This entry was posted on Wednesday, May 20th, 2009 at 6:10 am and is filed under MyCit. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
gapentingbanget dot com
This Blog is Mobile READY!
Freedom is Not For Free, Mr. Ex-President!
Author: tigabelas20.05.2009
SAAT itu menjelang musim dingin di tahun 2003 ketika saya bertandang ke F.D. Roosevelt Park.
Udara malam yang menggigit ditambah embusan angin musim dingin membuat permukaan telapak tangan saya terasa sakit dan nyeri. Padahal sepasang sarung tangan wol telah membungkusnya. Sesungguhnya saat itu, saya hampir menyerah karena kaki pun mulai terasa seperti ditusuk.
Angin menampar wajah saya yang terasa kaku. Bahkan, ketika saya berdiri di depan patung Roosevelt, saya bisa merasakan ia juga membeku. Permukaan patung itu terasa dingin. Namun, tembok-tembok yang mencatat cetusan gagasan-gagasan persamaan hak asasi manusia Roosevelt memberikan rasa hangat tersendiri.
Saya sempat bergetar kita melihat tulisan besar ‘I Hate War’ di tembok taman itu. Antara terharu dan pilu. Bagaimana tidak, invasi ke Irak oleh Amerika Serikat baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Sementara, di taman ini, saya justru sedang termangu-mangu membaca ide-ide perdamaian yang digagas oleh salah satu presiden AS, negara yang malah saat itu tengah mengobarkan perang.
Membaca ‘Tentara Bayaran AS di Perang Irak’, selain membuat saya teringat dengan tulisan besar yang saya temukan di F.D. Roosevelt Park malam itu, juga membuat saya melek tentang praktik bisnis yang dilakukan AS dengan memanfaatkan perang. Bagi AS, perang bukanlah sebuah tragedi kemanusiaan, tetapi sebuah lahan bisnis yang memerlukan ‘sedikit’ pengorbanan. Di balik semua kehancuran yang mereka ciptakan, dengan mengatasnamakan rekonstruksi Irak, AS bahkan tetap bisa memanfaatkannya sebagai sumber ekonomi yang menguntungkan mereka.
***
LALU, apa gunanya F.D Roosevelt Park ini dibangun? Dia bahkan tak mampu mengingatkan AS bahwa akhir dari satu perang adalah awal dari perang-perang yang lain. Semua ide perdamaian itu, hanya jadi hiasan taman yang layak dikagumi oleh warga AS—bahkan setiap orang yang datang ke sana, namun bukan untuk dipahami dan dilakoni.
Saya sempat berbisik kepada teman Amerika saya. ‘I guess, Roosevelt must have had enough time for doing conversation with God, right now.’ Teman saya mengerutkan kening. ‘About what?’ dia balik bertanya.
‘About his concept. His concept is not accepted on his land. Freedom and peaceful is only valid in heaven. So, he only could talk about it to God!’ saya menjelaskan. Dia tertawa. Lalu kami berkelakar, Roosevelt mungkin saat ini sedang curhat kepada Tuhan, bahwa di dunia, ide-idenya tentang kemerdekaan dan perdamaian hanya jadi cerita sejarah yang menghiasi taman. Ironisnya, yang melakukan adalah negara yang pernah ia pimpin.
Tapi, Roosevelt bisa bilang apa. Dia bahkan tak bisa pula protes kepada George. W. Bush yang saat itu menjadi Presiden AS. Perang Irak adalah bukti bahwa tak sepenuhnya AS paham apa itu freedom yang kerap mereka agung-agungkan. And, unfortunately, freedom is not for free, Mr. Ex-President!
‘Have Bush ever visited this park?’ tanya saya lagi kepada teman saya. dia mengangkat alisnya tinggi lalu mengidikkan bahu. ‘I’ve no idea. But, he should have.’
Saya mengangguk. Iya, Bush harus mengambil waktu pribadinya untuk jalan-jalan di taman ini seorang diri sambil membaca ulang tulisan-tulisan yang terukir di tembok taman tentang konsep perdamaian dan hak asasi manusia para pemimpin pendahulunya. Bahwa sebenarnya, tidak ada perdamaian yang bisa kita raih di bawah kokangan pelatuk senjata. Bahwa pengakuan bangsa lain tak bisa didapat dengan menodongkan laras senapan. Tapi, atas dasar motif ekonomi, apa pun dilabelkan halal oleh AS.
***
‘HEY, let’s go home. It’s so cold now!’ teman Amerika saya menyikut lengan tangan saya. Ia membuyarkan lamunan saya. Seraya menggosok-gosokan kedua lengan dengan menggunakan telapak tangan bersarung, saya mengangguk menyetujui ajakannya untuk pulang.
Teman saya tersenyum. Dia merangkulkan lengannya ke pundak saya. ‘Do you know a song “Sleeping Child”?’ Saya mengangguk. Lalu teman saya bernyanyi dengan suara bergetar karena dingin.
‘If all the people around the world
They had a mind like yours
We’d have no fighting and no wars
There would be lasting peace on earth.’
Di sela-sela gigil, kami masih bisa tertawa bersama dalam nyanyian yang terdengar sumbang. ‘I’ll cover you, sleeping chiiiiild…!’
Jakarta, Mei 2009
*) Tulisan ini dibuat sebagai Pragagas untuk buku berjudul ‘Tentara Bayaran AS di Irak’ karya Wirawan Sukarwo.