gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

You are currently browsing the gapentingbanget dot com weblog archives for March, 2009.

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Archive for March, 2009

Jangan Takut

Author: tigabelas
22.03.2009

Belakang ini saya sadar, saya semakin sedikit memiliki waktu untuk melakukan ritual berbicara dengan diri sendiri (baca : menulis).

Padahal, dalam beberapa bulan belakangan ini, ada banyak hal yang saya lalui dan sebenarnya menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Namun, atas dasar sibuk, menjelmalah saya menjadi makhluk autis yang bahkan enggan berbagi dengan diri sendiri.

Sungguh, saya sudah mengebiri ide-ide yang datang di kepala saya.  bersikap tidak adil kepada gagasan yang memiliki hak untuk lahir.

Hari ini, saya ingin minta maaf.

Minta maaf kepada halaman kosong yang belum terisi. Minta maaf kepada cerita-cerita yang terlewatkan begitu saja di otak tanpa sempat dibagi.

Jadi, apakah kalian masih ada di sini dan mendengarkan cerita dari saya?

Kalau tidak, kalian boleh melewatinya. Tapi saya tetap akan menulis dan meneruskan cerita saya. Bukan buat siapa-siapa, tapi lebih untuk diri saya sendiri agar tidak menjadi egois.

Dan inilah cerita pertama saya. Buah tangan dari Malang, sebagai pengganti kripik apel yang sudah dihabiskan oleh teman-teman saya di kantor. ;)

Here is the story….

Pekan lalu, tepatnya 15 Maret 2009, atas undangan dari teman-teman Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya-Malang (Ajeng, Nita, terima kasih ya sudah berbaik hati membuat saya bisa pulang ke Malang! ), saya didaulat menjadi pembicara di sebuah talkshow. Tema talkshow-nya cukup provokatif : Ilmiah Vs Popular.

OMG!

GAWD!—lagi suka ngikutin gaya bahasanya Rashi di novel Reputation karya Tessa Intanya.

Serius. Saya tidak pernah membayangkan diundang oleh kampus tempat saya pernah kuliah untuk jadi pembicara dengan tema yang ‘seserius’ itu.  Bersama saya, ada Raditya Dika yang mewakili kubu popular, dan satu lagi seorang dosen sekaligus ilmuwan, Pak Sabbarudin, mewakili kubu ilmiah. Saya tanya tugas saya apa? Jawab panitianya kalem: wasit. (Oh, suddenly, I thought that I need priwitan on that moment. Ehem… do you know what is priwitan? itu loh peluit.)

Well, oke. Saya tidak akan menceritakan jalannya talkshow. So far, semua berjalan menyenangkan. Pesertannya banyak, sekitar 300 orang dan mereka juga aktif bertanya tentang penulisan popular dan ilmiah.

Yang justru ingin saya ceritakan adalah kejadian sebelum saya naik ke panggung. Saya duduk di kursi peserta. Mendengarkan dengan ‘serius’ pemaparan Pak Sabbaruddin dan Radith. Sementara otak saya sedang mencerna obrolan dua pembicara tersebut, Nita—salah seorang panitia mendatangi saya. Dia bilang ada dua orang yang pengen ketemu dengan saya. ‘Katanya cuma mau kenalan dan minta kartu nama, Mbak,’ jelas Nita.

Saya mengerenyitkan kening. Hah? Buat apa? Ah, oke sajalah. Sedikit ngerasa bangga sah kan? Tiba-tiba ada yang mau ngajak kita kenalan? Hehehehe. Saya pun manggut-manggut dan mengikuti langkah Nita menuju meja registrasi. Di sana berdiri dua orang, cowok dan cewek berpakaian sangat rapi. Tebakan saya, mereka baru pulang dari gereja.

Yang cewek menyapa saya ramah. ‘Mbak Windy, ya?’ tanyanya sambil mengulurkan tangan. Saya balas mengulurkan tangan dan tersenyum. ‘Kami berdua pengen kenalan aja sama Mbak Windy dan minta kartu nama,’ lanjutnya.

Saya tersenyum. ‘Oh boleh!’. Saya pun mengulurkan kartu nama saya. Mereka berdua memperkenalkan diri sambil memberikan kartu nama mereka. Mereka bilang, mereka tertarik jadi penulis dan ingin mengirimkan naskahnya ke GagasMedia. Tentu saja saya senang bukan kepalang. Yang paling membahagiakan kerja di penerbit adalah ketika penulis ingin menerbitkan karyanya di penerbit kita. Kepercayaan adalah compliment yang tiada tara buat kami.

‘Kalau saya ke kantor Gagas, saya akan bertemu dengan siapa, Mba?’ tanya yang cewek.

‘Bilang saja ke receptionist kalau kalian mau bertemu dengan redaksi Gagas,’ terang saya.

‘Aduh! Nanti saya diperlakukan sama seperti Radith yang ada di film KambingJantan,’ jawab si cewek berbaju putih itu. Cowok yang ada di sebelahnya mengangguk membenarkan.

Sesaat saya terdiam.

‘Maksud kami kenalan dengan Mbak Windy supaya kami tidak diperlakukan sama kayak di film tersebut. Kan di film diberitahu kalau kirim naskah ke Gagas harus punya kenalan orang dalam baru diperlakuan baik. Kalau nggak kenal, dijudesin,’ terang kedua orang itu.

Kali ini saya manggut-manggut sambil tersenyum. I got their point. ‘Oh, nggak begitu. Apa yang ada di film itu nggak benar kok. Proses Radith diterima naskahnya di Gagas tidak seperti itu,’ saya menerangkan.

Kedua orang itu saling lihat-lihatan. ‘Jadi?’ Mereka meminta penjelasan lebih lanjut. ‘Kejadian naskah Radith diterima sengaja dibuat berbeda dengan kenyataannya atas dasar kepentingan film,’ terang saya.

‘Berarti kami tidak akan diperlakukan seperti itu?’ tanya yang cowok. Saya menggeleng tegas.  ‘Kalau kalian ingin menyerahkan sendiri naskah ke kantor Gagas, cukup datang saja. Editor Gagas yang sedang ada di kantor akan turun dan menemui kalian kok. Tidak ada orang yang sejudes itu di kantor Gagas,’ jawab saya.

‘Wah kalau sudah begini saya kan jadi lega, Mbak!’ Si cewek menimpali. ‘Saya sempat takut mau ke Gagas. Makanya, waktu tahu Mbak Windy akan ke Malang, saya mau kenalan dulu.’

Saya mencoba tertawa.

Aduh! Sedih rasanya ada yang salah tangkap begini. Saya jadi teringat tiga e-mail yang masuk ke saya, yang juga mencoba mengonfirmasi soal tata cara pengiriman naskah ke GagasMedia, apakah memang seperti yang ada di film KambingJantan? Bahkan, seorang pembaca sekaligus penonton dengan baik hati mengirimkan link sebuah blog yang me-review film, yang kebetulan membahas adegan Radith mengirim naskah ke ‘GagasMedia’.

Saya memang belum membalas e-mail mereka. Nah, sejak ada kejadian yang di Malang, saya pikir, daripada harus menjelaskan satu-satu, mendingan saya menulis di blog ini saja.

Terima kasih untuk Putri, Akhsan, dan Iwan yang sudah berkirim e-mail ke saya. Untuk  Reshindy Adi Kiyoto(Hey! U have a kewl name) dan temannya, terima kasih juga sudah mau mampir ke talkshow di Malang hanya untuk berkenalan dengan saya. I do appreciate it.

Jangan takut untuk berkirim naskah ke GagasMedia, apalagi main ke kantor Gagas. Gagas tidak akan memperlakukan kalian berbeda kok. Semua penulis buat kami adalah teman dan sahabat. GagasMedia bukan apa-apa tanpa kalian.

GagasMedia, tumbuh besar dan belajar bersama kalian semua. Jadi, kenapa pula GagasMedia harus membedakan siapa pun yang ingin berteman dan belajar bersama kami?

Untuk semua penulis dan pembaca buku-buku GagasMedia, terima kasih telah menjadi teman!

 

Salam,

13

 

kurang dari lima puluh

Author: siapa
17.03.2009
ghosty1st.blogspot.com

Sempoa

UNTUK NEGARA KU TERCINTA