gapentingbanget dot com

This Blog is Mobile READY!

You are currently browsing the archives for the MyCit category.

Pages

Categories

Leave Unimportant Message

Previous Next
Latest on Fri, 16:44

Ophelia: @online, sama-sama @caterpilar, silahkan :)

caterpillar: mb n mas, ijin link di blog saya yah.. makasih sebelumnya..

online: Terima kasih atas informasi menarik

amersdia: Hi! buy clomid 100mg http://wiki.answers.com/Q/User:Med-help where to buy clomid Please, thank your sister for me. I would like to speak to you. buying clomid [...]

Too Tight Virginity: huh.. luv this thread!

» Reply



 
 

Archive for the 'MyCit' Category

03.11.2009

There are so many friends or readers of mine who keep asking me about scholarship. They wonder to know about how to win a scholarship, especially for studying abroad.

Well, guys, actually, I am not an expert on this matter. I haven’t got any scholarship yet. (pssst, just keep it as our secret: I am hunting for one, now.) So, why don’t you give a try, just like what I am doing now?)

In my latest book, ‘Studying Abroad’, I share a lot of things about what you will experience when studying abroad. I and Maurin used to live abroad; we went there on our own money, not because of scholarship. Nope, we are not from ‘the have’ family. So, if you think we were able to go there because we’re rich, then all that I can say is: YOU ARE ABSOLUTELY WRONG.

That’s why in our book, we don’t talk too much about scholarship. But still, you can find the most important things you should know about scholarship, for instance: how to apply scholarship and the factors that can fail you to win scholarship. Read the rest of this entry »

Tearless Cry and Hopes

Author: Ophelia
22.10.2009

I still remember vividly the day we beat Hull City 6-1. The only goal we conceded that night had caused these butterflies in my stomach. I knew at that moment we would have problems with that sort of defence. This early morning of mine, Liverpool was lost again -fourth in successive games- and left me wondering why I did not support Tenerife from the first place?! I can not even shade a single tear. I was too devastated to do so. It is like being trapped in a nightmare and out of exhaustion wished to wake up soon. But no it is not a dream. This is for real. Read the rest of this entry »

tua

Author: tigabelas
21.08.2009

sini,
jangan jauh-jauh.
akan kuceritakan kepadamu
tentang dunia yang menua
dan senja yang mulai kehilangan merahnya.

rindu

Author: tigabelas
11.08.2009

kepada angin yang menderu,
kubisikkan tanpa terburu-buru
’sungguh, aku rindu’.

keranda

Author: tigabelas
03.08.2009

aku melihat keranda pada sebuah senja.

berapa kematian telah diantarkannya

ke dalam tanah yang dibuka?

Mencari Bintang

Author: Ophelia
27.07.2009

Aku bertanya pada angin,
di mana kah bintangku
Dengan lembut dia berhembus,
saat malam tiba pasti dia datang

Setiap malam aku menengadah ke langit
Tapi dia tetap tak memunculkan diri
Apakah kabut tebal itu menutupinya dariku?

Teruslah mencari, kata angin
Saat kau menemukannya kau kan menyadari
betapa semua penantian itu begitu berharga
Tanyaku, lebih berharga dari emas?

Kembali ia berhembus lirih,
Ahh sayangku, ada begitu banyak hal yang lebih berharga dari emas
Seperti sahabat
Cinta
Atau bintang.

Lantas di mana bintangku?

- oph

sorry

Author: tigabelas
16.07.2009

I took my pills last night,
then, I slept so deep.
I was sorry, sweetheart,
but, there were no you in my sleep.

Tengah Malam

Author: siapa
27.06.2009

“Hepi birthday ya…” katamu waktu itu.

Bukan kata itu saja yang ku ingat sampai sekarang. Tapi kecup iklas mu waktu itu yang masih terasa hangat menyelimutiku.

-titik-

Maaf, Aku Terlambat

Author: tigabelas
26.06.2009

Jakarta, 12 Desember 2008

 

Maaf,

saat itu aku datang terlambat.

Dan lagi-lagi maaf,

surat ini pun mungkin datang terlambat.

Oops,

maaf.

Lagi-lagi aku telat menanyakan kabarmu. Dulu, kau selalu menggerutu kalau hal seperti ini aku lakukan. Katamu, cobalah untuk bersikap manis dengan menanyakan kabar. Katamu itu sederhana tetapi romantis. Dan setidaknya, terasa seperti kangen yang rilis.

Tapi, dulu aku gagu. Kikuk untuk bertanya tentang kabarmu dalam susunan kata yang berbeda setiap harinya. Entah, kenapa dulu aku begitu bodoh dan gampang jengah.

Aku ingat. Hari itu pertengkaran pertama setelah kita memutuskan untuk bersama. Mendung turun menjelang sore. Ponselku berdering. Aku gugup, jantungku berdegup kencang. Namamu ada di situ. Apakah kau tahu, saat itu, sebenarnya yang ingin kukatakan, ‘Hai! Ke mana aja? Kok baru telepon?’, tetapi, justru yang kutanyakan, ‘Hai! Kenapa?’

Kau marah. Kaubilang, caraku bertanya seperti orang yang terganggu. Bukan seperti seorang kekasih yang menunggu. Sejak saat itu aku menjadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ‘kenapa’ diartikan ‘terganggu’. Padahal dalam kamusku, ‘kenapa’ seperti sebuah sapaan apa kabar yang paling dasar.

Kita berdebat. Kaubilang aku hanya ingin berkelit. Mengapa memilih ‘kenapa’ dan bukannya sekadar berkata ‘hai’. ‘Tak masuk akal,’ katamu.

Andai kau tahu. Aku hanya berharap, satu kata tanya ‘kenapa’, bisa membuatmu bercerita tentang banyak hal daripada sekadar kata ‘Hai, Sayang’ di awal percakapan kita hari itu.

Dugaanku keliru. Tak ada percakapan seru hari itu.

Tapi, entahlah. Setelah itu, aku memilih menghindari kata kenapa. Satu ketika, perdebatan tentang kata ini semakin meruncing. Pada hari Rabu yang kelabu itu, kau bertanya padaku, ‘Eh, tahu nggak?’. Aku menggeleng lalu menjawab, ‘Nggak!’. Lagi, kau marah. Kaubilang, aku terkesan tak tertarik dengan ceritamu. Mampus! Bukan itu maksudku. Sungguh, saat itu aku hanya ingin berkelakar.

‘Nggak lucu,’ kau menjawab sengit. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab, katamu. Kadang, kalimat tanya dibutuhkan untuk memberi ruang bagi kita membuat pembicaraan menjadi lebih panjang.

Maaf,

dulu, sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.

Maaf,

untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat, barangkali.

Kalau mengingat itu semua, memang, harusnya surat ini aku awali dengan pertanyaan, ‘Apa kabar? Lagi sibuk apa?’. Kau pasti tak percaya, aku sempat menuliskannya. Lalu, merasa geli sendiri sehingga memutuskan untuk menghapusnya. Terlalu klise. Tepatnya, terlalu dibuat-buat.

Aku tahu pasti kabar terbarumu. Kau boleh tak percaya. Tanpa kau tahu, aku sering membuka Friendster-mu. Diam-diam mampir ke blogmu. Cemas karena berharap kau sedang online lalu sengaja meninggalkan pesan di YM-ku. Secara rutin, aku melihat kumpulan album fotomu ketika sedang surfing di internet. Bahkan, aku sering mencuri tahu kabar terbarumu dari beberapa orang teman yang tak pernah tahu kalau kita pernah begitu dekat.

Aku tahu kau membenciku. Setelah rasa cinta yang bergelora, aku menghilang dari kehidupanmu begitu saja. Tanpa kecupan di pipi dan ucapan selamat tinggal yang bisa kau kenang.

Malam itu, setelah satu tahun upayamu menghubungiku, kuputuskan untuk bertemu denganmu. Pada kafe yang temaram, duduk di kursi bar, dua gelas whiskey telah kauhabiskan.

‘Apa kabarmu?’ Kau yang memulai percakapan itu tanpa memandangku.  Aku duduk di sampingmu.

‘Baik.’ Aku menjawab singkat. Untuk meminta maaf karena terlambat dari waktu yang dijanjikan pun tak bisa keluar dari mulutku.

Kau tersenyum. ‘Semakin kurus,’ sambungmu. Aku hanya balas tersenyum. ‘Dan masih tak bisa basa-basi,’ lanjutmu lagi.

Sungguh, andai saat itu kau tahu apa yang berkecamuk dalam diriku. Aku tahu, perasaan itu masih ada. Dan getarnya masih terasa. Saat itu, aku ingin menyapamu hangat seperti dulu. Tapi nyatanya, lidahku kelu. Aku kembali gagap seperti pertama kali ketika menjalin hubungan denganmu. 

‘Mengapa setelah setahun ada di kota ini, kau tak menghubungiku?’ tanyamu. Aku tak menjawabmu. ‘Mengapa tiba-tiba menghilang?’ kejarmu. Ketika kau bertemu diam, kau pun bergumam, ‘Tak ada yang bisa mengubahmu. Bahkan aku tetap tak bisa menebakmu.’

Sungguh, itu malam yang berat untukku. Membiarkanmu berlalu.

Maaf, tepatnya, membuatmu merasa seolah aku tidak menginginkanmu.

Aku tahu, ini surat yang sangat terlambat.

Maaf.

Tapi, seperti surat ini, aku seolah selalu ditakdirkan datang terlambat dalam hidupmu. Apakah kau ingat, aku mengiyakan hubungan yang kautawarkan dua minggu sebelum pernikahanmu. Padahal, tawaran itu sudah setahun yang lalu kaulontarkan.

Saat itu kau tertawa. Aku menduga kau akan bilang, ‘Terlambat.’ Tapi, aku terkaget-kaget ketika kaubilang, ‘Mahal sekali harga hubungan ini. Tapi, terlambat tidak berarti buruk.’ Hanya dua minggu waktu yang kita punya. Dan kita tetap ingin menjajal. Menganggap ini seperti sebuah permainan seru sebelum kau terikat seumur hidup.

Kita tak pernah menduga kalau akhirnya kita bisa benar-benar saling jatuh cinta. Atau mungkin, justru aku yang tak pernah menduga, kalau aku bisa jatuh cinta kepadamu sebegitunya.

Dua minggu ternyata tak cukup. Kita terus berjalan. Sampai tiba hari di mana perempuan itu meradang. Dan aku menjadi bimbang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu. Aku bahkan tak memiliki hak apa pun atas dirimu. Bukankah awalnya bagi kita, semua ini hanya permainan? Harusnya, tak perlu ada yang sakit hati dalam sebuah permainan. Harusnya semua merasa puas, bukannya menjadi buas. Berdua memang masih terasa menyenangkan. Namun, tidakkah bertiga terasa terlalu sesak? Harus ada yang menyingkir. Dan kesempatan bukan milik orang yang terlambat.

Kuputuskan saat itu meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Menghilang tanpa meninggalkan sesuatu yang manis untuk kau kenang. Ini lebih memudahkan untuk kita berdua.

Entah, mengapa semua yang terjadi di antara kita serba terlambat. Kata orang, cinta tidak pernah salah. O, yeah. I agreed. Tapi, tolong, tambahkan, sayangnya, ia bisa datang terlambat.

Maaf,

aku datang terlambat,

dan pergi tanpa pamit.

Maaf:

untuk semua yang terlambat.

 

*) tulisan ini dimuat di buku ‘Kepada Cinta’ terbitan GagasMedia bersama 9 penulis lainnya dan 25 pemenang sayembara menulis GagasMedia 

 

 

 

cinta.

Author: tigabelas
21.06.2009

cinta.

hanya itu kata yang ingin aku bilang kepadamu,
hari ini.