gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

You are currently browsing the gapentingbanget dot com weblog archives for June, 2009.

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Archive for June, 2009

Tengah Malam

Author: siapa
27.06.2009

“Hepi birthday ya…” katamu waktu itu.

Bukan kata itu saja yang ku ingat sampai sekarang. Tapi kecup iklas mu waktu itu yang masih terasa hangat menyelimutiku.

-titik-

Maaf, Aku Terlambat

Author: tigabelas
26.06.2009

Jakarta, 12 Desember 2008

 

Maaf,

saat itu aku datang terlambat.

Dan lagi-lagi maaf,

surat ini pun mungkin datang terlambat.

Oops,

maaf.

Lagi-lagi aku telat menanyakan kabarmu. Dulu, kau selalu menggerutu kalau hal seperti ini aku lakukan. Katamu, cobalah untuk bersikap manis dengan menanyakan kabar. Katamu itu sederhana tetapi romantis. Dan setidaknya, terasa seperti kangen yang rilis.

Tapi, dulu aku gagu. Kikuk untuk bertanya tentang kabarmu dalam susunan kata yang berbeda setiap harinya. Entah, kenapa dulu aku begitu bodoh dan gampang jengah.

Aku ingat. Hari itu pertengkaran pertama setelah kita memutuskan untuk bersama. Mendung turun menjelang sore. Ponselku berdering. Aku gugup, jantungku berdegup kencang. Namamu ada di situ. Apakah kau tahu, saat itu, sebenarnya yang ingin kukatakan, ‘Hai! Ke mana aja? Kok baru telepon?’, tetapi, justru yang kutanyakan, ‘Hai! Kenapa?’

Kau marah. Kaubilang, caraku bertanya seperti orang yang terganggu. Bukan seperti seorang kekasih yang menunggu. Sejak saat itu aku menjadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ‘kenapa’ diartikan ‘terganggu’. Padahal dalam kamusku, ‘kenapa’ seperti sebuah sapaan apa kabar yang paling dasar.

Kita berdebat. Kaubilang aku hanya ingin berkelit. Mengapa memilih ‘kenapa’ dan bukannya sekadar berkata ‘hai’. ‘Tak masuk akal,’ katamu.

Andai kau tahu. Aku hanya berharap, satu kata tanya ‘kenapa’, bisa membuatmu bercerita tentang banyak hal daripada sekadar kata ‘Hai, Sayang’ di awal percakapan kita hari itu.

Dugaanku keliru. Tak ada percakapan seru hari itu.

Tapi, entahlah. Setelah itu, aku memilih menghindari kata kenapa. Satu ketika, perdebatan tentang kata ini semakin meruncing. Pada hari Rabu yang kelabu itu, kau bertanya padaku, ‘Eh, tahu nggak?’. Aku menggeleng lalu menjawab, ‘Nggak!’. Lagi, kau marah. Kaubilang, aku terkesan tak tertarik dengan ceritamu. Mampus! Bukan itu maksudku. Sungguh, saat itu aku hanya ingin berkelakar.

‘Nggak lucu,’ kau menjawab sengit. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab, katamu. Kadang, kalimat tanya dibutuhkan untuk memberi ruang bagi kita membuat pembicaraan menjadi lebih panjang.

Maaf,

dulu, sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.

Maaf,

untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat, barangkali.

Kalau mengingat itu semua, memang, harusnya surat ini aku awali dengan pertanyaan, ‘Apa kabar? Lagi sibuk apa?’. Kau pasti tak percaya, aku sempat menuliskannya. Lalu, merasa geli sendiri sehingga memutuskan untuk menghapusnya. Terlalu klise. Tepatnya, terlalu dibuat-buat.

Aku tahu pasti kabar terbarumu. Kau boleh tak percaya. Tanpa kau tahu, aku sering membuka Friendster-mu. Diam-diam mampir ke blogmu. Cemas karena berharap kau sedang online lalu sengaja meninggalkan pesan di YM-ku. Secara rutin, aku melihat kumpulan album fotomu ketika sedang surfing di internet. Bahkan, aku sering mencuri tahu kabar terbarumu dari beberapa orang teman yang tak pernah tahu kalau kita pernah begitu dekat.

Aku tahu kau membenciku. Setelah rasa cinta yang bergelora, aku menghilang dari kehidupanmu begitu saja. Tanpa kecupan di pipi dan ucapan selamat tinggal yang bisa kau kenang.

Malam itu, setelah satu tahun upayamu menghubungiku, kuputuskan untuk bertemu denganmu. Pada kafe yang temaram, duduk di kursi bar, dua gelas whiskey telah kauhabiskan.

‘Apa kabarmu?’ Kau yang memulai percakapan itu tanpa memandangku.  Aku duduk di sampingmu.

‘Baik.’ Aku menjawab singkat. Untuk meminta maaf karena terlambat dari waktu yang dijanjikan pun tak bisa keluar dari mulutku.

Kau tersenyum. ‘Semakin kurus,’ sambungmu. Aku hanya balas tersenyum. ‘Dan masih tak bisa basa-basi,’ lanjutmu lagi.

Sungguh, andai saat itu kau tahu apa yang berkecamuk dalam diriku. Aku tahu, perasaan itu masih ada. Dan getarnya masih terasa. Saat itu, aku ingin menyapamu hangat seperti dulu. Tapi nyatanya, lidahku kelu. Aku kembali gagap seperti pertama kali ketika menjalin hubungan denganmu. 

‘Mengapa setelah setahun ada di kota ini, kau tak menghubungiku?’ tanyamu. Aku tak menjawabmu. ‘Mengapa tiba-tiba menghilang?’ kejarmu. Ketika kau bertemu diam, kau pun bergumam, ‘Tak ada yang bisa mengubahmu. Bahkan aku tetap tak bisa menebakmu.’

Sungguh, itu malam yang berat untukku. Membiarkanmu berlalu.

Maaf, tepatnya, membuatmu merasa seolah aku tidak menginginkanmu.

Aku tahu, ini surat yang sangat terlambat.

Maaf.

Tapi, seperti surat ini, aku seolah selalu ditakdirkan datang terlambat dalam hidupmu. Apakah kau ingat, aku mengiyakan hubungan yang kautawarkan dua minggu sebelum pernikahanmu. Padahal, tawaran itu sudah setahun yang lalu kaulontarkan.

Saat itu kau tertawa. Aku menduga kau akan bilang, ‘Terlambat.’ Tapi, aku terkaget-kaget ketika kaubilang, ‘Mahal sekali harga hubungan ini. Tapi, terlambat tidak berarti buruk.’ Hanya dua minggu waktu yang kita punya. Dan kita tetap ingin menjajal. Menganggap ini seperti sebuah permainan seru sebelum kau terikat seumur hidup.

Kita tak pernah menduga kalau akhirnya kita bisa benar-benar saling jatuh cinta. Atau mungkin, justru aku yang tak pernah menduga, kalau aku bisa jatuh cinta kepadamu sebegitunya.

Dua minggu ternyata tak cukup. Kita terus berjalan. Sampai tiba hari di mana perempuan itu meradang. Dan aku menjadi bimbang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu. Aku bahkan tak memiliki hak apa pun atas dirimu. Bukankah awalnya bagi kita, semua ini hanya permainan? Harusnya, tak perlu ada yang sakit hati dalam sebuah permainan. Harusnya semua merasa puas, bukannya menjadi buas. Berdua memang masih terasa menyenangkan. Namun, tidakkah bertiga terasa terlalu sesak? Harus ada yang menyingkir. Dan kesempatan bukan milik orang yang terlambat.

Kuputuskan saat itu meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Menghilang tanpa meninggalkan sesuatu yang manis untuk kau kenang. Ini lebih memudahkan untuk kita berdua.

Entah, mengapa semua yang terjadi di antara kita serba terlambat. Kata orang, cinta tidak pernah salah. O, yeah. I agreed. Tapi, tolong, tambahkan, sayangnya, ia bisa datang terlambat.

Maaf,

aku datang terlambat,

dan pergi tanpa pamit.

Maaf:

untuk semua yang terlambat.

 

*) tulisan ini dimuat di buku ‘Kepada Cinta’ terbitan GagasMedia bersama 9 penulis lainnya dan 25 pemenang sayembara menulis GagasMedia 

 

 

 

cinta.

Author: tigabelas
21.06.2009

cinta.

hanya itu kata yang ingin aku bilang kepadamu,
hari ini.

09.06.2009

SORE  itu, Raditya Dika, si penulis komedi, datang sambil tersenyum malu-malu kucing ke kubikel saya.

Tata, salah satu anak Bukune yang ada di depan saya sudah menahan senyum sejak tadi. Sebelum Radith menghampiri kubikel saya, Tata sudah lebih dulu keluar dari ruangan Bukune dengan ekspresi menahan tawa. Tata menceritakan apa yang barusan terjadi di dalam.

Belum selesai saya mencerna cerita Tata, tawa membahana teman-teman Bukune dan tawa sumbang Radith terdengar. Lalu tak berapa lama, ia keluar dari ruangannya untuk menghampiri saya.

‘Mbak W, aku baru tahu loh yang soal si A dan si R,’ konfirmasinya. Cerita tentang si A dan si R ini ada di tulisan Note saya terdahulu yang berjudul ‘IS: Semua Mata tertuju Kepadamu’.

Saya mendelik. ‘Heh? Emang nggak pernah  tahu?’ Kepercayaan diri saya mulai naik. Ternyata ada yang lebih kuper dari saya nih.

‘Nggak. Terus begonya lagi, aku tanya “Siapa si R itu” sama R-nya sendiri,’ terang Radith. Tawa Tata dan saya meledak berbarengan.

Radith garuk-garuk pantat.

***

Begitulah Radith.

Pembaca menganggap dia lucu. Saya dan teman-teman di Gagas-Bukune mungkin sudah tidak bisa lagi tertawa membaca tulisan Radith. Bukan karena tulisannya tidak lucu. Bukan. Tapi karena, in the real life, banyak hal tentang Radith yang lebih bisa kami tertawakan, meskipun saat itu jaaauuuh dari lucu. Dan Radith-nya pun tak bermaksud melucu.

Kalau saya ingat-ingat, ada banyak kejadian dengan Radith yang membuat perut saya sakit karena menahan tawa. Satu ketika, kami pernah melakukan perjalanan dengan mobil menuju Purwokerto untuk talkshow. Di dalam mobil, ada beberapa orang lainnya seperti Mas Fuad, Pak Tan, Pak Hikmat, Mbak Maurin, dan Pak Yayan

Ceritanya, kami harus bedol Montong 57 (markas besar kami) untuk mengisi acara di sebuah pameran buku yang diadakan Buka Buku. Di dalam perjalanan itulah terungkap kalau Radith sama sekali tak pernah tahu seperti apa rupa pohon salak. Kontan satu mobil tak percaya.

Namun, ekspresi bego Radith akhirnya membuat kami menerima kenyataan pahit itu. Radith tidak tahu pohon salak. Dan ia juga tak pernah tahu seperti apa pohon nanas.

‘Aku selalu berpikir nanas itu menggantung di pohon seperti mangga,’ tegasnya. Sampai sekarang, setiap kali ditanya tentang flora, dan dia tidak tahu rupanya, Radith selalu menjawab, ‘Lagian apa pentingnya coba tahu pohonnya kayak apa?’

Uji pengetahuan ini ternyata masih terus berlanjut. Hari terakhir di Purwokerto terungkap pula sebuah fakta. Selama ini Radith mengira, Purwakarta itu Purwokerto. Layaknya orang Jawa, a itu dibaca o. ‘Iya, kan, Mba W?’ Ia berupaya mencari dukungan.  Pastinya saya nggak hanya tertawa, tapi juga  menggeleng dengan tegas.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Ia mengucapkan itu di atas panggung ketika talkshow. Kontan saja semua penggemar asal daerah Bayumas dan sekitarnya yang datang—jumlahnya ratusan—teriak protes. ‘Purwokerrrrtooooo!’

Radith terdiam. ‘Loh, bukannya sama?’ tanyanya kepada audiens.

‘Beeeeeedaaaaaa!’

Lagi, dia garuk-garuk pantat di atas panggung.

Selesai acara, Radith segera menarik saya dan Mbak Maurin menyingkir ke sebuah kafe. Dia masih terus mempertanyakan soal Purwokerto dan Purwakarta.  Saya pikir di panggung dia sedang melucu. Ternyata dia serius.

Dan lagi, saya harus menerima kenyataan pahit itu. Pengetahuan geografi Radith cekak.

‘Mbak, emang beneran beda?’

‘Purwokerto di Jawa Tengah, Purwakarta masuk Jawa Barat,’ terang saya. ‘Ada lagi Purworejo.’

‘Heh ada lagi yang lain?’ Matanya mendelik.

‘Itu di Jawa Tengah, Dith. Deket Yogya. Sekitar 2 Jam kalau pakai mobil.’

Mukanya tetap nggak terima. ‘Kenapa sih kasih nama aneh-aneh. Aneh ya?’

Kali ini saya memilih nggak menjawab selain menahan kentut.

***

Saya bukan hendak mengumbar kebodohan-kebodohan yang dilakukan Radith. Radith itu pintar. Dan serius. Serta sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan ‘absurd’. Tapi karena serius itu saya dan teman-teman di Gagas-Bukune kerap tertawa.

Pernah, di sebuah kafe, masih di Purwekerto, saya, Radith, dan Mbak Maurin sedang makan sambil menikmati nyanyian sepasang penyanyi kafe.

Penyanyi yang cowok, berperawakan kurus. Kepalanya ditutupi dengan topi ala rasta. Kepalanya digerak-gerakan ke depan-belakang. Untuk ukuran tubuhnya yang kurus, topi yang ia kenakan membuat kepala terlihat jauh lebih besar dan tidak proposional.

Kami semua diam. Tidak ada yang bercakap. Konsentrasi penuh menikmati hiburan yang ada di depan kami.

‘Kok kepalanya kayak deodorant ya?’ celetuk Radith tiba-tiba. Radith melihat ke arah penyanyi dengan mimik serius. Lalu ia menirukan gerakan kepala penyanyi itu sambil mengangkat sebelah ketiaknya. Memberi gambaran seperti apa kepala deodorant itu kalau dipakaikan di ketiak. *)

Saya dan Mbak Maurin tertawa terbahak-bahak.

Pertanyaan-pertanyaan dalam hidup Radith terus berlanjut. Seperti Dora, The Explorer, Radith juga terus melakukan eksplorasi untuk pengetahuan yang baru saja ditemukannya.

Misalnya, ternyata telur asin itu terbuat dari telur bebek.

Hari itu, tak biasanya ia datang awal. Saya yang lagi serius dengan laptop saya tiba-tiba dikagetkan dengan kepala Radith yang muncul dari sisi atas kubikel.

‘Mba W, aku baru tahu satu hal loh.’ Senyumnya lebar terkembang.

‘Apaan?’ tanya saya melirik curiga. ‘Udah tahu bentuk pohon nanas?’

‘Belum,’ jawabnya kalem. ‘Tapi, aku baru tahu kalau telur asin itu dari telur bebek.’

Tawa kencang justru bukan keluar dari mulut saya. Tapi dari kubikel di belakang saya. Pak Luluk, si Pemimpin Redaksi AgroMedia, penerbit yang fokus banget soal agrikultur, termasuk peternakan. ‘Serius lo baru tahu?’ tanyanya sambil terus tertawa.

‘Iya,’ Radith menjawab sambil masuk ke kubikel saya lalu duduk di atas meja. Ia menatap Pak Luluk dengan serius. ‘Padahal aku suka loh makan telur asin.’

Entah kenapa, saya sudah tidak bisa terkejut lagi. Saya sudah sering bikin trivia quiz buat Radith. Dan rata-rata dia tidak bisa menjawabnya, kecuali ternyata dia tahu seperti apa rupa pohon tebu.

‘Emang kenapa sih harus telur bebek, Pak Luluk?’ Radith memasang mimik serius.

‘Karena untuk telur asin, telur bebek lebih enak.’

‘Nggak bisa pake telur ayam aja?’ Halllahhh, kali ini saya yang takjub.

‘Bisa, tapi rasanya nggak seenak telur bebek,’ jelas Pak Luluk sabar.

Radith manggut-manggut, tentunya kali ini tanpa menggaruk pantat.

***

‘The unexamined life is not worth living,’ kata Socrates. Hidup yang tidak boleh dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Tentu saja, Radith punya cara dia sendiri mempertanyakan kehidupan yang dijalankannya agar berharga. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan trivia quiz ala Radith sukses membuat saya dan teman-teman di Gagas-Bukune bisa tertawa di antara jadwal deadline. (Well, oke, sebenarnya kami tertawa sepanjang hari untuk semua hal, kok!)

Omong-omong, apakah Radith tahu buah gandaria seperti apa?

 

*) Bayangan tentang ‘Kepala Deodorant’ di ketiak ini bisa dilihat di komik Kambing Jantan karya Raditya Dika dan Dio Rudiman.

**) Tulisan ini diposting seiizin Radith