gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

You are currently browsing the gapentingbanget dot com weblog archives for May, 2009.

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Archive for May, 2009

22.05.2009

Apakah kalian pernah melewati satu fase di mana kalian memulai sesuatu tanpa merencanakan akhirnya?

Atau merancang sebuah cerita tanpa pernah tahu seperti apa penutupnya?

Aku pernah.

Dan sayangnya, aku terlalu menikmati jalan ceritanya. Aku lupa, semua cerita harus memiliki muara. Seperti air sungai yang berkumpul di samudera.

Jangan anggap ini sebagai sebuah nasihat atau cerita bijak. Percayalah tidak ada yang bisa diambil dari cerita ini. It’s just a story of mine. And one of my stories is over now.

The story of my blue horizon turns into history.

***

Kau boleh percaya. Kalaupun tidak, juga tak apa. Ketika aku menuliskan ini, mendadak hujan turun. Bahkan tanpa rintik di awal. Gelegar petir menyambar, membuat kaca di Black Canyon sedikit bergetar.

Aku masih di sana, di tepi jendela. Getaran kaca menyadarkan aku kepada sesuatu. Refleks aku menoleh ke luar. Langit di atas sana tak lagi biru. Ia telah berubah kelabu.

Aku hanya ingin kau tahu. Hatiku tidak berubah menjadi abu. Pesan yang kau tinggalkan di salah satu account jaringan sosialku memang cukup membuat termangu. Setelah lama tak bertukar kabar, mendapati namamu ada di dalam inbox cukup membuatku berdebar.

To be honest, I already predicted what it was.

This was about the ending of our story.

Percayalah, aku tidak terkejut.

Oh, sedikit kehilangan. Tentu saja.

Dan ini yang justru lebih mengejutkan aku. Merasa kehilangan.

***

22 Januari 2009, pesan itu masuk ke inbox Friendsterku.

Dari namanya saja aku sudah tahu. Engkaulah biru itu. Entah apa yang mendorongku untuk menunda membuka pesanmu.

Ini berbeda dari biasanya. Dulu, setiap kali mendapati namamu di inbox e-mail atau Friendster, aku selalu bergegas membukanya. Seharian, aku bisa tersenyum. Padahal, itu hanya e-mail singkat yang terkadang sekadar penanda kalau kita masih saling mengingat.

Entah mengapa hari ini aku tak ingin tergesa. Judul pesanmu pun sebenarnya tampak netral. Tak mengindikasikan apa pun. Hanya saja, sebuah suara yang berbisik halus di balik telinga, membuatku menunda membukanya. Ini terdengar tidak logis untuk orang yang realistis. Tapi, satu ketika kamu harus memercayai intuisi.

Ia memberitahumu sesuatu yang segera akan kauhadapi.

Dan dugaanku benar. Intuisi tidak pernah bisa diabaikan. Berteman baiklah. Sebab kenyataan akan menyusup diam-diam, menjelma firasat yang memberikan tanda untukmu dari balik sebuah kenyataan.

Apa yang disisakannya untukmu?

Kenangan.

Itu tak akan bisa kauhilangkan dari ingatan, sekalipun kau ingin menguburnya. Serapat apa pun. 

Aku ingin mengingatnya sebagai sebuah cerita yang layak kita bayangkan, bisa sambil tersenyum, bisa juga sambil menghela napas. Bahkan mungkin suata saat, kita akan tergelak mengingat kebodohan-kebodohan yang kita lakukan.

Tak ada yang salah. Dan seperti yang kautuliskan. Sebagian dari kenangan itu sebaiknya memang tetap tersembunyi. Menjadi obrolan imajiner kita di meja makan.

…. I’m gonna let this story remain hidden deep inside. And remembering what happened on the night before you leave, inside the maroon red ***** skylark. Some memories are best kept hidden.

Tidak ada yang perlu berubah, selain mengingat semuanya sebagai sebuah cerita yang harus kita kenang dalam diam.

***

Angka 22 tak pernah istimewa buatku. Dan tiba-tiba dua angka kembar ini menjadi penanda yang cukup menarik untuk sebuah ucapan selamat menciptakan cerita baru.

Instead of goodbye sign, this number turns into a sign to say ‘Welcome to the new story of our life.’

Tak ada ucapan selamat tinggal yang perlu diucapkan. Karena tak ada yang benar-benar kita tinggalkan. Kau dan aku hanya berpindah ke cerita lain.

Dan ini yang mungkin membuat aku merasa kehilangan. Cerita kita sudah tak lagi berjalan pada plot yang sama.

Aku dan kau tak lagi berada dalam satu cerita.

***

Kata orang, ada terlalu banyak kebetulan dalam hidup. Tapi menurutku, ini  bukan kebetulan. Segala sesuatunya sudah terencana. Ini pertanda. Alam memberi isyarat, dan kita membacanya. Hanya terkadang, kita tak pandai memberi makna.

Hujan berhenti ketika tulisan ini selesai.

Perlahan langit kembali biru.

Yep, some memories are best kept hidden.

I agree with you.

22 Maret 2009, aku mengirimkan pesan balasan untukmu tanpa berharap akan menerima balasan. (13)

 

Black Canyon, 22 Maret 2009

Dan hujan pun reda di luar sana.

 

*) Ini cerita terakhir saya tentang ‘Biru’. Seharusnya diposting tanggal 22 April 2009 lalu, namun saya mengurungkannya.

Makanan Indonesia Tidak Sehat

Author: tigabelas
22.05.2009

Saya sebenarnya doyan makan.

Hanya saja, saya tidak memakan segala hal sebagaimana kebanyakan orang di sekitar saya yang omnivora. Saya pengonsumsi sayur dan buah saja. Ya kategori herbivora deh! Sebutan kerennya sih vegetarian dan frutarian. Tapi, saya lebih suka menyebut diri saya pesco vegetarian, karena sesekali saya mengonsumsi ikan. Jam makan dan porsi makan saya berbeda dengan sebagian besar orang. Makan sekali sehari cukup buat saya. Tapi kalau soal minum, saya memang bocor. Karena kebiasaan yang seperti inilah, saya dilabeli sebagai manusia yang nggak doyan makan.

***

Omong-omong, kali ini, saya nggak mau ngomongin di mana tempat makan yang enak kok. Kalau pun saya tiba-tiba merekomendasikan tempat makan, pasti keburu semua meragukan. Bukan meragukan rasa makanannya, tapi mereka sangsi kalau apa yang saya makan, bisa mereka makan. Sama seperti bagaimana teman-teman saya tidak akan pernah menyerahkan urusan konsumsi kepada saya. Kata mereka, bisa mati kelaparan kalau saya yang mengurus konsumsinya. Saya maklum dan sadar diri, kok. Pengetahuan kuliner saya dangkal. Indera pengecap saya tidak menjelajah sebanyak yang lain. Saya cuma tahu rumah makan yang sayurannya enak. Di luar itu, NOL besar.

Nah, kalau saya yang dianggap nggak doyan makan ini tiba-tiba mau membicarakan makanan, saya rasa nggak bakal banyak yang percaya tulisan ini. Hm, semua ini dipicu oleh tulisan di sebuah majalah yang memuat wawancara dengan seorang—konon, katanya—chef perempuan. Chef ini punya acara masak-masak kok di sebuah stasiun televisi swasta. Belakangan, sepertinya dia lagi naik daun.

Tulisan itu sifatnya tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan buat saya sih cukup oke. Tapi beberapa jawaban si chef bikin saya mikir dan bertanya-tanya apa memang begitu. Sekadar informasi, tema majalah itu secara keseluruhan adalah makanan lokal. Ceritanya, mereka mau membahas makanan asli Indonesia.

Menurut apa yang ditulis, si chef ini sekolah di Amerika dan belajar masak juga di Amerika. Tapi sebagai orang Indonesia, dia mengaku sangat cinta makanan Indonesia. Sampai pada pertanyaan yang meminta pendapat dia tentang makanan Indonesia. Kalimat tepatnya saya lupa. Tapi di situ dia bilang dia sangat suka makanan Indonesia meskipun makanan Indonesia itu tidak sehat.

Nah, kalimat inilah yang membuat saya tergerak buat menulis soal makanan. Di situ nggak dijelaskan mengapa chef ini bilang kalau makanan orang Indonesia itu nggak sehat. Well, jadi saya mereka-reka saja maksudnya. Bisa jadi saya salah tangkap kan?

Sebenarnya, saya kurang sepakat dengan pernyataan yang tak diberi penjelasan itu. Bagaimana mungkin dia bilang makanan Indonesia tidak sehat? Makanan dan cara masak itu berbeda, buat saya.

Kalau ngomong makanan Indonesia, menurut saya makanan kita justru sehat. Karena hampir semua dari bahan alami. Kalau bicara makanan tradisional kita, nenek moyang kita mengolahnya dari alam. Mana ada yang diolah dari bahan kalengan atau bahan yang diawetkan. Bahkan, mereka telah mengenal teknik pengawetan makanan secara alami tanpa perlu menggunakan bahan-bahan kimia.

Di mana kita bisa menemukan makanan yang segar begini kalau bukan di negara-negara Asia? Indonesia salah satunya. Rempah-rempah kita sangat beragam dan kaya rasa. Supaya kari berwarna kuning, kita bisa pakai kunyit. Supaya rasa pedasnya mantap, kita tinggal masukan cabe rawit. Supaya tenggorok hangat, keprok saja jahe, campurkan dengan teh. Supaya awet, sayur dan buah dijadikan asinan, daging-dagingan dijadikan dendeng.

Coba, mana yang tak sehat? Bandingkan dengan cara makan orang Amerika—well, saya termasuk orang yang percaya cara berpikir sebuah bangsa itu bisa dilihat dari cara makannya. Semua serba instan dan olahan. Kalau kamu pergi makan seafood di restoran Amerika, kamu nggak bakal melihat suasana kayak restoran atau warung seafood kita. Semua bahan telah dibekukan. Mereka tinggal goreng. Nggak perlu ulek-ulek bumbu. Sudah banyak bumbu botolan atau kalengan yang siap pakai.

Makanan dari bahan segar hanya akan ditemukan di restoran asia atau eropa. Yang asli Amerika? Ugh! Enjoy your fast food. Saya pernah diajak makan di restoran seafood di Bryson City, NC. Teman Amerika saya dengan bangganya ingin mengajak saya makan seafood. Lama nggak pernah makan yang beginian, semangatlah saya mendengar tawarannya. Dia bilang itu restoran seafood paling besar dan terkenal di kota ini.

Yang paling besar dan paling terkenal memang belum tentu paling enak. Saya menemukan restoran yang dingin dan rapi. Pengunjungnya memang banyak bukan main. Semua meja penuh. Untuk dapat tempat disarankan buat reservasi dulu. Makanan saya datang dalam hitungan 15 menit. Saya pesan ikan dan hush puppies (sampai sekarang saya nggak pernah tahu kenapa namanya hush puppies dan terbuat dari apa makanan ini). Di piring saya ada fillet ikan goreng tepung dan semangkuk kecil mayonnaise. Sambal atau cabe? Ah, itu hanya mimpi. Mereka memberi saya tabasco. Itu saja. Dan semua itu bukan dari bahan alami. Ugh. Saya hanya menghabiskan separuh.

Jadi, saya heran ketika chef ini bilang makanan Indonesia nggak sehat. Obesitas justru terjadi di Amerika karena pola konsumsi makanannya dan apa yang dikonsumsinya.

Jadi mana yang tidak sehat sih?

***

Chef perempuan ini juga bilang kalau dia sengaja belajar kuliner di Amerika soalnya waktu itu kuliner di Indonesia belum berkembang. Hm, mungkin saya memang terkesan nyinyir untuk ukuran orang yang nggak tahu kuliner. Tapi, sungguh, adakah yang bisa menerangkan ke saya, kapan sih sebenarnya era kebangkitan kuliner Indonesia?

Saya khawatir, ini sudah lama, cuma kitanya aja yang nggak sadar.

Saya pernah kerja sambilan di sebuah hotel. Kebetulan, kebanyakan teman saya kerja di restoran hotel itu. Itu terjadi sekitar tahun 2003-2004. Nama hotel tempat saya bekerja adalah Holiday Inn. Restorannya sangat terkenal di kota Cherokee, namanya Chesnut Tree Restaurant. Menjelang brunch dan dinner, ramainya minta ampun. Antrean reservasinya bisa sangat panjang. Kalau sudah begini, pelajar-pelajar internasional yang kerja sambilan bisa panen uang karena overtime. Salah satu teman akrab saya di sana bercita-cita jadi chef. Dia memang sekolah perhotelan. Jadi kerja di dapur sebagai cook—kalau di dapur kasta cook di bawah chef—buat dia adalah pengalaman yang berharga.

Chef kami sekolahnya di New York. Teman saya dan chef ini suka sekali ngobrol segala hal. Dari teman saya inilah kemudian saya jadi tahu kalau dunia di balik dapur itu seru. Kata chef—saya sudah lupa namanya—kalau mau belajar masak jangan di Amerika. Amerika sebenarnya nggak kenal budaya dan seni masak itu. Kalau ingin jadi chef andal, sebaiknya belajar dari Asia atau Eropa. Seni masak yang sesungguhnya berkembang di dua benua ini. Soalnya bangsa-bangsa ini menciptakan resep dari bumbu-bumbu alami.

Selain di Chesnut Tree, kami juga punya teman yang menjadi chef di Best Western Restaurant—saya kenal dia juga dari teman saya. Yang ini chef asli dari Italia. Tiramisu dan Cheesecake-nya luar biasa enak! Saya bisa menghabiskan sepotong besar tiramisu ataupun cheesecake-nya. Dia membuatnya sendiri. Dia juga dikenal sebagai chef yang jago banget untuk makanan eropa, mengingat memang dari situ dia berasal. Setelah restoran tutup di malam hari, ia biasanya bertandang ke tempat tinggal saya yang memang banyak sekali pelajar asing berkumpul. Kami menyambutnya dengan hangat. Selain memang orangnya menyenangkan dan gaul, dia juga suka sekali membawa tumis buncis atau jamur yang dimasaknya dengan bumbu segar (glek, mendadak saya jadi lapar).

Dari dia, saya dan teman-teman jadi tahu bahwa seseorang disebut chef karena dia menciptakan masakan, bukan sekadar memasak. Dia juga bilang hal yang sama dengan chef di Holiday Inn, jangan belajar masak dari orang Amerika. Mereka tidak pernah benar-benar tahu seni memasak itu. Dia bilang, beruntung kalian orang Indonesia, punya banyak resep yang original. Sama seperti dia merasa beruntung dilahirkan di Italia dan belajar kuliner justru di Italia, sebelum akhirnya dipercaya menjadi chef di Best Western Restaurant. Menurut dia, ini yang membuat makanan di Best Western Restaurant berbeda dengan yang lainnya. He cooks with passion.

Kalau mengingat itu semua, wajarkan saya bertanya, memangnya kapan kuliner kita tepatnya mulai bangkit? Jangan-jangan kita saja yang ndak sadar kalau bangsa lain sudah lama sekali berguru pada kita.

***

Lain cerita kalau yang dimaksudkan si chef perempuan itu adalah cara memasak. Tapi, kita juga nggak bisa bilang kalau cara memasak orang kita tidak sehat. Buat saya, cara memasak nggak ditentukan oleh bangsanya kok. Itu sih tergantung tukang masaknya saja. Dan buat memasak dengan cara masak yang sehat, kita bisa belajar di mana saja.

Kalau mau sehat dan bersih, siapa saja pasti bisa selama dia disiplin. Iya kan?

20.05.2009

SAAT itu menjelang musim dingin di tahun 2003 ketika saya bertandang ke F.D. Roosevelt Park.

Udara malam yang menggigit ditambah embusan angin musim dingin membuat permukaan telapak tangan saya terasa sakit dan nyeri. Padahal sepasang sarung tangan wol telah membungkusnya. Sesungguhnya saat itu, saya hampir menyerah karena kaki pun mulai terasa seperti ditusuk.

Angin menampar wajah saya yang terasa kaku. Bahkan, ketika saya berdiri di depan patung Roosevelt, saya bisa merasakan ia juga membeku. Permukaan patung itu terasa dingin. Namun, tembok-tembok yang mencatat cetusan gagasan-gagasan persamaan hak asasi manusia Roosevelt memberikan rasa hangat tersendiri.

Saya sempat bergetar kita melihat tulisan besar ‘I Hate War’ di tembok taman itu. Antara terharu dan pilu. Bagaimana tidak, invasi ke Irak oleh Amerika Serikat baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Sementara, di taman ini, saya justru sedang termangu-mangu membaca ide-ide perdamaian yang digagas oleh salah satu presiden AS, negara yang malah saat itu tengah mengobarkan perang.

Membaca ‘Tentara Bayaran AS di Perang Irak’, selain membuat saya teringat dengan tulisan besar yang saya temukan di F.D. Roosevelt Park malam itu, juga membuat saya melek tentang praktik bisnis yang dilakukan AS dengan memanfaatkan perang. Bagi AS, perang bukanlah sebuah tragedi kemanusiaan, tetapi sebuah lahan bisnis yang memerlukan ‘sedikit’ pengorbanan. Di balik semua kehancuran yang mereka ciptakan, dengan mengatasnamakan rekonstruksi Irak, AS bahkan tetap bisa memanfaatkannya sebagai sumber ekonomi yang menguntungkan mereka.

***

LALU, apa gunanya F.D Roosevelt Park ini dibangun? Dia bahkan tak mampu mengingatkan AS bahwa akhir dari satu perang adalah awal dari perang-perang yang lain. Semua ide perdamaian itu, hanya jadi hiasan taman yang layak dikagumi oleh warga AS—bahkan setiap orang yang datang ke sana, namun bukan untuk dipahami dan dilakoni.

Saya sempat berbisik kepada teman Amerika saya. ‘I guess, Roosevelt must have had enough time for doing conversation with God, right now.’ Teman saya mengerutkan kening. ‘About what?’ dia balik bertanya.

About his concept. His concept is not accepted on his land. Freedom and peaceful is only valid in heaven. So, he only could talk about it to God!’ saya menjelaskan. Dia tertawa. Lalu kami berkelakar, Roosevelt mungkin saat ini sedang curhat kepada Tuhan, bahwa di dunia, ide-idenya tentang kemerdekaan dan perdamaian hanya jadi cerita sejarah yang menghiasi taman. Ironisnya, yang melakukan adalah negara yang pernah ia pimpin.

Tapi, Roosevelt bisa bilang apa. Dia bahkan tak bisa pula protes kepada George. W. Bush yang saat itu menjadi Presiden AS. Perang Irak adalah bukti bahwa tak sepenuhnya AS paham apa itu freedom yang kerap mereka agung-agungkan. And, unfortunately, freedom is not for free, Mr. Ex-President!

Have Bush ever visited this park?’ tanya saya lagi kepada teman saya. dia mengangkat alisnya tinggi lalu mengidikkan bahu. ‘I’ve no idea. But, he should have.

Saya mengangguk. Iya, Bush harus mengambil waktu pribadinya untuk jalan-jalan di taman ini seorang diri sambil membaca ulang tulisan-tulisan yang terukir di tembok taman tentang konsep perdamaian dan hak asasi manusia para pemimpin pendahulunya. Bahwa sebenarnya, tidak ada perdamaian yang bisa kita raih di bawah kokangan pelatuk senjata. Bahwa pengakuan bangsa lain tak bisa didapat dengan menodongkan laras senapan. Tapi, atas dasar motif ekonomi, apa pun dilabelkan halal oleh AS.

***

‘HEY, let’s go home. It’s so cold now!’ teman Amerika saya menyikut lengan tangan saya. Ia membuyarkan lamunan saya. Seraya menggosok-gosokan kedua lengan dengan menggunakan telapak tangan bersarung, saya mengangguk menyetujui ajakannya untuk pulang.

Teman saya tersenyum. Dia merangkulkan lengannya ke pundak saya. ‘Do you know a song “Sleeping Child”?’ Saya mengangguk. Lalu teman saya bernyanyi dengan suara bergetar karena dingin.

‘If all the people around the world

They had a mind like yours

We’d have no fighting and no wars

There would be lasting peace on earth.’

Di sela-sela gigil, kami masih bisa tertawa bersama dalam nyanyian yang terdengar sumbang.  I’ll cover you, sleeping chiiiiild…!

 

Jakarta, Mei 2009

*) Tulisan ini dibuat sebagai Pragagas untuk buku berjudul ‘Tentara Bayaran AS di Irak’ karya Wirawan Sukarwo.

Pernah

Author: tigabelas
15.05.2009

di satu kala
pernah ada aku di waktumu

Hate-able

Author: tigabelas
15.05.2009

It’s very easy for people around me to hate me. I do mean it. If you see me, know me, and been around me for some times, I bet, you will understand why you hate me easily. And for sure, I do understand why people hate me.

I make a list why people get easy to hate me. Oh, feel free for you guys to add this list. Everybody is invited.
1. Fierce.
2. Cynical yet sarcasm in words.
3. Stubborn.
4. I am typical of ‘on your face’ person.
5. Cold, or should i type ‘heartless’?—perhaps, because people loves drama queen, and I am not.
6. Strict.
7. Straight to the point.
8. I know what I have to do (and you know that I am damn right).
9. I know what I want and how to get it.
10. I have bravery to admit my mistakes (deep on your heart, you expect that I am tricky and snobby or even a loser. Sadly, I am not).
11. You cannot avoid or ignore me because you know well, you want to be like me.
12. You like me—and yeah, there is a thin line between like and dislike, rite?
13. …

Look, I am not trying for being a nice person, or even a humble person here, especially in this blog. Big NO. In this blog, you guys will see the real me. I am telling you who and what kind of person I am. I will not ask apologize because being me.

But yeah, I will try to be a better person. If you still do not like me, well… I won’t feel sorry for that.