gapentingbanget dot com
Archive for July, 2008
Tiga Gadis Kecil
Author: OpheliaAku melihat mereka menaiki bus jurusan Blok M-Pulo Gadung ini. Tubuh-tubuh mungil mereka menyelinap di antara para penumpang yang berdiri. Mereka berusaha mencari tempat memantapkan pijakan kaki sebelum mulai bernyanyi, ketiganya anak perempuan berusia sekitar 10-12 tahun. Dua di antara mereka memegang ukulele dan satu orang membawa semacam bongo kecil.
Aku tidak bisa berhenti memandangi mereka. Sambil bernyanyi, mereka terus saling berpandangan dan kau pasti bisa merasakan kehangatan senyum lebar mereka di tengah-tengah lagu yang mereka nyanyikan. Read the rest of this entry »
read comments (0)surat cinta
Author: tigabelasAKU pernah sekali menulis surat cinta.
Setidaknya, aku menganggap itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang penuh dengan pernyataan sayang dan ungkapan kasmaran.
Surat cintaku tidak kutulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula aku masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna merah jambu yang distempel kecup bibir.
Surat cintaku biasa saja. Read the rest of this entry »
read comments (3)Untuk Apa?
Author: tigabelasUntuk apa Tuhan menciptakan kita di dunia ini?
Jawaban saya sih, simpel, dan mungkin terkesan nggak mau mikir. Tapi sungguh, ini jawaban yang saya dapat untuk tahun-tahun ketika pertanyaan itu bermain di benak saya.
: untuk menjadi lebih baik.
Sesederhana itu.
Dan, saya terlongo-longo mendapati kenyataan bahwa ternyata upaya menuju ke sana tak pernah sesederhana kata ‘baik’ itu sendiri. [13]
read comments (0)Ralat : Bukan Cinta
Author: tigabelasKita hampir bercinta.
Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita. Dengus napas panasmu yang memburu, atau gesekan kulit yang lengket karena keringat. Kaubilang, mungkin karena bibirmu rindu disentuh bibirku.
Hahaha.
Masa iya? Bukankah semuanya sudah jelas buat kita. Cerita kita sudah usai. Selesai pada waktu yang kita pilih: dua tahun yang lalu. Lantas, kenapa juga masih mendamba? Read the rest of this entry »
read comments (1)Merayakan Kematian
Author: tigabelasSeharusnya kita merayakan kematian.
Begitulah saya kerap berpikir. Betapa kematian harusnya dihadapi dengan sebuah perayaan yang hingar-bingar—tak berarti pesta yang meriah, orang bisa merasakan gempita dalam kesendiriannya, kok. Penuh senyum. Dan tentunya, dengan segenap rasa bahagia.
Bahagia saja.
Bukan ikhlas. Bukan sabar. Sebagai mana nasihat bijak yang diberikan orang kepada mereka yang ditinggal pergi.
read comments (0)