gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Maaf, Aku Terlambat

Author: tigabelas
26.06.2009

Jakarta, 12 Desember 2008

 

Maaf,

saat itu aku datang terlambat.

Dan lagi-lagi maaf,

surat ini pun mungkin datang terlambat.

Oops,

maaf.

Lagi-lagi aku telat menanyakan kabarmu. Dulu, kau selalu menggerutu kalau hal seperti ini aku lakukan. Katamu, cobalah untuk bersikap manis dengan menanyakan kabar. Katamu itu sederhana tetapi romantis. Dan setidaknya, terasa seperti kangen yang rilis.

Tapi, dulu aku gagu. Kikuk untuk bertanya tentang kabarmu dalam susunan kata yang berbeda setiap harinya. Entah, kenapa dulu aku begitu bodoh dan gampang jengah.

Aku ingat. Hari itu pertengkaran pertama setelah kita memutuskan untuk bersama. Mendung turun menjelang sore. Ponselku berdering. Aku gugup, jantungku berdegup kencang. Namamu ada di situ. Apakah kau tahu, saat itu, sebenarnya yang ingin kukatakan, ‘Hai! Ke mana aja? Kok baru telepon?’, tetapi, justru yang kutanyakan, ‘Hai! Kenapa?’

Kau marah. Kaubilang, caraku bertanya seperti orang yang terganggu. Bukan seperti seorang kekasih yang menunggu. Sejak saat itu aku menjadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ‘kenapa’ diartikan ‘terganggu’. Padahal dalam kamusku, ‘kenapa’ seperti sebuah sapaan apa kabar yang paling dasar.

Kita berdebat. Kaubilang aku hanya ingin berkelit. Mengapa memilih ‘kenapa’ dan bukannya sekadar berkata ‘hai’. ‘Tak masuk akal,’ katamu.

Andai kau tahu. Aku hanya berharap, satu kata tanya ‘kenapa’, bisa membuatmu bercerita tentang banyak hal daripada sekadar kata ‘Hai, Sayang’ di awal percakapan kita hari itu.

Dugaanku keliru. Tak ada percakapan seru hari itu.

Tapi, entahlah. Setelah itu, aku memilih menghindari kata kenapa. Satu ketika, perdebatan tentang kata ini semakin meruncing. Pada hari Rabu yang kelabu itu, kau bertanya padaku, ‘Eh, tahu nggak?’. Aku menggeleng lalu menjawab, ‘Nggak!’. Lagi, kau marah. Kaubilang, aku terkesan tak tertarik dengan ceritamu. Mampus! Bukan itu maksudku. Sungguh, saat itu aku hanya ingin berkelakar.

‘Nggak lucu,’ kau menjawab sengit. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab, katamu. Kadang, kalimat tanya dibutuhkan untuk memberi ruang bagi kita membuat pembicaraan menjadi lebih panjang.

Maaf,

dulu, sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.

Maaf,

untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat, barangkali.

Kalau mengingat itu semua, memang, harusnya surat ini aku awali dengan pertanyaan, ‘Apa kabar? Lagi sibuk apa?’. Kau pasti tak percaya, aku sempat menuliskannya. Lalu, merasa geli sendiri sehingga memutuskan untuk menghapusnya. Terlalu klise. Tepatnya, terlalu dibuat-buat.

Aku tahu pasti kabar terbarumu. Kau boleh tak percaya. Tanpa kau tahu, aku sering membuka Friendster-mu. Diam-diam mampir ke blogmu. Cemas karena berharap kau sedang online lalu sengaja meninggalkan pesan di YM-ku. Secara rutin, aku melihat kumpulan album fotomu ketika sedang surfing di internet. Bahkan, aku sering mencuri tahu kabar terbarumu dari beberapa orang teman yang tak pernah tahu kalau kita pernah begitu dekat.

Aku tahu kau membenciku. Setelah rasa cinta yang bergelora, aku menghilang dari kehidupanmu begitu saja. Tanpa kecupan di pipi dan ucapan selamat tinggal yang bisa kau kenang.

Malam itu, setelah satu tahun upayamu menghubungiku, kuputuskan untuk bertemu denganmu. Pada kafe yang temaram, duduk di kursi bar, dua gelas whiskey telah kauhabiskan.

‘Apa kabarmu?’ Kau yang memulai percakapan itu tanpa memandangku.  Aku duduk di sampingmu.

‘Baik.’ Aku menjawab singkat. Untuk meminta maaf karena terlambat dari waktu yang dijanjikan pun tak bisa keluar dari mulutku.

Kau tersenyum. ‘Semakin kurus,’ sambungmu. Aku hanya balas tersenyum. ‘Dan masih tak bisa basa-basi,’ lanjutmu lagi.

Sungguh, andai saat itu kau tahu apa yang berkecamuk dalam diriku. Aku tahu, perasaan itu masih ada. Dan getarnya masih terasa. Saat itu, aku ingin menyapamu hangat seperti dulu. Tapi nyatanya, lidahku kelu. Aku kembali gagap seperti pertama kali ketika menjalin hubungan denganmu. 

‘Mengapa setelah setahun ada di kota ini, kau tak menghubungiku?’ tanyamu. Aku tak menjawabmu. ‘Mengapa tiba-tiba menghilang?’ kejarmu. Ketika kau bertemu diam, kau pun bergumam, ‘Tak ada yang bisa mengubahmu. Bahkan aku tetap tak bisa menebakmu.’

Sungguh, itu malam yang berat untukku. Membiarkanmu berlalu.

Maaf, tepatnya, membuatmu merasa seolah aku tidak menginginkanmu.

Aku tahu, ini surat yang sangat terlambat.

Maaf.

Tapi, seperti surat ini, aku seolah selalu ditakdirkan datang terlambat dalam hidupmu. Apakah kau ingat, aku mengiyakan hubungan yang kautawarkan dua minggu sebelum pernikahanmu. Padahal, tawaran itu sudah setahun yang lalu kaulontarkan.

Saat itu kau tertawa. Aku menduga kau akan bilang, ‘Terlambat.’ Tapi, aku terkaget-kaget ketika kaubilang, ‘Mahal sekali harga hubungan ini. Tapi, terlambat tidak berarti buruk.’ Hanya dua minggu waktu yang kita punya. Dan kita tetap ingin menjajal. Menganggap ini seperti sebuah permainan seru sebelum kau terikat seumur hidup.

Kita tak pernah menduga kalau akhirnya kita bisa benar-benar saling jatuh cinta. Atau mungkin, justru aku yang tak pernah menduga, kalau aku bisa jatuh cinta kepadamu sebegitunya.

Dua minggu ternyata tak cukup. Kita terus berjalan. Sampai tiba hari di mana perempuan itu meradang. Dan aku menjadi bimbang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu. Aku bahkan tak memiliki hak apa pun atas dirimu. Bukankah awalnya bagi kita, semua ini hanya permainan? Harusnya, tak perlu ada yang sakit hati dalam sebuah permainan. Harusnya semua merasa puas, bukannya menjadi buas. Berdua memang masih terasa menyenangkan. Namun, tidakkah bertiga terasa terlalu sesak? Harus ada yang menyingkir. Dan kesempatan bukan milik orang yang terlambat.

Kuputuskan saat itu meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Menghilang tanpa meninggalkan sesuatu yang manis untuk kau kenang. Ini lebih memudahkan untuk kita berdua.

Entah, mengapa semua yang terjadi di antara kita serba terlambat. Kata orang, cinta tidak pernah salah. O, yeah. I agreed. Tapi, tolong, tambahkan, sayangnya, ia bisa datang terlambat.

Maaf,

aku datang terlambat,

dan pergi tanpa pamit.

Maaf:

untuk semua yang terlambat.

 

*) tulisan ini dimuat di buku ‘Kepada Cinta’ terbitan GagasMedia bersama 9 penulis lainnya dan 25 pemenang sayembara menulis GagasMedia 

 

 

 


2 Responses to “Maaf, Aku Terlambat”

  1. andie Says:

    kirain mbak windy yang buat!
    hehehe :D :D

    keren tulisannya.
    tokcer dah!!!
    UUUOOOOHHH!!!! :D :D

  2. tigabelas Says:

    @andie: oh, yes, i made it. this is my originally writing and this is my blog. so i would like to publish all my writings here, andie. ;) tiga belas is my pen name in this blog.

Leave a Reply