nonton siaran langsung Liverpool di musim 2006/2007 (waktu EPL belum semahal sekarang dan masih gretong), sepanjang pertandingan David Platt mengkritik Rafael Benitez dan bilang, “Seharusnya Rafa begini … dia harusnya begitu … nanti dia akan bisa begini … jadi dia memang harus begitu …” Sebagai catatan saja Rafa telah memenangkan piala Champions League Eropa dan Piala FA bersama Liverpool dan sebelumnya telah memenangkan gelar La Liga dan Piala UEFA bersama Valencia. Who the hell David Platt thinks he is? Pencapaian terbaiknya sebagai pelatih hanya sejauh menjadi pelatih Briton pertama di Sampdoria, itupun tidak lama sebab semua klub lain menentang penunjukkannya karena tidak mengantungi ijazah melatih di Serie A, Italia. Mungkin memang istilah ’sirik tanda tak mampu’ itu muncul bukan tanpa alasan ya?!

Karena sudah kadung pesimis dengan komentator Indonesia, aku cukup terkejut ketika Minggu malam kemarin nonton pertandingan Eredivisie antara Ajax dan Excelsior di Lativi yang sekarang sudah jadi TVOne. Darius dan komentator yang aku selalu lupa namanya saling berdialog di sepanjang pertandingan layaknya komentator-komentator luar. Selain menyebutkan nama setiap pemain dengan benar (harusnya begitu bukan?), mereka juga memberikan info-info tentang setiap pemain dari kedua tim (bukan hanya tim favorit layaknya kebanyakan komentator), para fans, stadion, dan berbagai hal lain yang memperkaya pengetahuan soal bola. Peduli amat mereka itu baca atau memang hafal luar kepala, yang penting aku menikmati semua komentar-komentar mereka.

Seharusnya komentator bola kita seperti ini, fokus pada pertandingan tanpa benar-benar harus setiap saat menyebutkan siapa passing ke siapa kemudian diteruskan kepada siapa dan lalu ditendang oleh siapa. Meminjam ucapan guru jurnalisme televisi SBM nih tentang tayangan berita televisi, “Narasi itu jangan sampai mengulangi apa yang ditunjukkan secara visual di layar namun memperkaya gambar tersebut dengan hal lain yang tidak terlihat saat itu.” ~oph~

4 Comments »

Yugieee aku udah pake more jadi ga boleh marah ya! :D

Comment by Ophelia — March 4, 2008 @ 3:45 am


nda marah kok =))

Comment by siapa — March 4, 2008 @ 6:24 am


komentator koq dikomentari. jadinya kan komentatornya komentator yang mengomentari komentator karena g becus berkomentar. hehehe..

salam hangat dari malang.

Comment by nunur — May 25, 2008 @ 4:30 pm


walah emang mahasiswa yang asal komentar mulu, hari gini mereka dibayar mahal untuk menyuguhkan komentar menarik bukannya hal-hal yang udah bisa diliat mata.

malang makin panas ya kok salamnya hangat :P

Comment by Ophelia — May 31, 2008 @ 5:57 am


Comments RSS TrackBack URI

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>