gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Makanan Indonesia Tidak Sehat

Author: tigabelas
22.05.2009

Saya sebenarnya doyan makan.

Hanya saja, saya tidak memakan segala hal sebagaimana kebanyakan orang di sekitar saya yang omnivora. Saya pengonsumsi sayur dan buah saja. Ya kategori herbivora deh! Sebutan kerennya sih vegetarian dan frutarian. Tapi, saya lebih suka menyebut diri saya pesco vegetarian, karena sesekali saya mengonsumsi ikan. Jam makan dan porsi makan saya berbeda dengan sebagian besar orang. Makan sekali sehari cukup buat saya. Tapi kalau soal minum, saya memang bocor. Karena kebiasaan yang seperti inilah, saya dilabeli sebagai manusia yang nggak doyan makan.

***

Omong-omong, kali ini, saya nggak mau ngomongin di mana tempat makan yang enak kok. Kalau pun saya tiba-tiba merekomendasikan tempat makan, pasti keburu semua meragukan. Bukan meragukan rasa makanannya, tapi mereka sangsi kalau apa yang saya makan, bisa mereka makan. Sama seperti bagaimana teman-teman saya tidak akan pernah menyerahkan urusan konsumsi kepada saya. Kata mereka, bisa mati kelaparan kalau saya yang mengurus konsumsinya. Saya maklum dan sadar diri, kok. Pengetahuan kuliner saya dangkal. Indera pengecap saya tidak menjelajah sebanyak yang lain. Saya cuma tahu rumah makan yang sayurannya enak. Di luar itu, NOL besar.

Nah, kalau saya yang dianggap nggak doyan makan ini tiba-tiba mau membicarakan makanan, saya rasa nggak bakal banyak yang percaya tulisan ini. Hm, semua ini dipicu oleh tulisan di sebuah majalah yang memuat wawancara dengan seorang—konon, katanya—chef perempuan. Chef ini punya acara masak-masak kok di sebuah stasiun televisi swasta. Belakangan, sepertinya dia lagi naik daun.

Tulisan itu sifatnya tanya-jawab. Pertanyaan yang diajukan buat saya sih cukup oke. Tapi beberapa jawaban si chef bikin saya mikir dan bertanya-tanya apa memang begitu. Sekadar informasi, tema majalah itu secara keseluruhan adalah makanan lokal. Ceritanya, mereka mau membahas makanan asli Indonesia.

Menurut apa yang ditulis, si chef ini sekolah di Amerika dan belajar masak juga di Amerika. Tapi sebagai orang Indonesia, dia mengaku sangat cinta makanan Indonesia. Sampai pada pertanyaan yang meminta pendapat dia tentang makanan Indonesia. Kalimat tepatnya saya lupa. Tapi di situ dia bilang dia sangat suka makanan Indonesia meskipun makanan Indonesia itu tidak sehat.

Nah, kalimat inilah yang membuat saya tergerak buat menulis soal makanan. Di situ nggak dijelaskan mengapa chef ini bilang kalau makanan orang Indonesia itu nggak sehat. Well, jadi saya mereka-reka saja maksudnya. Bisa jadi saya salah tangkap kan?

Sebenarnya, saya kurang sepakat dengan pernyataan yang tak diberi penjelasan itu. Bagaimana mungkin dia bilang makanan Indonesia tidak sehat? Makanan dan cara masak itu berbeda, buat saya.

Kalau ngomong makanan Indonesia, menurut saya makanan kita justru sehat. Karena hampir semua dari bahan alami. Kalau bicara makanan tradisional kita, nenek moyang kita mengolahnya dari alam. Mana ada yang diolah dari bahan kalengan atau bahan yang diawetkan. Bahkan, mereka telah mengenal teknik pengawetan makanan secara alami tanpa perlu menggunakan bahan-bahan kimia.

Di mana kita bisa menemukan makanan yang segar begini kalau bukan di negara-negara Asia? Indonesia salah satunya. Rempah-rempah kita sangat beragam dan kaya rasa. Supaya kari berwarna kuning, kita bisa pakai kunyit. Supaya rasa pedasnya mantap, kita tinggal masukan cabe rawit. Supaya tenggorok hangat, keprok saja jahe, campurkan dengan teh. Supaya awet, sayur dan buah dijadikan asinan, daging-dagingan dijadikan dendeng.

Coba, mana yang tak sehat? Bandingkan dengan cara makan orang Amerika—well, saya termasuk orang yang percaya cara berpikir sebuah bangsa itu bisa dilihat dari cara makannya. Semua serba instan dan olahan. Kalau kamu pergi makan seafood di restoran Amerika, kamu nggak bakal melihat suasana kayak restoran atau warung seafood kita. Semua bahan telah dibekukan. Mereka tinggal goreng. Nggak perlu ulek-ulek bumbu. Sudah banyak bumbu botolan atau kalengan yang siap pakai.

Makanan dari bahan segar hanya akan ditemukan di restoran asia atau eropa. Yang asli Amerika? Ugh! Enjoy your fast food. Saya pernah diajak makan di restoran seafood di Bryson City, NC. Teman Amerika saya dengan bangganya ingin mengajak saya makan seafood. Lama nggak pernah makan yang beginian, semangatlah saya mendengar tawarannya. Dia bilang itu restoran seafood paling besar dan terkenal di kota ini.

Yang paling besar dan paling terkenal memang belum tentu paling enak. Saya menemukan restoran yang dingin dan rapi. Pengunjungnya memang banyak bukan main. Semua meja penuh. Untuk dapat tempat disarankan buat reservasi dulu. Makanan saya datang dalam hitungan 15 menit. Saya pesan ikan dan hush puppies (sampai sekarang saya nggak pernah tahu kenapa namanya hush puppies dan terbuat dari apa makanan ini). Di piring saya ada fillet ikan goreng tepung dan semangkuk kecil mayonnaise. Sambal atau cabe? Ah, itu hanya mimpi. Mereka memberi saya tabasco. Itu saja. Dan semua itu bukan dari bahan alami. Ugh. Saya hanya menghabiskan separuh.

Jadi, saya heran ketika chef ini bilang makanan Indonesia nggak sehat. Obesitas justru terjadi di Amerika karena pola konsumsi makanannya dan apa yang dikonsumsinya.

Jadi mana yang tidak sehat sih?

***

Chef perempuan ini juga bilang kalau dia sengaja belajar kuliner di Amerika soalnya waktu itu kuliner di Indonesia belum berkembang. Hm, mungkin saya memang terkesan nyinyir untuk ukuran orang yang nggak tahu kuliner. Tapi, sungguh, adakah yang bisa menerangkan ke saya, kapan sih sebenarnya era kebangkitan kuliner Indonesia?

Saya khawatir, ini sudah lama, cuma kitanya aja yang nggak sadar.

Saya pernah kerja sambilan di sebuah hotel. Kebetulan, kebanyakan teman saya kerja di restoran hotel itu. Itu terjadi sekitar tahun 2003-2004. Nama hotel tempat saya bekerja adalah Holiday Inn. Restorannya sangat terkenal di kota Cherokee, namanya Chesnut Tree Restaurant. Menjelang brunch dan dinner, ramainya minta ampun. Antrean reservasinya bisa sangat panjang. Kalau sudah begini, pelajar-pelajar internasional yang kerja sambilan bisa panen uang karena overtime. Salah satu teman akrab saya di sana bercita-cita jadi chef. Dia memang sekolah perhotelan. Jadi kerja di dapur sebagai cook—kalau di dapur kasta cook di bawah chef—buat dia adalah pengalaman yang berharga.

Chef kami sekolahnya di New York. Teman saya dan chef ini suka sekali ngobrol segala hal. Dari teman saya inilah kemudian saya jadi tahu kalau dunia di balik dapur itu seru. Kata chef—saya sudah lupa namanya—kalau mau belajar masak jangan di Amerika. Amerika sebenarnya nggak kenal budaya dan seni masak itu. Kalau ingin jadi chef andal, sebaiknya belajar dari Asia atau Eropa. Seni masak yang sesungguhnya berkembang di dua benua ini. Soalnya bangsa-bangsa ini menciptakan resep dari bumbu-bumbu alami.

Selain di Chesnut Tree, kami juga punya teman yang menjadi chef di Best Western Restaurant—saya kenal dia juga dari teman saya. Yang ini chef asli dari Italia. Tiramisu dan Cheesecake-nya luar biasa enak! Saya bisa menghabiskan sepotong besar tiramisu ataupun cheesecake-nya. Dia membuatnya sendiri. Dia juga dikenal sebagai chef yang jago banget untuk makanan eropa, mengingat memang dari situ dia berasal. Setelah restoran tutup di malam hari, ia biasanya bertandang ke tempat tinggal saya yang memang banyak sekali pelajar asing berkumpul. Kami menyambutnya dengan hangat. Selain memang orangnya menyenangkan dan gaul, dia juga suka sekali membawa tumis buncis atau jamur yang dimasaknya dengan bumbu segar (glek, mendadak saya jadi lapar).

Dari dia, saya dan teman-teman jadi tahu bahwa seseorang disebut chef karena dia menciptakan masakan, bukan sekadar memasak. Dia juga bilang hal yang sama dengan chef di Holiday Inn, jangan belajar masak dari orang Amerika. Mereka tidak pernah benar-benar tahu seni memasak itu. Dia bilang, beruntung kalian orang Indonesia, punya banyak resep yang original. Sama seperti dia merasa beruntung dilahirkan di Italia dan belajar kuliner justru di Italia, sebelum akhirnya dipercaya menjadi chef di Best Western Restaurant. Menurut dia, ini yang membuat makanan di Best Western Restaurant berbeda dengan yang lainnya. He cooks with passion.

Kalau mengingat itu semua, wajarkan saya bertanya, memangnya kapan kuliner kita tepatnya mulai bangkit? Jangan-jangan kita saja yang ndak sadar kalau bangsa lain sudah lama sekali berguru pada kita.

***

Lain cerita kalau yang dimaksudkan si chef perempuan itu adalah cara memasak. Tapi, kita juga nggak bisa bilang kalau cara memasak orang kita tidak sehat. Buat saya, cara memasak nggak ditentukan oleh bangsanya kok. Itu sih tergantung tukang masaknya saja. Dan buat memasak dengan cara masak yang sehat, kita bisa belajar di mana saja.

Kalau mau sehat dan bersih, siapa saja pasti bisa selama dia disiplin. Iya kan?


2 Responses to “Makanan Indonesia Tidak Sehat”

  1. tal Says:

    nice blog..please visit mine and kindly leave ur comment :)
    thank you…

  2. agnes Says:

    hi mb, msh inget aq?yg numpang pulang dr acara bersih2 muara angke, he3, makasih tumpangannya, laen kali numpang lg deh..

    sekedar sharing neh, tmn bule oz yg kutemui di ubud jg bilang cara memasak orang indo kurang sehat. tp dia ga bilang MASAKAN indo ga sehat lho..

    dia hanya menyoroti seringnya orang indo mengolah bahan masakan dengan cara DIGORENG (dia menambahkan ini mgkn disebabkan orang indo jrg yg pny oven!lha??!!). yang mana cara ini (MENGGORENG) dianggap kurang sehat. Emilia E. Achmadi jg bilang sih klo cara mengolah makanan yg baik itu tdk dengan cara DIGORENG. dan kebanyakan orang indo emang menggunakan minyak yg banyak ketika MENGGORENG. walaupun tidak bisa dipungkiri, dg digoreng rasa masakan akan semakin lezat!(menurut saya dan teman saya itu)

    nah, klo masalah rempah2 nih, aq setuju bgt ma mb windi. ngapain coba para penjajah itu bertandang di negeri ini. betah pula ampe puluhan tahun!

    tp emang makanan yg digoreng itu enak bgt!ayam goreng krispi K#C contoh nyatanya!wuih…nyami…
    blum lagi di negeri ini minyak goreng yg digunakan jg beragam, ada yg dr kelapa (kebanyakan resto hostel2 di ubud menggunakan ini, juga masyarakatnya. orang bilang sih lebih tasty makanannya, saya sih kurang setuju, ga doyan blas!), ada jg yg dari kelapa sawit.

    ok itu aja komennya. udah kepanjangan soalnya. kpn2 komen lg ^_^

Leave a Reply